Banjarmasin merupakan kampung orang Melayu yang pertama di tengah-tengah kampung Oloh Ngaju di daerah Barito Hilir, Marabahan atau Muara Bahan yang merupakan kampung pemukiman Oloh Ngaju. Kampung ini didirikan oleh Datuk Bahendang Balau, ketua suku Oloh Ngaju yang turun dari Barito. J.J. Ras yang telah mentranskrip Hikayat Banjar mengatakan: “Maka bernama Banjarmasin karena nama orang besarnya itu nama Patih Masih itu” (Nama Banjarmasin diambil dari Nama Patih Masih).

Menurut Ahmad Suriadi (2017), sebagai seorang Patih atau Kepala Suku, tidaklah berlebihan kalau Patih Masih sangat memahami situasi politik Negara Daha, apalagi juga dia mengetahui tentang kewajiban sebagai daerah takluk dari Negara Daha, dengan berbagai upeti dan pajak yang harus diserahkan ke Negara Daha. Patih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk mencari jalan agar jangan terus-menerus desa mereka menjadi desa. Mereka sepakat mencari Raden Samudra cucu Maharaja Sukarama yang menurut sumber berita sedang bersembunyi di daerah Balandean Sarapat, karena Pangeran Tumenggung yang menjadi raja di Negara Daha pamannya sendiri ingin membunuh Raden Samudra.

Tindakan yang dilakukan oleh Patih Masih dan para patih lain adalah memindahkan Bandar atau pelabuhan perdagangan, karena ini sangat penting dari segi ekonomi negara.
Patih Masih berkata:

Kita kajut mudik ke Muara Bahan, kita rabut Bandar
itu. Sudah itu kita berbuat Bandar pula di sini”. (Kita
segera berlayar ke Muara Bahan, kita rebut Bandar
itu, setelah itu kita buat bandar di sini (Banjarmasin)

Menurut Amir Hasan Bondan (1953), untuk mewujudkan rencana itu maka para Patih mengerahkan 5.000 pengiring bersenjata, bertolak ke Marabahan untuk memindahkan para pedagang di situ ke bandar baru milik penguasa Banjarmasin di muara sungai Kelayan. Keberadaan Pangeran Samudra oleh para patih dan rakyat diangkat sebagai Raja di yang Banjarmasin, apalagi banyak daerah lain juga mengakuinya, membuat Pangeran Tumenggung marah. Apalagi Pangeran Samudra bersama beberapa Patih membangun pelabuhan baru di muara Sungai Kelayan, sehingga menyaingi dan mengurangi keramaian pelabuhan Marabahan, milik Kerajaan Negara Daha. Bagi Pengeran Tumenggung sebagai raja Negara Daha, sikap para patih di Banjarmasin tersebut berarti suatu pemberontakan yang tidak dapat dimaafkan dan harus dihancurkan.

Akhirnya terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan ini berlangsung lama dan dahsyat dan banyak mengorbankan pasukan dan rakyat. Tentara dan armada sungai Pangeran Tumenggung yang berjumlah 30.000 bergerak ke hilir ke sungai Barito. Di ujung Pulau Alalak terjadilah pertempuran sungai besar-besaran yang pertama antara kedua belah pihak, dengan kekalahan pihak Pangeran Tumenggung. Lebih dari 3.000 tentaranya tewas dalam pertempuran pertama ini. Sejak itu terjadilah penarikan garis demarkasi dan blokade ekonomi oleh pantai terhadap pedalaman, mulai dari Muara Bahan.

Pengalaman dalam pertempuran pertama, masing-masing pihak kemudian mengatur siasat untuk dapat mengalahkan lawannya pada pertempuran berikutnya. Pangeran Tumenggung mempersiapkan pasukan lebih besar lagi. la bahkan beroleh bala bantuan dari Raden Harja, putra Pangeran Bagalung. Begitu pula Pangeran Samudra berusaha mencari bantuan dari pelosok wilayah. Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pambuangan, Sampit, Mendawai Sanggau, Biaju Besar, Biaju Kecil, Karasikan, Berau, Kutai, Asam-asam, Kintap, Sawarangan, Takisung dan Tabaniau, serentak mendukungnya, sehingga berhasil terkumpul pasukan sebesar 40.000 orang. Ditambah pula 1.000 pasukan bantuan dari orang-orang Melayu, Bugis, Makassar, Jawa dan Tionghoa.

Menurut Bondan (1953), medan pertempuran pada gelombang kedua ini mulai dari Rantauan Sangiang Gantung sampai Ke Negara Daha. Pasukan Pangeran Samudra sempat maju hingga ke Negara Daha. Namun kemudian terjadi arus balik. Secara tiba-tiba terjadi angin ribut besar, sehingga bendera perang pasukan Samudra jatuh ditiup angin. Bendera tersebut bernama Tunggul Wulung Wanara Putih, yang terdiri dari dasar berkeling warna hijau di tengahnya warik/kera putih yang dikelilingi dasar hitam. Pasukan Pangeran Tumenggung menganggap jatuhnya bendera sebagai pertanda kekalahan musuh, maka mereka pun mendesak maju. Untunglah Patih Masih punya strategi, bendera itu dipasang kembali di atas pohon jingah besar. Melihat itu pasukan Pangeran Samudra pun kembali bangkit semangatnya dan berhasil mendesak pasukan Pangeran Tumenggung.

AA Cense dalam “De Kroniek van Banjarmasin”, sebagaimana dikutip Suriadi (2017) menjelaskan bahwa ketika Pangeran Samudra berperang melawan Pangeran Tumenggung tersebut, Pangeran Samudra menghadapi cobaan yang berat, yaitu kelaparan di kalangan pengikut dan rakyatnya. Kelaparan itu diakibatkan oleh para petani yang tidak bisa lagi bertani dan berkebun dan menjual hasilnya, lumpuhnya perdagangan akibat para pedagang dari luar tidak berani berjualan di daerah konflik, sehingga pasokan bahan pangan dan sebagainya terhambat. Maka, atas usul Patih Masih, Pangeran Samudra meminta bantuan pada Kerajaan Islam Demak, tak hanya bantuan tentara tetapi juga logistik Patih Balit diutus menghadap Sultan Demak dengan 400 pengiring dan 10 buah kapal. Patih Balit menghadap Sultan Trenggana dengan membawa sepucuk surat dari Pangeran Samudra.

FSA De Clereq dalam “De Vroegste Geschiedenis van Banjarmasin” (1877) memuat isi surat Pangeran Samudra yang tertulis dalam bahasa Banjar dalam huruf Arab-Melayu, berbunyi:

Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin
datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu
nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan
sampean karena putera andika berebut kerajaan
lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran
Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu
masuk mengula pada andika maka persembahan
putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung
1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10 pikul dan
lilin 10 pikul

Dalam pertempuran kedua tersebut, walaupun Pangeran Samudra sempat terdesak, tetapi kemudian berhasil memenangkan peperangan ini, antara lain karena adanya bantuan tentara dari Kesultanan Demak yang dikirim oleh Sultan Trenggana, sultan ketiga yang berkuasa pada tahun 1521-1546. Menurut Ahmad Suriadi (2017), bantuan Sultan Demak untuk Pangeran Samudra sebanyak 10 ribu orang pasukan dan diiringi oleh seorang Penghulu Islam yang akan mengislamkan raja dan penduduk. Dengan kekuatan yang besar tentara berangkat menyongsong air mengalir, sedang gamelan dipalu dengan gembira. Pangeran Samudra turut pula berangkat dengan berkedudukan di dalam sebuah gurap yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran diiringi oleh Patih Masih, Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuwin, masing-masing dengan lencana kebesaran.

Pangeran Tumenggung akhirnya terdesak, mundur dan bertahan di muara sungai Amandit dan Alai. Kemenangan demi kemenangan berada di pihak Pangeran Samudra dan bendera Tatunggul Wulung Wanara Putih, bendera Pangeran Samudra selalu berkibar. Tetapi meskipun mencapai kemenangan, peperangan belum bisa dituntaskan. Pangeran Tumenggung beserta tentaranya yang setia tetap berusaha bertahan dan tidak mau menyerah kalah. Pangeran Tumenggung tetap berusaha mengumpulkan tentara dan melakukan konsolidasi untuk menebus kekalahannya. Karena itu ada versi mengatakan, Mangkubumi Negara Daha Arya Taranggana menyarankan kepada rajanya, daripada rakyat kedua belah pihak banyak yang mati, lebih baik kemenangan dipercepat dengan mengadakan perang tanding antara kedua raja yang bermusuhan, hal mana kemudian disetujui oleh kedua belah pihak. Ia mengatakan:

…lamun masih baadu raiyat satu tahun tiada hartantu
yang menjadi raja itu, raiyat juga yang binasa karena
orang Negeri Daha ini bassaluk barkaluarga itu
sampaian jua menjadi raja lamun tiada berbanyak
tiada barguna sekalian kula, siapa hidup menjadi raja,
sudah itu kulah lawan Patih Masih

Menaiki perahu ketangkasan dan dikemudikan oleh Mangkubumi kedua belah pihak, masing-masing berpakaian perang, berpedang, memakai perisai, sumpit tambilahan, keris dan talabang, dengan disaksikan tentara dan rakyat kedua belah pihak, kedua raja berjumpa di atas sungai Parit Basar. Namun ketika sudah bertemu, Pangeran Samudra tidak mau menggunakan senjatanya untuk membunuh Pangeran Tumenggung, karena melawan Pangeran Tumenggung hakikatnya melawan ayahnya sendiri. Pangeran Samudra malah mempersilakan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya. Ternyata Pangeran Tumenggung juga memiliki perasaan yang sama, ia tidak tega membunuh kemenakannya, lalu muncul kasih sayangnya kepada kemenakannya sendiri.

… Kata Pangeran Samudra: mendekatlah andika
Tumenggung, tombak kula atau pedang kula, karena
dahulu sampiyan kasini, sampiyan masih handak
membunuh kula, sakian ulun tuluskan karsa andika,
tapi kula tiada handak durhaka pada andika, karna
kula tiada lupa akan andika itu akan ganti bapa kula,
sakarang mau andika bunuh kalaf. Maka Pangeran
Tumenggung mendengar demikian itu maras hatinya
serta ia menangis, pedang dan perisai dilepaskannya,
maka ia lumpat pada perahu Pangeran Samudra itu
sarta mamaluk mancium Pangeran Samudra

Tampak di sini bahwa setelah berhadap-hadapan, keduanya tidak jadi saling bunuh. Hati Tumenggung luluh, karena dalam perang tanding tersebut Pangeran Samudra yang lebih muda melempar senjatanya, tidak sampai hati membunuh pamannya sendiri. Ia juga memohon ampun atas segala kesalahannya di masa lalu yang menyebabkan Pangeran Samudra hidup menderita dan menjadi orang terbuang. Sang paman mengalah dan menghindarkan diri ke daerah Alai Meratus. Namun karena kemurahan hati Pangeran Samudra, pamannya itu masih diberi kekuasaan mengurus daerah-daerah hulu, khususnya Batang Amandit dan Batang Alai.

Jadi, karena kedua orang yang masih berhubungan darah ini tidak tega saling bunuh, akhirnya dilakukan perdamaian. Pangeran Tumenggung mengaku kalah dan menyerahkan kerajaannya kepada Pangeran Samudra, namun ia tetap diberi kekuasaan memerintah di daerah Amandit dan Alai bersama 1.000 orang penduduk. Pangeran Tumenggung rela menyerahkan kekuasaan dan segala tanda kebesaran kepada kemenakannya sendiri dan keduanya berpelukan. Terjadilah penyerahan legalitas kerajaan kepada Pangeran Samudra. Negara Daha ditinggalkan, menjadi kosong karena semua penduduknya diangkut ke Banjarmasin.

Rakyat Negara Daha yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Pangeran Tumenggung bersedia pindah dan menjadi rakyat Banjarmasin dan mereka mengangkat sumpah setia kepada Sultan Suriansyah. Negara Daha lenyap dari sejarah dan tinggal bekas-bekasnya di daerah Pematang Patung di Parit Basar Garis, Km. 21 sekarang.

(Dikutip dari buku Sultan Suriansyah karya Datu Cendikia Hikmadiraja Ahmad Barjie B)