Sebelum Islam menyebar di tanah Banjar, masyarakat terdahulu menamai dengan Upacara Mangarani Anak. Upacara ini dimulai setelah proses kelahiran selesai. Dalam adat Banjar terdapat beberapa ritual setelah bayi lahir. Di antaranya adalah proses mengubur tembuni. Bayi yang baru lahir meninggalkan tembuni, bagi keluarga si bayi tembuninya ditaruh dalam bungkusan upih (pelepah daun pisang), kemudian dimasukkan ke dalam bakul bamban atau sekarang banyak digunakan pasu terbuat dari tanah liat.

Ke dalam tembuni itu dimasukkan sedikit garam maksudnya supaya dewasa nanti berlidah asin, perkataannya berharga, berwibawa, diturut dan dihargai orang. Bakul atau pasu, lazim disebut kapit, ditanam dalam tanah, di atas onggokan tanah tembuni tersebut dipancangkan sepotong buluh atau bambu kecil, maksudnya agar pernafasan bayi baik. Karena menurut anggapan sebagian masyarakat sukubangsa Banjar selama tembuni yang ditanam itu belum busuk, maka masih ada hubungannya dengan bayi.

Bayi yang baru lahir sehabis dimandikan dan dikenakan pakaian yang bersih dan bagus, pada bibirnya dicicipkan gula atau madu, mengecap kemanisan dunia maksudnya agar kelak bermulut manis. Sebelumnya oleh ayah si bayi dikumandangkan azan, agar kelak menjadi pemeluk agama (Islam) yang baik.

Selama tangkai pusatnya belum tanggal, bayi tersebut terus diasuh secara berganti-ganti oleh keluarganya. Dalam masa pengasuhan itu dibacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maksudnya diasuh dengan cara demikian itu adalah supaya bayi terhindar dari gangguan makhluk halus yang jahat. Selain itu sekaligus pula merupakan pengisian jiwa kerohanian untuk si anak.

Upacara mangarani anak (memberi nama) dapat dijumpai pada sukubangsa Banjar di Kalimantan Selatan. Pemberian nama kepada anak yang baru lahir dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan oleh bidan (dukun beranak) yang membantu persalinan, yaitu ketika pemotongan tangking (tangkai/tali) pusat. Pada saat itu oleh bidan diberi nama sementara yang diperkirakan cocok buat nama si anak.

Pada waktu pemotongan tangkai bayi itu pula dilantakkan (dimasukkan) serbuk rautan emas atau intan lantakan ke dalam lobang pangkal pusatnya. Semua itu dilakukan dengan maksud agar si anak kalau sudah dewasa memiliki semangat keras, dan bisa hidup berharga seperti emas dan intan.

Setelah perkembangan Islam di daerah Kesultanan Banjar, maka dilaksanakan upacara pemberian nama secara resmi yang disebut batasmiah (tasmiah). Pemberian nama secara resmi pada tahap kedua ini adalah untuk memantapkan nama si anak. Jika ada nama pemberian keinginan kakek neneknya, maka nama itulah yang diberikan kepada si anak. Tetapi jika orang tuanya memiliki pilihan sendiri, maka pada upacara tasmiah itu disebutkan namanya. Kadang-kadang dalam menentukan nama anak ini sering pula meminta bantuan orang alim atau yang disebut tuan guru (ulama).

Pada upacara pemberian nama ini diadakan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh seorang Qari. Pembacaan ayat-ayat suci al qur’an ini dimaksudkan agar sejak kecil sang bayi sudah mengenal Al Qur’an yang merupakan kitab suci dan panduan bagi kehidupan. Dengan harapan kehidupannya akan sesuai dengan norma-norma yang terkandung dalam kitab suci Al Qur’an.

Setelah pembacaan ayat Al Quran tersebut, diteruskan dengan peresmian nama anak yang dilakukan oleh tuan guru atau pemuka agama yang dipilih untuk itu. Begitu pemberian nama selesai diucapkan, rambut si anak dipotong sedikit, pada bibirnya diusapkan garam, madu dan air kelapa.

Si anak yang baru diberi nama tersebut oleh ayahnya dibawa berkeliling untuk ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Tapung tawar diberikan oleh beberapa orang tua yang hadir dalam upacara tersebut (terutama kakeknya) dengan disertai doa untuk si anak. Saat kini anak dibawa berkeliling sambil ditapungtawari oleh undangan, diiringi dengan pembacaaan syair-syair maulid Alhabsyi. Saat ini untuk acara batapung tawar, minyak baboreh bergeser digantikan dengan minyak wangi.

Dokumentasi acara batasmiah cucu Sultan Khairul Saleh, Gusti Fayed Hidayat bin Pangeran Dhia Hidayat. Prosesi pemberian nama dipimpin oleh Mufti Kesultanan Banjar.