Hari bersejarah itu terjadi pada Sabtu 24 Juli 2010 di Hotel Arum Banjarmasin. Musyawarah Tinggi Adat menganugerahkan gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan Banjar kepada Gusti Khairul Saleh. Putra sulung dari pasangan Gusti Jumri dan hj Kartinah itu resmi menyandang gelar hirarki tertinggi di Kesultanan Banjar pasca pembubaran sepihak oleh penjajah Belanda di tahun 1860. Gelar ini juga sebagai penyambung pemerintahan Pegustian setelah berakhir di tahun 1900-an.

Gusti Khairul Saleh yang secara resmi dan sah menyandang gelar Pangeran adalah keturunan bangsawan Banjar dari trah Pangeran Abu Bakar bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman.

Sebelum berkomitmen menghidupkan kembali Kesultanan Banjar, jauh sebelum itu Pangeran Khairul Saleh telah aktif dan gigih dalam usaha menghidupkan kembali Yayasan Sultan Adam. Beliau menganggap upaya pelestarian budaya dan sejarah Banjar sebagai pelajaran berharga untuk anak sucu kelak.

Ketika diumumkan hasil musyawarah pada tahun 2010 yang memilih beliau sebagai Raja Banjar, Pangeran Khairul Saleh tidak langsung setuju. Bahkan beliau sempat mengusulkan kepada Musyawarah Tinggi Adat untuk memilih sejumlah tokoh atau juriat lain yang lebih layak, di antaranya adalah Gusti Muhammad Hatta (Menteri Lingkungan Hidup), Gusti Farid Hasan Aman (anggota DPD RI), Gusti Iskandar (anggota DPR RI), dan Gusti Perdana (anggota DPRD Kalsel). Orang-orang tersebut mempunyai kedudukan terhormat di pemerintahan.

Usulan nama-nama itu sangat dihargai oleh Musyawarah Tinggi Adat, namun pada akhirnya hasil musyawarah meminta Gusti Khairul Saleh untuk menerima gelar Pangeran dan bersedia dinobatkan sebagai Raja Banjar.

Pada hari itu, Gusti Abidinsyah yang bertugas memimpin sidang Musyawarah Tinggi Adat menyampaikan keinginan peserta musyarawah agar Gusti Khairul Saleh menerima amanah tersebut. Sesaat suasana hening, para peserta musyawarah dengan wajah penuh harap menunggu reaksi beliau. Karena terasa agak lama belum ada jawaban persetujuan dari Gusti Khairul Saleh.

Namun beberapa saat kemudian suasana segera cair setelah Gusti Khairul Saleh mengganguk perlahan. Tanggapan itu langsung disambut suka cita oleh puluhan hadirin. Beliau menyatakan bangkitnya kembali Kesultanan Banjar tidak dimaksudkan untuk menghidupkan budaya primodialisme dan feodalisme. Tujuannya lebih kepada upaya melestarikan nilai-nilai luhur Kesultanan Banjar yang semakin hari semakin tergerus modernisasi.

Selain itu, kebangkitan Kesultanan Banjar ini jangan selalu dihubungkan dengan politik karena itu hanya akan merusak usaha-usaha pelestarian budaya Banjar yang telah lama dibangun. Melestarikan budaya adalah kewajiban anak bangsa.