Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah

Di Kota Tanjung, Kabupaten Tabalong, 5 Januari 1964 yang lalu, lahir seorang anak laki-laki pasangan H Gusti Jumri dan Hajjah Kartinah, yang diberi nama Gusti Khairul Saleh.

Tidak ada yang menyangka sebelumnya bahwa, 19 Syaban 1383 H ini, akan menjadi hari lahir salah satu pemimpin daerah di Kalimantan Selatan. Terbukti 41 tahun kemudian Gusti Khairul Saleh meraih pucuk pimpinan di sebuah kabupaten yang diberkahi oleh lahirnya ulama-ulama besar di Kalimantan Selatan, termasuk tempat lahirnya ulama besar dunia Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ya, Kabupaten Banjar yang berjuluk Kota Serambi Mekkah menjadi ladang pengabdian Gusti Khairul Saleh yang sejak tahun 2005 menjabat sebagai Bupati.

Riwayat Pendidikan:

  • Sekolah Dasar Telaga Biru Banjarmasin 
  • ST Negeri Banjarmasin 
  • SMP Negeri Kelua 
  • STM Negeri Banjarmasin 
  • Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 
  • Pasca Sarjana STIE IPWI Jakarta 

Pada tahun 1992, Gusti Khairul Saleh mengawali kariernya dalam politik melalui birokrasi Kota Banjarmasin dengan mendaftarkan diri menjadi Calon Pegawai Negara Sipil (CPNS) di Departemen Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin. Setelah diterima dan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin, Gusti Khairul Saleh diangkat oleh Wali kota Banjarmasin untuk menjadi Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum pada tahun 2001-2002.

Melihat kemampuan Gusti Khairul Saleh dalam pembangunan infrastruktur Kota Banjarmasin, dengan waktu yang relatif singkat (kurang lebih satu tahun), Wali kota Banjarmasin kemudian mengangkat Gusti Khairul Saleh menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin pada tahun 2002 sampai 2005.

Riwayat Jabatan di Pemerintahan:

  • Wakil Kepala PU Kota Banjarmasin
  • Kepala PU Kota Banjarmasin
  • Bupati Banjar selama dua periode dari tahun 2005 – 2015
  • Anggota DPR RI tahun 2019 – 2024

Satu yang pasti adalah Gusti Khairul Saleh memikul tanggung jawab sebagai seorang keturunan Kerajaan Banjar sejak lahir. Darah pagustian mengalir deras dari sang ayah yang juga menyandang gelar gusti dari trah Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman. Dan tidak ada satu pun di dunia fana ini yang tercipta tanpa kesengajaan, tanpa rencana besar dari sang Khalik. Dan bukan kebetulan pula kalau Kabupaten Banjar, tempat di mana Gusti Khairul Saleh terpilih sebagai pemimpin adalah juga pusat Kerajaan Banjar sekitar 150 tahun silam.

Prestasi saat menjabat sebagai Bupati Banjar

Pada tahun 2005, Sultan Khairul Saleh berpasangan dengan Tuan Guru H. Hatim Salman, Lc, terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banjar periode 2005-2010. Keberhasilan Bupati Banjar periode satu ini tampak dalam pengelolaan keuangannya, di mana APBD Banjar menembus angka lebih dari Rp300 miliar dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) mencapai sekitar Rp13,7 miliar.

Adapun salah satu program Sultan Khairul Saleh selama menjabat sebagai Bupati Banjar periode satu adalah program Sanitasi oleh Masyarakat (Sanimas). Sanimas merupakan program sanitasi dari pemerintah melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di lingkungan permukiman padat dan kumuh di perkotaan.

Program PDAM/El-Nino, program tahap III (2004-2005), bertujuan meningkatkan kapasistas suplai air baku menjadi 1.875 lt/det dengan pekerjaan pengadaan dan pemasangan transmisi Ø 800 mm sepanjang 7.800 meter dan pembangunan IPA 500 lt/dt di Sungai Tabuk.

Program Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Program ini dirancang sebagai upaya peningkatan komoditas karet di Kabupaten Banjar. Karet sebagai komoditas perkebunan rakyat menjadi sumber daya ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Investor di bidang perkebunan menunjukkan peningkatan yang cukup baik, mengingat luasnya perkebunan karet yang terus berkembang. Rata-rata produksi komoditas karet di Kabupaten Banjar pada lima tahun terakhir (2005-2010) 114.822,23 kwintal per tahun.

Keberhasilan pembangunan pendidikan di Kabupaten Banjar periode 2005-2010 dapat dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Rasio-Rasio Sekolah serta guru pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Sejak tahun 2008 pemenuhan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD dapat direalisasikan. Pada tahun 2010 proporsi anggaran pendidikan sudah berkisar lebih dari 30% dari APBD Kabupaten Banjar.

Pembangunan infrasturktur terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banjar untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dan mobilitas barang dari pusat-pusat produksi ke tempat konsumen. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banjar dari panjang jalan kabupaten mencapai 721,73 km pada tahun 2005 kondisi jalan cukup baik mencapai 98,88 km, tahun 2006 meningkat menjadi 124,55 km, tahun 2007 dan 2008 kondisi jalan yang baik mencapai 153,20 km, sedang tahun 2009 menjadi 360,60 km.

Pada periode kedua kepemimpinannya bersama Dr. H. Ahmad Fauzan Saleh, pembangunan Kabupaten Banjar semakin pesat. Hasil-hasil pembangunan fisik dan non-fisik berjalan pesat dan berhasil mengalami peningkatan dari sebelumnya dilihat dari berbagai indikator.

Pembangunan tersebut meliputi kualitas infrastruktur jalan dan jembatan dengan dibangunnya kawasan perdesaan yang dihubungkan oleh jalan-jalan poros desa. Perubahan bahan dasar jembatan yang semula dari kayu ulin, perlahan tetapi pasti kini menjadi kontruksi modern dengan baja maupun beton.

Pada tanggal 24 Juli 2010, berdasarkan hasil Musyawarah Tinggi Adat, Gusti Khairul Saleh dianugerahi gelar Pangeran sehingga nama beliau resmi menjadi Pangeran Khairul Saleh. Perubahan nama ini menjadikan nama beliau dalam dokumen-dokumen resmi negara juga ikut berubah. Sehingga pada periode kedua kepemimpinan sebagai Bupati Banjar nama yang resmi dipakai adalah Pangeran Khairul Saleh.

Pada tanggal 12 Desember 2010 atau 6 Muharam 1432 H bertepatan dengan digelarnya acara Puncak Milad ke-507 yang menandai bangkitnya Kesultanan Banjar, Pangeran Khairul Saleh dinobatkan sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar.

Infrastruktur lainnya ialah pembangunan kantor pemerintahan khususnya Kantor Kepala Desa atau disebut juga Kantor Pembakal, mengingat pentingnya pemerintahan Desa sebagai ujung tombak pelayanan Pemerintah Daerah. Selain itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan-pelayanan dasar lainnya, Pangeran Khairul Saleh terus memacu dengan meningkatkan kualitas pembangunan puskesmas, poliklinik desa, sekolah, dan prasarana pendidikan lainnya.

Pembangunan terus dilakukan, berbagai prasarana dengan skala cukup besar seperti Gedung Dekranasda, Guest House Sultan Sulaiman, dan melanjutkan pembangunan RSUD Ratu Zalecha sebagai rumah sakit rujukan, pembangunan Gedung Iqra sebagai tempat pengkajian Al-Quran dan syiar Islam, pembangunan Taman Terbuka Hijau atau Alun-alun Ratu Zalecha sebagai salah satu bentuk upaya perbaikan lingkungan hidup dan penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga masyarakat Martapura.

Target nasional seratus hari kerja dalam pembuatan program e-KTP pada masa jabatan Khairul Saleh dapat terpenuhi. Di dalam proses pembuatannya, Bupati Banjar menginstruksikan semua aparat terlibat menangani e-KTP.

Pada tanggal 25 November 2012, Raja Muda Pangeran Khairul Saleh secara resmi dinobatkan sebagai Sultan Banjar dan berhak atas gelar Yang Mulia Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah. Penyebutan sultan adalah sebagai gelar di depan nama beliau. Sehingga nama Pangeran Khairul Saleh ditambahkan gelar sultan maka cukup dituliskan Sultan Khairul Saleh saja, Ini disebabkan jabatan atau gelar sultan otomatis dipegang oleh seorang pangeran.

Sultan Khairul Saleh juga membangun Stadion Sepak Bola Demang Lehman yang berstandar nasional. Setelah berdirinya stadion tersebut, Banjar dipercaya untuk menjadi Home Base Barito Putera FC pada pelaksanaan laga Indoneia Super League (ISL) 2013. Peresmian Stadion Demang Lehman dilakukan langsung oleh Sultan Khairul Saleh pada hari Jumat tanggal 18 Januari 2013.

Sultan Khairul Saleh sadar betul bahwa memilih Kabupaten Banjar adalah merupakan keniscayaan untuk berjuang dan mengabdi. Kota yang hidup dalam napas ke-Islaman yang kental, kearifan budaya dan tradisi Kerajaan Banjar. Kota para aulia sekaligus kota para Raja Banjar ini harus dapat menjadi kota yang lebih maju dan sejahtera dengan landasan Islam. Begitulah Sultan Khairul Saleh memilih motto pembangunan “Baiman, Bauntung dan Batuah”.