Cita-cita Sultan Khairul Saleh ingin menjadi seorang insinyur bangunan, didukung penuh kedua orangtua. Selepas lulus sekolah dasar tahun 1975, Sultan Khairul Saleh memilih sekolah kejuruan, yang kala itu masih bernama sekolah teknik.

Di Banjarmasin hanya ada satu sekolah teknik negeri saat itu, berada di kawasan Teluk Dalam Jalan Sutoyo S, samping Lembaga Pemasyarakatan. Sultan Khairul Saleh tidak memilih sekolah umum (SMP) karena sejak awal ingin menjadi teknorat. Namun, dalam perjalanannya, Sultan Khairul Saleh hanya sampai kelas 2, karena harus mengikuti sang ayah kembali ke Tanjung yang diterima sebagai pegawai di Instansi Pekerjaan Umum (PU).

Mengingat di tempat kelahirannya saat itu tidak ada sekolah teknik, akhirnya Sultan Khairul Saleh meneruskan pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP), dan lulus tahun 1979. Selepas lulus SMP Sultan Khairul Saleh kembali ke Banjarmasin dan meneruskan pendidikan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan bangunan yang masih satu kompleks dengan sekolah teknik, di Teluk Dalam.

Sejak itu, Sultan Khairul Saleh harus berpisah dengan dengan kedua orangtua. Oleh orangtuanya Sultan Khairul Saleh dititipkan kepada sang paman yang rumahnya berada hanya selemparan batu dari sekolah. Sultan Khairul Saleh menuntaskan pendidikan di STM dan melanjutkan menuntut ilmu lebih tinggi di Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat jurusan Teknik Sipil.

Di masa ini Sultan Khairul Saleh mulai belajar hidup mandiri di rumah orang tuanya di Gang ST. Soal pendidikan Sultan Khairul Saleh selalu berusaha menjadi yang terbaik. Setidaknya dia akan selalu berusaha bisa berhasil di bidang yang digeluti. Misal, ketika di sekolah teknik menengah (STM) –-kini sekolah kejuruan— Sultan Khairul Saleh dikenal andal dalam menggambar. Kepiawaian menggambar diakui temantemannya. Selain rapih dan tuntas sebelum deadline.

Hal ini berlanjut saat menjadi mahasiswa jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. “Kalau menggambar, Sultan Khairul Saleh memang jagonya. Dia sangat teliti, rapih dan hasilnya bagus. Saya dan teman-teman selalu minta tolong kepadanya kalau dapat tugas menggambar,” aku Fajar Desira, rekan Sultan Khairul Saleh di teknik sipil yang pernah menjabat Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin.

Luasnya pergaulan karena tidak memandang status sosial, menjadikan Sultan Khairul Saleh disukai banyak orang. Baik sewaktu duduk di bangku sekolah menengah hingga perguruan tinggi, lelaki kelahiran 5 Januari 1964, ini selalu menjadi sosok sentral di kalangan teman-temannya. Selain dikenal berani, teman-temannya menyebut Sultan Khairul Saleh memiliki jiwa sosial tinggi. Dia sangat setia kawan dan selalu siap membantu ketika dimintai bantuan oleh temannya.

Pun kepeduliannya terhadap teman bukan sekadar pamrih, tetapi juga karena sikap dasarnya suka menolong yang sejak kecil diajarkan oleh kedua orangtuanya. Tidak jarang, Sultan Khairul Saleh yang memang sejak remaja dikenal berani, rela berkelahi demi membantu temannya yang terlibat konfl ik atau persoalan dengan pihak lain. Namun itu dilakukannya setelah diplomasi yang dilakukannya tidak membuahkan hasil.

Kepiawaian dan keberanian Sultan Khairul Saleh dalam menuntaskan setiap persoalan rumit diakui oleh rekan-rekannya, baik sewaktu di sekolah menengah hingga bangku di perguruan tinggi, dan dunia kerja.

“Beliau selalu cerdas mencari solusi masalah. Semua masalah bisa diselesaikannya dengan mekanisme kerja yang terukur,” tutur Muslih, yang pernah menjadi staf Sultan Khairul Saleh sewaktu mengepalai proyek-proyek Bank Dunia.

Kerja keras yang menjadi doktrin keluarga memang akhirnya mengantarkan Sultan Khairul Saleh menggapai cita-citanya untuk menjadi orang sukses. Dia sangat menjaga amanat sang ayah untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya, amanat sang ayah itulah yang kemudian mampu mengubah dirinya menjadi sosok yang demokratis dan bijak. Hal ini terlihat dari sikap Sultan Khairul Saleh dalam kehidupan berkeluarga maupun dunia kerja.

Belajar dari pola pendidikan sang ayah, Sultan Khairul Saleh juga menanamkan nilai-nilai yang kuat terhadap keluarganya. “Jika tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan berbuat jahat kepada orang lain,” ujarnya, menerangkan nilai yang ditanamkan pada keluarga. Dua kata tersebut menjadi filosofi yang dipegang di sepanjang perjalanan hidup Sultan Khairul Saleh hingga saat ini dan nanti.

Nilai ini merupakan komitmen bersama antara Sultan Khairul Saleh dan Ratu Raudatul Jannah ketika keluarga kecil ini terbentuk. Nilai ini pulalah yang selalu ditanamkan dengan baik kepada kedua belahan hati mereka sejak kecil, melalui kata-kata ataupun teladan perilaku. Contoh-contoh sederhana dan mudah dipahami oleh kedua putera-puteri mereka selalu diberikan. Ini agar nilai luhur ini benar-benar bisa terpatri di hati keduanya. “Setidaknya, kebaikan yang diberikan memiliki nilai dan manfaat bagi yang menerimanya,” ujar Sultan Khairul Saleh.

“Bapak adalah sosok demokratis dan selalu menjaga perasaan orang lain. Dia tak segan-segan meminta maaf jika melakukan kesalahan, meski itu kepada anak-anak,” tutur sang istri tercinta Ratu Raudatul Jannah.