Mayor GM Verspyck adalah Panglima Tentara Belanda dalam kawasan Afdeeling Borneo (Kalimantan) Selatan dan Timur (termasukKalimantan Tengah sekarang). Sang perwira kolonial ini baru saja menggantikan kedudukan Kolonel Augustus Johannes Andressen pada serah terima jabatan tanggal 21 Oktober 1859. Andressen harus diganti segera, karena dia dinilai lemah menghadapi peristiwa pecahnya Perang Banjar pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari.

Dengan besluit Gouverneur Generaal di Betawi (Jakarta) Andressen menyerahkan jabatan itu tanpa promosi, padahal dia telah berpengalaman pada perang di Sumatera Barat dan Montrado di Kalimantan Barat.

Berganti atau tidaknya pejabat pemerintahan atau penguasa militer Belanda tersebut sebagai aparat kolonial, mereka tetap melaksanakan politik divide et impera, yaitu politik memecah belah dan menguasai, suatu sistem penjajahan yang sudah berakar sejak Belanda menjejakkan kakinya di bumi Indonesia.

Resident FN Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintahan Afdeeling Borneo Selatan dan Timur yang berkedudukan di Banjarmasin bersama Verspyck harus berpikir keras menghadapi perlawanan Pangeran Antasari, Demang Leman dan para pemimpin pejuang lainnya. Kawasan tanah Banjar memang sudah tidak aman lagi bagi Belanda.

Dalam mengantisipasi perlawanan rakyat yang timbul di berbagai daerah Banjar, Verspyck menjalankan tindakan keras yang tidak terpuji. Dengan mengerahkan anak buahnya dia menangkapi rakyat yang tidak berdosa, membunuh, membakar rumah-rumah orang kampung, merusak sawah dan kebun-kebun pribumi. Tindakan tanpa perikemanusiaan itu terjadi di daerah-daerah Benua Lima, Barito, daerah Banjar dan lain-lain.

Pangeran Hidayatullah yang telah meninggalkan jabatan Mangkubumi dari Kerajaan Banjar, turun ke pedalaman sebagai figur pimpinan yang penuh wibawa, bersama-sama dengan Pangeran Antasari dan Demang Leman, membakar semangat rakyat untuk melawan lebih keras terhadap Belanda. Dalam suatu pertemuan rahasia tiga tokoh pemimpin ini bersama para pemimpin lainnya, memutuskan untuk meningkatkan kekuatan perlawanan dengan mempelajari kondisi daerah yang cukup luas, penetapan pimpinan sektor wilayah, taktik strategis, kemampuan persenjataan dan sebagainya.

Begitulah peningkatan kekuatan perlawanan, antara lain Demang Leman untuk daerah Kandangan, Jalil untuk daerah Benua Lima, Tumenggung Surapati untuk daerah Tanah Dusun, sementara Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari dapat berpindah-pindah, sesuai dengan kondisi kedua tokoh ini diperlukan. Peningkatan perlawanan ini memang berhasil, karena patroli Belanda di mana-mana sering disergap, dibunuh dan senjatanya dirampas. Patroli Belanda itu sering lengah, karena termasuk tentara sewaan. Sementara para pejuang dengan sangat lihai mempergunakan senjata panah beracun, tombak, mandau atau, parang bungkul dengan senjata api yang sangat terbatas, namun mereka adalah para pejuang berani dan militan.

Penipu, tertipu

Onrust adalah kapal perang Belanda yang terbesar dari beberapa kapal lainnya yang dipergunakan penguasa kolonial tersebut dalam menyerang atau mengantisipasi perlawanan pejuang rakyat Banjar. Kapal-kapal perang seperti Boni, Selebes, Suriname, Arjuna, Montrado, Van Os, Cipanas dan Onrust merupakan sarana yang handal bagi Belanda dalam rangka menggempur perlawanan rakyat Banjar.

Kapal-kapal itu selalu berpatroli di perairan Kalimantan, antara lain menggempur Benteng Tabonio daerah Selatan, pertahanan rakyat di Pulau Petak, Sabuhur, sepanjang sungai Barito, sungai Negara sampai ke hilir Alabio.

Pada tanggal 14 November 1859 kapal Onrust memudiki sungai Besarang yang dihadang oleh pasukan Pembekal Sulil. Namun nasib malang bagi pejuang ini, ketika pejuang ini sedang menyiapkan tembakan na dia tertembak dan gugur dalam pertempuran itu. Pimpinannya diambil alih segera oleh Suta Kiai Wangsa Nata.

Tanggal 26 Desember 1859 kapal Onrust yang tangguh itu berada di atas perairan sungai Ranito. Sekali ini dalam rangka rencana pertemuan prendekatan dengan Tumenggung Surapati. Mengapa dengan Surapati?

Oleh Belanda, figur Sunapati dapat dianggap sebagai seorang yang dapat dipercaya untuk membujuk Pangeran Antasari dan mempertemukannya untuk berunding dan menangkapnya. Surapati telah dikenal oleh Letnan Bangert pada tahun 1857 dalam suatu pertemuan ramah-tamah Civil Gezaghebber dan Komandan Militer Marabahan bersama Stuurman Kapal Cipanas JJ. Meyer dan para pejabat militer lainnya.

Kapal Onrust dipimpin oleh Komandan Van der Velde bersama Letnan Bangert, Opsir Van der Kop, Van Persetel, lengkap dengan pensonil tentara Belanda serta beberapa puluh orang anak buah kapal lainnya. Dengan sikap dan perilaku penuh keangkuhan serta bangga Van der Velde dan Letnan Bangert, berdiri di geladak kapal Onrust mengarungi Sungai Barito dan tiba di kampung Lontontor, sebuah desa antara Muara Tewe dengan Buntok.

Kampung Lontontor dipilih sebagai tempat perundingan yang disepakati sebelumnya dari kedua belah pihak. Kedua tokoh pimpinan militer Belanda itu begitu yakin akan keberhasilannya menangkap Pangeran Antasari dengan memperalat Surapati.

Tidak berapa lama perahu besar Surapati datang yang dikawal oleh orang anak buahnya, yang segera disambut oleh Van der Velde dan Bangert dengan sangat ramah-tamah. Surapati dipersilahkan memasuki ruangan kapal Onrust yang didampingi oleh 5 orang pengawalnya, termasuk menantunya sendiri. Anak buah Surapati lainnya diterima para opsir Belanda itu di ruangan atas. Perundingan berjalan lancar dengan perjanjian bahwa Surapati akan mendapat sejumlah barang berharga dan mengangkatnya sebagai Pangeran dan memperlihatkan sebuah Surat Keputusan yang sudah ditandatangani Penguasa Militer Belanda.

Kendatipun wajah Surapati tampak begitu serius dengan perundingan tersebut, namun batinnya tidak bergeming dipatahkan dengan sekadar gelar Pangeran dan sejumlah benda berharga. Dalam benak Surapati terbayang sekian banyak rakyat yang dibunuh secara kejam oleh kaki tangan kalonial tersebut, betapa banyak rumah rakyat yang dibakar, sawah dan kebun dirusak.

Surapati tidak tega hatinya berhianat dalam penjuangan dan masih terdengar dan telinga-hatinya rintihan tangis ibu dan anak yang kehilangan suami dan ayahnya yang tewas dibunuh oleh aparat penjajah itu.

Di hulu Lontontor telah menunggu beberapa perahu yang terbuka yang berdekatan dengan kapal Onrust. Perahu-perahu itu penuh dengan anak buah Surapati yang di antaranya sebagian adalah suku Dayak dengan senjata mandaunya. Van den Velde dan Bangert rupanya tidak dapat membaca situasi kehadiran beberapa perahu terbuka yang berada di hulu kapal Onrust. Bukankah itu berarti siap tempur?

Kedua pimpinan Belanda tersebut sudah membayangkan keberhasilannya akan menangkap Pangeran Antasari dan tentu dari kesuksesannya itu dia akan dipromosikan oleh Verspyck mendapat kenaikan pangkat dan jabatan.

Begitu perundingan selesai dan Surapati dipersilakan melihat-lihat persenjataan meriam yang begitu ampuh, perahu-perahu dari hulu mendekati kapal Onrust.

Gusti Lias dan Ibon anak Surapati naik ke kapal Onrust dan pada detik-detik yang tampak santai tapi waspada, tiba-tiba terdengar teriakan “…Amuuuuk!

Surapati dengan secepat kilat menghunus mandaunya dan langsung mengarahkan sasarannya ke tubuh Van der Velde. Sang komandan yang angkuh itu tewas berlumuran darah.

Ibon, anak Surapati sambil berteriak ‘amuuuk” mencabut mandaunya dan dengan tangkas memarangkan senjatanya ke tubuh Letnan Bangert, Bangert tersungkur bersimbah darah dan langsung mati. Para Opsir dan tentara Belanda di kapal itu ternyata kewalahan menghadapi perlawanan pasukan Surapati. Bahkan di antaranya ada yang lari dan lupa mereka berada di atas kapal, terjun dan tenggelam, sementara yang timbul di atas air dengan mudah dibunuh oleh anak buah Surapati.

Perkelahian fisik yang berdekatan di kapal Onrust itu tergambar sebagai suatu drama heroik yang paling gemilang bagi para pejuang. Perkelahian seru berlangsung sangat lama dan musuh mandi darah.

Ruang kapal Onrust bersimbah darah dan sungai Barito tercemar warna merah karena jasad 50 orang militer bangsa Belanda dan 43 orang anak buah kapal yang menemui ajalnya dengan mengenaskan. Hanya seorang di antara anak buah kapal itu yang selamat dan berhasil lolos dari maut, dia yang susah payah melaporkan peristiwa naas itu ke Banjarmasin

Tamatnya riwayat Onrust

Begitu seluruh personil militer Belanda dan anak buah kapal Onrust itu menemui ajalnya, seluruh persenjataan, meriam, peluru, senapan, pistol dan amunisi lainnya disita oleh anak buah Surapati: Kapal Onrust yang dibanggakan Belanda itu dihancur, ditenggelamkan ke dasar Barito dan tamatlah riwayat Onrust.

Hancurnya kapal perang Onrust dengan 93 orang korbannya merupakan suatu pukulan dan sangat memalukan bagi penguasa Belanda, karena sebelumnya mereka sangat membanggakan kehandalan Onrust dan personilnya. Mendung hitam berarak di atas keresidenan Banjarmasin karena Nieuwenhuyzen, Verspyck serta sekian jumlah pejabat dan orang-orang terkemuka bangsa Belanda dan Eropah lainnya gagal merayakan Tahun baru dan mengagungkan Mahkota Ratu pada tanggal 1 Januari 1860.

Suasana sendu dan sedih tampak membias di wajah aparat kolonial itu, mengenang 93 orang militer dan anak buah kapal bersama Onrust terkubur tragis di perut Barito. Sementara itu mentari yang cerah di atas Lontontor seakan-akan mengucapkan slogan yang heroik: “Selamat atas keberhasilan para pejuang dalam menegakkan keadilan”.

(Pangeran Antasari dan Meletusnya Perang Banjar – Datu Mangku Adat Syamsiar Seman)