Seorang pejuang yang gagah berani, keturunan bangsawan yang berperilaku merakyat, seorang ulama yang taat beribadah, dialah Pangeran Antasari yang ketika kecilnya dikenal dengan nama Gusti Inu, dilahirkan sekitar tahun 1800, dialah putra Pangeran Mashod, cucu Pangeran Amir dan mempunyai hubungan sebagai saudara misan dengan Pangeran Hidayatullah. Ibunya bernama Gusti Hadijah, putri Sultan Sulaiman.

Ketika kecilnya hidup di lingkungan Keraton Kesultanan Banjar di Antasan Senor, Martapura. Tetesan darah pahlawan yang berani menantang Kolonial Belanda yang telah menjajah tanah Borneo, mengalir dalam jasad Pangeran Antasari sebab beberapa tahun sebelumnya, Pangeran Amir, kakeknya, pada awal tahun 1787 telah melancarkan pemberontakan dengan mengerahkan kekuatan pasukan sekitar 3.000 orang. Namun sang Kolonialis di bawah pimpinan Kapten Christoffel Hopman yang memiliki persenjataan lengkap berhasil mematahkan pemberontakan Pangeran Amir, Dalam kontak senjata yang menentukan pada tanggal 14 Mei 1787 Pangeran Amir dapat ditangkap, Sebulan kemudian dikirim ke Batavia (Jakarta) dan selanjutnya dibuang ke Ceylon (Srilangka) hingga meninggal dunia.

Gugurnya sang kakek, Pangeran Amir di tanah buangan dan campur tangannya Pemerintah Belanda dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banjar yang dapat mengeruhkan situasi benua Banjar, menyebabkan sikap Pangeran Antasari semakin membenci terhadap kolonialis tersebut. Politik Belanda yang sudah dikenal di seluruh bumi Nusantara dengan divide et impera, begitu pula di bumi Lambung Mangkurat ini. Hal ini tidak saja menyebabkan kemurkaan pihak keraton Banjar, tetapi juga menjebabkan gerakan rakyat timbul di mana-mana.

Pangeran Hidayatullah yang pada ketika itu menjabat selaku Mangkubumi di Kesultanan Banjar, mengutus tiga orang ke daerah-daerah guna menyelidiki motif gerakan rakyat, apakah terarah kepada Kesultanan ataukah terhadap kolonialis Belanda. Salah seorang utusan tersebut adalah Pangeran Antasari, ternyata bahwa gerakan-gerakan tersebut adalah dengan motif justru membela eksistensi Kesultanan yang dicampur tangani oleh Belanda. Kesempatan ini sangat membuka jalan bagi Pangeran Antasari guna melakukan berbagai kontak menghimpun gerakan di berbagai wilayah. Pangeran Antasari meninggalkan lingkungan Kesultanan di Antasan Senor dan secara diam-diam menggabungkan diri dengan kelompok gerakan di pedalaman.

Dalam waktu yang relatif singkat ternyata Pangeran Antasari menjadi seorang pemimpin yang berani dan berwibawa. Karena kemampuannya dalam menguasai medan, sekaligus selaku pucuk pimpinan yang membagi-bagi wilayah perlawanan dan menetapkan pimpinan sektor-sektor pergerakan.

Demang Lehman untuk daerah Tanah Laut dan Hulu Sungai yang dibantu oleh Tumenggung Antaluddin, Kiai Suta Karsa, Pangeran Citra Kesuma, Kiai Raksa Pati, Pangeran Singa Terbang dan seorang Srikandi Cakrawati. Wilayah Barito, Kapuas dan Kahayan dengan pemimpin Surapati, Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said, Singapati, Mas Anom, Tumenggung Kartapati dan Mangkusari. Gerakan rakyat yang keras, yang dipirnpin oleh Penembahan Datu Aling di Wilayah Muning berhasil disatukan oleh Pangeran Antasari dengan Pimpinan Tumenggung Jalil yang menguasai Benua Lima. (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kelua). Kedudukan Pangeran Antasari semakin populer di kalangan rakyat dan sebaliknya pihak Belanda selalu siaga terhadap gerakan yang membahayakan ini.

Pada Tanggal 28 April 1859 terjadilah serangan pertama yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari, menggempur benteng Belanda di Pangaron dengan menggerakkan lasykar rakyat sebanyak 300 orang. Serangan tersebut dilancarkan oleh Pangeran Antasari sejak pagi-pagi buta hingga menjelang tengah hari.

Adanya benteng Belanda di Pengaron karena dia berkepentingan melindungi tambang batu bara Oranye Nassau di sana. Sang dokter bangsa Belanda di lokasi itu dibunuh dan Komandon Beeckman pimpinan tentara Belanda berhasil menyingkir. Serangan tanggal 28 April 1859 ini tercatat dalam dokumen Pemerintahan Nederlands Indie (Hindia Belanda) sebagai mulai Perang Banjarmasin (Banjermasinsche Krijg) sampai tahun 1863, selama 4 tahun. Tetapi sesungguhnya Perang Banjar berlangsung selama 46 tahun, sampai tahun 1905, saat gugurnya Sultan Muhammad Seman sebagai raja Banjar terakhir.

Pangeran Antasari selaku pucuk Pimpinan perlawanan rakyat yang menguasai wilayah pergerakan rakyat yang luas, sewaktu-waktu berpindah tempat. Itulah sebabnya terdapat banteng-banteng pertahanan Gunung Tungka, benteng Tundakan, Terumbang, Gunung Sangsulit, Liang Umbang. Bayan Begok, dan lain-lain.

Pada tanggal 21 Oktober 1859 terjadilah pergantian pimpinan penguasa di Borneo (Kalimantan) Selatan dan Timur (termasuk Kalimantan Tengah, sekarang). Kolonel Augustus Johannes Andressen diganti oleh Residen N. Nieuwenhuyzen sebagai komisaris pemerintah, sementara Panglima tentara Belanda merangkap Wakil Residen diangkat Mayor GM Verspyck. Andressen kendati berpengalaman pada perang di Sumatera, tapi ia gagal menghadapi Pangeran Antasari dan Demang Leman. Kegagalan Andressen ini sebagai alasan penting penggantiannya dengan Besluit Gouvernour Generaal di Batavia (Jakarta).

Sepuluh Ribu Gulden

Daerah perlawanan Barito yang dipimpin oleh Tumenggung Surapati yang dibantu oleh Suku Dayak berhasil menenggelamkan kapal perang Komandan Van der Velde makin penasaran karena ia mengetahui bahwa wilayah Barito juga tidak lepas dari daerah perlawanan Pangeran Antasari dan justru pada saat itu ingin menjebak Pangeran Antasari.

Dengan pengalaman-pengalaman penyerangan pasukan Pangeran Antasari dimana-mana yang merugikan pihak kolonialis ini, maka ternyata Belanda tidak dapat menganggap enteng terhadap Pangeran Antasari. Inilah sebabnya ditawarkan kepada masyarakat luas di tanah Banjar, hadiah sebesar f.10.000,- (sepuluh ribu gulden) kepada barang siapa yang dapat menyerahkan kepala Pangeran Antasari kepada Belanda.

Tak seorang pun tertarik dengan hadiah besar dari pihak penjajah itu. Sebaliknya rakyat terus membantu gerakan ini secara langsung atau tidak langsung dan penyerangan sering terjadi di sudut-sudut wilayah. Belanda mengubah sikap dengan bujukan agar Pangeran Antasari sendiri meminta ampun dan akan dibebaskan dari tuntutan. Sama sekali tawaran itu ditolak Pangeran Antasari dan bahkan bertekad dalam jihad dengan semboyan ” Haram Manyarah Lawan Walanda (Haram menyerah dengan Belanda). Karena setiap tawaran itu sudah lagu lama kolonialis sebagai tipuan semata-mata. Penolakan tawaran ini dengan kiriman Pangeran Antasari kepada Penguasa Belanda (Gezahhebber) daerah Bakumpai di Marabahan. tentu saja pihak Belanda semakin penasaran.

Gerakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda tidak pernah sepi, baik yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari atau oleh pemimpin-pemimpin setempat di berbagai wilayah. Pada tanggal 8 Februari 1860 dengan 6 buah kapal besi, Belanda mengadakan perondaan di Muara Lahui. Perondaan ini tidak menguntungkan bagi pihak kolonialis, karena Pangeran Antasari dengan anak buahnya yang beberapa puluh tentara Belanda. memang lebih menguasai medan, menyerang dan menewaskan beberapa puluh tentara Belanda.

Lima bulan kemudian, pada bulan Juli 1860 Pangeran Antasari menyerang benteng Belanda di Batu Mandi yang berhasil menewaskan komandan Van den Bosch dan Kopral Koudijs serta serdadu lainnya. Pada tanggal 4 Mei 1861 terjadi pertempuran di daerah Paringin yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari. Serangan diarahkan ke benteng Belanda dan berhasil menewaskan komandan Van der Wijck yang digelari orang singa Paringin kerena kebengisannya terhadap rakyat.

Dua bulan kemudian pada tanggal 1 Juni 1861 Pangeran Antasari berada di daerah Barito terjadi kembali kontak senjata dengan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Stocker. Malang bagi komandon Kolonial itu, karena Stocker tewas bersama beberapa orang anak buahnya.

Pemimpin Agama

Pangeran Antasari yang dikenal tidak saja sebagai pemimpin pejuang yang gagah berani tetapi adalah pula pemimpin agama yang bertaqwa. Dalam bulan suci Ramadhan 1278 H, tepatnya tanggal 14 Maret 1862, oleh rakyat daerah Barito, Sihong, Murung, Teweh, Kapuas, Kahayan dan Dusun Hulu, Pangeran Antasari dinobatkan menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, Pimpinan Tertinggi Agama dengan Semboyan ” Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah”. Para pemuka rakyat yang mengumumkan itu antara lain adalah Kiai Dipati Jaya Raja, Raden Mas Warga Nata Wijaya, Haji Muhammad Khalid, Tumenggung Surapati, dan Tumenggung Mangkusari, yang mewakili daerah masing-masing.

Dalam kurun waktu yang cukup lama perlawanan Pangeran Antasari bersama dengan anak buahnya berupaya untuk mengembalikan Kesultanan Banjar yang didominasi Belanda. Saat-saat terakhir Pangeran Antasari sudah berangsur tua dan secara fisik telah semakin lemah. Beliau meninggal dunia karena sakit pada tanggal 11 Oktober 1862 di desa Bayan Begok, Muara Teweh.

Rakyat kehilangan sang pemimpin yang berani, tegas, cerdik, dan alim. Namun tidak berarti perjuangan terhenti melawan kolonialis Belanda. Perjuangan berlanjut oleh dua orang putera beliau Muhammad Seman dan Muhammad Said serta pejuang-pejuang yang masih ada. Di masa Indonesia telah merdeka, oleh suatu panitia kota Banjarmasin beserta keluarga keturunan Pangeran Antasari yang banyak bermukim di Banjarmasin, kerangka tulang belulang beliau dimakamkan kembali di komplek Makam Pahlawan Perang Banjar Jalan Mesjid Jami Banjarmasin. Dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 06/TK/Tahun 1968 tanggal 27 Maret 1968, Pangeran Antasari ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawan.

(Dikutip dari buku Pangeran Antasari karya Datu Mangku Adat Syamsiar Seman)