Pangeran Khairul Saleh dinobatkan sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar pada 12 Desember 2010. Penobatan dihadiri oleh Ketua Forum Silaturahim Kesultanan Nusantara Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Tedjowulan. Bersamaan acara penobatan ini Sultan melantik sejumlah Pangeran dan Pemangku Adat dalam berbagai aspeknya. Ini merupakan momentum bersejarah, tidak saja bagi Pangeran Khairul Saleh sekeluarga, para pangeran dan pagustian, juga bagi masyarakat Banjar di mana saja berada. Ada suatu kegembiraan sekaligus harapan, kejayaan Kesultanan Banjar akan bangkit kembali. Dan mata rantai yang terputus bersambung kembali.

Sewaktu masih kanak-kanak, orang tua dan datuk nenek kita sering bercerita tentang Kesultanan Banjar. Tentang keadilan para raja (sultannya), tentang kedekatannya dengan para ulama dan rakyat jelata, serta keberanian para sultan dan pangeran berkonfrontasi dengan penjajah Belanda. Pascaruntuhnya Kesultanan Banjar, yang melanggar waktu ratusan tahun, berakibat kita sulit merekonstruksi sejarah Kesultanan Banjar itu seperti apa. Bahkan ada sebagian orang bertanya, benarkah Kesultanan Banjar itu pernah ada.

Mengacu kepada cerita dari mulut ke mulut, benda cagar budaya dan pusaka plus sedikit literatur, tentu kita tidak ragu, Kesultanan Banjar itu benar-benar eksis di masa lalu. Untuk memahaminya di sini ditulis kehidupan para sultan dahulu, terutama dari sisi religiusitas (keberagamaannya).

Pendukung Dakwah

Begitu Pangeran Samudra atau Sultan Suriansyah (1520-1550) sekeluarga masuk Islam, Kesultanan Banjar langsung berperan aktif sebagai pendukung dakwah Islamiyah. Hal itu terlihat di hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar, di situ mayoritas rakyatnya beragama Islam. Berarti para sultan sangat berperan dalam menyukseskan dakwah.

Ujung tombak dakwah biasanya para ulama. Tetapi dakwah baru akan sukses apabila mendapat dukungan penuh dari penguasa. Sebagaimana penyebaran Islam di daerah lain, sebelum Islamnya Pangeran Samudra sekeluarga, sebenarnya Islam sudah mulai tersebar, terutama di pesisir pantai dan pinggiran sungai, yang disebarkan oleh para pedagang Arab, India dan Jawa. Hanya saja ketika itu mungkin dakwah berjalan lambat, belum terbuka, sebab belum ada power dan dukungan dari penguasa. Ketika penguasa mendukung, dalam hal ini Raja Banjar masuk Islam, maka agama ini pun berkembang pesat, sebab dalam masyarakat paternalistik, rakyat suka meniru jejak rajanya. Hal ini relevan dengan ungkapan Imam al-Ghazali: Agama akan kuat dengan dukungan negara, dan negara akan lestari dengan dukungan agama.

Sebelum pendidikan Islam maju seperti sekarang, tentu ulama dan juru dakwah masih langka. Jumlahnya dapat dihitung jari. Di daerah Rantau Tapin Kandangan  ada Datu Sanggul, di Paringin dan Amuntai ada Datu Kandang Haji dan di Kelua-Tabalong ada Datu Muhammad Nafis.

Para Sultan Banjar menyadari kelangkaan itu. Itu sebabnya para sultan mendorong calon ulama untuk mendalami ilmu agama, kalau perlu sampai ke luar negeri. Salah satu di antaranya adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang diangkat anak oleh Sultan Tahlilillah, kemudian disekolahkan ke tanah suci oleh Sultan Tamjidillah I. Sepulang menuntut ilmu, Syekh Muhammad Arsyad aktif berdakwah yang dipusatkan di Dalam Pagar Martapura. Ke sanalah para penuntut ilmu agama berdatangan. Selain dari Martapura juga dari Banjarmasin, Nagara dan daerah Hulu Sungai.

Guna melakukan percepatan penyebaran agama, Syekh Arsyad menganjurkan agar anak cucu dan para muridnya menyebar ke berbagai pelosok dan melakukan perkawinan silang dengan penduduk subetnis Banjar lainnya hingga suku Dayak dan Cina.  Dari mereka kemudian lahir para ulama dan juru dakwah serta zuriyat yang sangat banyak.

Memberdayakan Ulama

Para Sultan Banjar juga aktif memberdayakan ulama dan mengoptimalkan pengabdian mereka. Selain memfasilitasi tempat pengajian ulama, para sultan juga mendorong ulama agar aktif membimbing umat secara tertulis. Maka ulama seperti Syekh Muhammad Arsyad didorong untuk menulis buku/kitab sebagai pegangan umat. Mengapa tidak langsung menggunakan kitab-kitab yang berasal dari Timur Tengah, di mana Syekh Arsyad sangat menguasainya. Boleh jadi karena sultan dan Syekh Arsyad melihat ada keberagamaan masyarakat Banjar yang lebih spesifik dan lokalistik, yang tidak selalu sama dengan keislaman di tanah Arab. Berarti cara berpikir sultan dan ulama sangat dinamis dengan memperhatikan realitas sosial rakyatnya.

Maka Syekh Arsyad pun proaktif menulis kitab. Untuk bidang fikih yang sesuai dengan kebutuhan rakyat Banjar beliau menyusun kitab Sabilal Muhtadin. Belakangan kitab ini jadi rujukan muslim Asia Tenggara. Untuk bidang Tauhid/Tasawuf beliau menyusun kitab Tuhfatur Raghibin. Isinya untuk meluruskan kepercayaan umat, yang sebagian masih terkontaminasi dengan kepercayaan pra Islam serta kepercayaan lain yang menyimpang dari ajaran Islam yang sudah mapan.

Ini menunjukkan Sultan juga membangun budaya baca dan tulis. Umumnya urang Banjar masa lalu, bahkan hingga kini, malas membaca dan menulis. Maka Sultan lewat ulama melakukan antisipasi. Ilmu agama tak hanya didengar dari guru ke guru, tetapi juga ditulis dan dibaca melalui kitab, sehingga lebih kuat, berdasar dan tersebar luas.

Ketika Sultan menghadapi adanya ajaran yang dianggap menyalahi kebiasaan, Sultan memintakan fatwa ulama dan melaksanakan saran-sarannya.  Tak hanya itu, Sultan juga bersedia membentuk Mahkamah Syariah di mana para ulama besar dipercaya memegang jabatan strategis sebagai mufti dan qadhi.

Sepanjang sejarah Kesultanan Banjar, baik di era Hindu maupun era Islam  nyaris tidak pernah terjadi pemberontakan oleh rakyat. Kalau pun terjadi gejolak, hanya di sekitar keraton. Hal ini berarti bahwa para sultan dahulu juga cukup adil dan memperhatikan nasib rakyat.

Keluarga sultan terbuka dalam melangsungkan perkawinan. Tidak sedikit rakyat biasa beristri dan atau bersuami dengan keluarga keraton. Ini menunjukkan adanya egalitarianisme dan tidak adanya feodalisme. Hasilnya para gusti tersebar di mana-mana dan membaur di masyarakat. Berbeda dengan kalangan ningrat (bangsawan) di Jawa dan Sumatra, feodalisme itu masih ada, bahkan hingga sekarang. Antara bahasa rakyat dengan bahasa keraton tidak sama.

Sebaliknya pada masyarakat Banjar, tidak ada perbedaan bahasa antara kalangan pagustian dengan jaba. Yang berbeda hanya dialek dan subdialeknya. Ini semua menunjukkan para Sultan Banjar masa lalu sangat memuliakan manusia dan menganggap mereka sama. Agama memang tidak membedakan manusia, kecuali hanya karena ketaqwaannya saja.

Kini dan ke Depan

Bila mengacu sikap dan langkah para Sultan terdahulu, Sultan Haji Khairul Saleh yang dipercaya menduduki Kesultanan Banjar kontemporer perlu melanjutkan hal-hal di atas. Tentunya  dalam konteks kondisi kekinian dan masa depan.

Kalau dulu ulama langka, sekarang sudah banyak. Yang kurang boleh jadi kesejahteraannya. Tidak  salahnya, kalau ada dananya, para ulama dan guru agama, terutama di kampung-kampung lebih diperhatikan. Terutama para guru mengaji (Alquran), perlu sekali ditingkatkan. Saya tidak tahu persis di Kabupaten Banjar, tetapi kalau di Banjarmasin dan beberapa daerah lainnya, banyak sekali guru Alquran yang nyaris mengajar tanpa gaji yang jelas.  Padahal tugas mereka tidak kalah berat dan mulia dibanding guru negeri.

Sebagaimana pesan Mufti Tuan Guru Besar Anang Djazouly Seman (alm), hendaknya Sultan Khairul Saleh melaksanakan syariat, dengan mengacu kepada Alquran dan hadits. Pesan ini sangat mulia dan mendasar. Namun karena cakupan syariat amat luas, dapat dimulai dan ditunjukkan dari hal-hal yang tampak sehari-hari. Seperti dalam hal berpakaian masyarakat Banjar perlu disosialisasikan, bagi yang muslimah alangkah baik semuanya menutup aurat.

Pengamatan kita, masih banyak wanita di Martapura dan sekitarnya yang berpakaian ketat dan kurang Islami, terutama di jalanan dan di pasar. Penulis pernah protes kepada istri yang berasal dari Martapura, mengapa masih banyak wanita di kota Serambi Mekkah tidak menutup aurat. Dia bilang, umumnya orang Martapura selalu menutup aurat, yang suka terbuka dan berpakaian ketat justru  pendatang.

Karena itu kita berpesan kepada warga pendatang, hormatilah jatidiri warga Martapura dalam hal menutup aurat. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kita harapkan kepada para ulama, orang tua dan para suami, juga guru-guru sekolah memperhatikan hal ini. Memang sebagai kota yang semakin metropolis dan terbuka, hal itu sulit direalisasikan, tetapi kalau ada keinginan bersama, juga tidak mustahil. Seperti Aceh, pakaian menutup aurat sudah menjadi kewajiban disertai sanksi bagi pelanggarnya.

Dalam posisinya sebagai Bupati Banjar hingga periode kedua, peran Sultan Khairul Saleh sudah dominan dan banyak melakukan perubahan, termasuk pada bidang keagamaan. Mengembangkan kehidupan beragama, tentu bukan asing bagi Sultan Khairul Saleh.  Saat menjadi Kepala Dinas Kimprasko Banjarmasin, Sultan Khairul Saleh sudah menjadi bendaharawan PW-NU Kalsel, turut mendorong pembelajaran Alquran, dan konsen dengan berbagai aktivitas keagamaan. Dan sebagai Ketua Yayasan Sultan Adam, Sultan Khairul Saleh juga konsen dengan leluhurnya.

Bertambahnya amanah yang dibebankan kepadanya, sebagai bupati sekaligus Sultan Banjar, semua yang sudah dilakukan kita harapkan akan terus meningkat. Kesejahteraan masyarakat meningkat dan hal-hal yang terkait dengan agama, pendidikan dan kebudayaan pun berkembang maju. Dukungan, kerjasama dan kerja keras semua pihak merupakan kata kunci keberhasilan. Kritik dan perbedaan pendapat juga dibutuhkan, tapi semuanya bermuara untuk membangun dan memajukan banua. (18/12/ 2010 – Ditulis oleh Datu Cendikia Ahmad Barjie)