Nasi Astakona merupakan satu dari begitu banyaknya kekayaan kuliner yang dimiliki oleh Kesultanan Banjar. Penyajian Nasi Astakona ini terasa istimewa karena hanya boleh dihidangkan pada waktu tertentu saja. Misalnya, ritual resmi adat kesultanan, menjamu tamu kehormatan dari kerajaan lain, atau acara perkawinan.

Astakona dalam bahasa sastra lama berarti segi banyak. Secara fisik bisa dilihat Nasi Astakona disajikan pada beberapa talam yang ditumpang sebanyak jumlah ganjil, umumya tiga atau lima tumpang. Berbeda dengan nasi tumpeng Jawa yang hanya berbentuk satu kerucut, Nasi Astakona Banjar terdiri dari lapisan-lapisan makanan yang ditumpang. Secara istilah Nasi Astakona itu berarti hidangan yang banyak beraneka ragam.

Filosofi Nasi Astakona

Dalam adat Banjar Nasi Astakona memiliki beberapa makna yang bisa dipelajari, yaitu

  1. Talam bertingkat ganjil.
    Talam sebagai alas bagi penyajian Nasi Astakona berbentuk bundar berkaki tunggal terbuat dari bahan kuningan. Talam ini bertingkat-tingkat dengan jumlah tingkatan bilangan ganjil, jumlah tingkatan talam yang sering dipakai adalah 3 atau 5 tingkat.  Bentuk bangunan bertingkat mempunyai makna kokoh dan satu kesatuan meskipun terdiri dari beberapa lapisan. Sedangkan jumlahnya yang ganjil mempunyai hubungan dengan dekatnya adat Banjar kepada ajaran Islam. Pengambilan jumlah ganjil ini diyakini dari ajaran Nabi Muhammad yang terdapat dalam salah satu hadits, yaitu “Allah memiliki 99 nama, siapa yang menjaganya akan masuk surga. Allah itu ganjil (esa), dan menyukai bilangan yang ganjil.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
  2. Jenis makanan yang lengkap terdiri dari nasi, ikan, daging, ayam, udang, sayuran dan buah-buahan, Jenis makanan ini dimasak dengan berbagai cara dan rasa. Hal ini mengandung makna kesempurnaan hidangan yang disajikan. Jenis makanan ini juga diyakini mewakili unsur-unsur bumi dari tanah, air, dan udara. Seperti itulah hidup manusia yang selalu terikat dengan alam.

Pada tiap tingkatan talam disajikan jenis masakan yang berbeda. Penataan seperti ini menjadikan Nasi Astakona terlihat mewah, bervariasi, dan enak dipandang sehingga menimbulkan selera. Karena itulah Nasi Astakona terlihat istimewa dan dibuat untuk acara tertentu saja.

Nasi yang mengisi talam adalah nasi putih dan nasi kuning. Di beberapa tempat yang kuat pengaruh etnis Arab, nasi kuning bisa diganti dengan nasi bukhari. Pada umumnya nasi mengisi bagian pondasi atau tingkat pertama talam.

Jenis makanan yang khas dan harus ada dalam sajian Nasi Astakona adalah Sate Babokong. Sate ini terbuat dari bagian hati sapi, yang unik dibandingkan sate umumnya adalah Sate Babokong ditusuk pada satu bilah bambu yang pucuknya bercabang lima. Makna yang terkandung di dalam Sate Babokong ini adalah bahan sate dipilih dari bagian hati yang menandakan hati nurani serta jumlah 5 tusuk mewakili rukun Islam yang lima dan jumlah solat wajib 5 waktu.

Jenis masakan khas yang lain adalah Ayam Panggang Lenggang Kencana. Ayam ini harus berbentuk utuh satu ekor termasuk bagian kepalanya (ayam baikungan) tanpa dipotong-dipotong. Ayam ini dimasak dengan bermacam bumbu kemudian dipanggang atau dibakar.

Apabila dibuat daftar, maka pengisi Nasi Astakona yang umum adalah:

  1.  Nasi Putih
  2. Nasi Kuning
  3. Sate Babokong
  4. Ayam Panggang Lenggang Kencana
  5. Daging dibuat sambal goreng
  6. Ikan dibuat otak-otak dan iwak rabuk (abon)
  7. Udang Galah yang digoreng
  8. Telur
  9. Sayuran yang dibuat acar
  10. Buah-buahan yang dipotong kemudian ditusuk seperti sate

Nasi Astakona dihias dengan nanas utuh satu buah yang masih terdapat mahkotanya. Buah-buahan segar yang sudah dibikin sate buah ditusukkan pada nanas ini sedangkan buah-buahan yang penyajiannya tidak bisa dipotong disusun sedemikian rupa di sekitarnya. Pada hiasan yang lain ada telur dadar, ketimun, bawang, dan lombok goreng. Ditambah juga hiasan kembang barenteng atau beronce dan mayang pinang.

Di samping itu juga dihidangkan bermacam kue tradisional dan puding beraneka bentuk dan warna. Minuman pun ikut disajikan dalam bentuk minuman panas dan dingin. Saat ini Nasi Astakona sudah mendapat berbagai macam tambahan dan variasi sesuai perkembangan zaman, tetapi bentuk asli atau hidangan wajibnya tetap dipertahankan.

Proses santap Nasi Astakona dimulai dengan pengambilan pertama oleh orang yang dituakan setelah itu diikuti tamu kehormatan lainnya. Pada Nasi Astakona acara perkawinan maka yang memulai pertama adalah kedua mempelai sebagai lambang tamu kehormatan. Nasi Astakona pada penyajian aslinya dimakan tanpa memakai sendok, jadi hanya memakai tangan dimakan beramai-ramai.