Mengutip buku Pegustian dan Temenggung karya Datu Cendikia Hikmadiraja Helius Sjamsuddin, istilah pegustian sebenarnya agak luas dan kabur. Meskipun demikian paling tidak istilah ini digunakan dalam patron-client; dan istilah kehormatan yang ditujukan kepada Panembahan Muhammad Said (wafat 1875) dan Sultan Muhammad Seman (bertahta 1862-1905), keduanya adalah putra dari Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amiruddin Khalifatuh Mukminin.

Pembentukan kata pegustian berasal dari gelar gusti, yang berarti putra atau putri dari seorang Pangeran. Pegustian berarti juga penguasa, tuan, atau raja. Dalam bahasa Banjar misalnya, “sidin itu pegustian ulun,” dapat juga berarti “beliau itu penguasa, tuan, atau raja dari hamba.”

Secara teoritis, seorang Pegustian harus menyediakan bagi rakyat atau pengikutnya beberapa kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan perumahan. Ia memberikan rakyatnya perlindungan atas jasa atau kepatuhan mereka.

Tipe interaksi ini dikembangkan oleh Sultan Muhammad Seman secara maksimal sesuai dengan kapasitasnya sebagai pemimpin perlawanan terhadap kolonialisme. Ia menjadi penguasa tunggal yang legitim dan kepala dari bubuhan Antasari. Kemudian namanya menjadi identik dengan Pegustian itu sendiri.

Pembentukan formal dari Pegustian terjadi setelah Panembahan Antasari wafat bulan Oktober 1862, meskipun kenyataannya Pegustian itu telah dimulai ketika Pangeran Antasari dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin di bulan Maret 1862. Penobatan ini juga berarti meneruskan kepemimpinan dari Kesultanan Banjar sebelumnya yang terakhir dipimpin oleh Sultan Hidayatullah.

Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin secara terjemah kata per kata adalah Panembahan berarti penguasa, Amiruddin berarti panglima, Khalifatul Mukminin berarti pemimpin kaum muslimin. Gelar Panembahan dan Sultan juga diberikan kepada dua anak kandung Pangeran Antasari.

Gelar Panembahan diberikan kepada Gusti Muhammad Said karena ibunya, Ratu Antasari mempunyai darah Raja Banjar. Sedangkan gelar Sultan diberikan kepada Gusti Muhammad Seman karena ibunya, Nyai Fatimah adalah saudara kandung Temenggung Surapati.

Temenggung Surapati memiliki pertalian darah dari Kepala Suku Bakumpai dan Kepala Suku Siang. Pangeran Antasari menganugerahkan gelar Pangeran Dipati yang berarti Surapati telah diterima sebagai salah seorang Pangeran/Bangsawan Banjar.

Melalui perkawinan dengan saudara perempuan Temenggung Surapati, Nyai Fatimah dengan Pangeran Antasari maka Surapati mengganggap Antasari dan anak keturunannya adalah bagian dari bubuhannya.

Bubuhan sendiri dikenal umum baik oleh orang Banjar maupun orang Dayak Lawangan dan Dusun. Orang Ngaju menyebut Panakan dan orang Siong Maanyan menyebutnya Erai Kabubuhan atau Bumuh, yang semaksud dengan istilah bubuhan.

Dalam memimpin Pegustian, Sultan Muhammad Seman merekrut pengikut dari berbagai kalangan. Pertama dari keluarga Pangeran Antasari sendiri para sepupu dan keponakan. Kedua adalah dari keluarga Temenggung Surapati sebagai pihak dari ibu kandungnya. Ketiga adalah dari suku-suku Dayak (Bakumpai, Siang, Murung, di Dusun Hulu. Ditambah Ot Danum di Kahayan Hulu dan Kapuas Hulu). Keempat adalah dari para pengikut setia Kesultanan Banjar dan golongan Islam fanatik di Amuntai, Kelua, Kandangan, Martapura.

Dalam meluaskan pengaruh Pegustian, Sultan Muhammad Seman mempunyai beberapa istri, yaitu Nyai Banun dari Amuntai (melahirkan Pangeran Banjarmas) dan Nyai Mariamah (melahirkan Gusti Berakit). Dari suku Dayak beliau mempunyai istri anak Kepala Suku Ot Danum Temenggung Lunjan di Kahayan Hulu dan seorang lagi istri dari anak Kepala Suku Ot Danum Temenggung Nyaring.

Ketika Sultan Muhammad Seman melanjutkan Kesultanan Banjar dan memimpin Pegustian, pemerintah kolonial Belanda mengolok-olok dan menganggap jabatan Sultan Banjar adalah ketinggalan zaman dan tindakan pengulangan peristiwa lama karena Kesultanan Banjar telah dihapuskan oleh mereka pada tahun 1860. Akan tetapi bagi para pengikut setia dan simpatisan, Sultan Muhammad Seman adalah seorang Raja, Sultan, atau Pegustian itu sendiri.