Sejak kecil Sultan Khairul Saleh dikenal para kerabat sebagai anak yang tidak pernah diam. Ketika bertanya tidak akan tuntas hanya dengan satu jawaban karena akan terangkai dengan pertanyaan selanjutnya.

Karakter ini melekat erat hingga menginjak dewasa. Kedekatan Sultan Khairul Saleh dengan kerabat, keluarga termasuk para juriat sangat kental. ini tidak lepas dari pembawaan Sultan Khairul Saleh muda yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang aliran darah bangsawan yang mengalir di nadinya.

“Setiap kali bertemu dengan kerabat yang juga menyandang gelar bangsawan seperti gusti atau antung dan lainnya, Khairul Saleh pasti akan bertanya silsilah. Anak siapa, siapa kakek dan seterusnya,” kenang sang ayah, Pangeran Jumri.

Bagi Sultan Khairul Saleh informasi ini penting demi mempererat tali kekerabatan. Ratu Raudatul Jannah, ingat betul saat-saat di mana suaminya begitu semangat melakukan semacam penelitian mandiri untuk merangkai benang silsilah keturunan Kerajaan Banjar.

Pada tahun 1997, Sultan Khairul Saleh mulai menginventarisasi silsilah juriat Kerajaan Banjar. Tidak hanya bertanya kepada para tetuha yang ada di Banjarmasin dan Martapura tetapi juga ke daerah-daerah lain di Kalimantan.

Di beberapa kesempatan Sultan Khairul Saleh sengaja meluangkan waktu khusus untuk berkunjung kepada para tetuha di tempat-tempat yang cukup jauh hanya untuk menggali informasi silsilah. Namun karena keterbatasan waktu aktivitas tersebut disempatkan di sela-sela kegiatan dinas. “Ketika bertugas ke daerah-daerah yang merupakan tempat tinggal juriat kerajaan, Bapak berusaha menyempatkan waktu untuk sekadar bertemu dan bersilaturahmi sembari menggali informasi,” ingat Ratu Raudatul Jannah.

Keseriusan Sultan Khairul Saleh tidak hanya sampai di situ. Untuk memperkuat data dan informasi tidak segan-segan Sultan Khairul Saleh melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang berkompeten di bidang kesejarahan dan antropologi.

Salah satu mentor yang paling sering dimintakan pendapat adalah allahyarham Prof Alfani Daud, seorang Guru Besar Antropologi Budaya pada program pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin. Karya beliau yang sudah dipublikasikan antara lain, Islam dan Masyarakat Banjar; Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar.

Tidak sia-sia hasil pengumpulan data dan informasi tersebut akhirnya tersusun dalam sebuah dokumentasi ilmiah yang masih tersimpan dengan baik. Sultan Khairul Saleh berharap upaya yang dirintis jauh sebelum dirinya menjabat bupati dan Sultan Banjar akan menjadi satu langkah untuk merekatkan kembali tali silaturahmi juriat. Dengan tersusunnya silsilah tersebut dapat menyatukan silsilah juriat yang ada dan tersebar dalam satu garis lurus menjadi silsilah keluarga besar Kesultanan Banjar. Dimulai dari raja pertama hingga generasi sekarang awal abad 21.

Sejak Kesultanan Banjar dihapuskan sepihak oleh kolonial Belanda ikatan kekerabatan itu menjadi sangat renggang. Antar kerabat bisa saling tidak mengenal, acuh tak acuh dan terjebak pada persaingan yang tidak perlu bahkan saling menjatuhkan satu sama lain. Sultan Khairul Saleh sadar betul bahwa melestarikan budaya, adat dan tradisi Kesultanan Banjar adalah kerja bersama para juriat kesultanan.

Silsilah seharusnya tidak menjadi cikal bakal perpecahan dan pertarungan ego individu. Persatuan dan kesatuan adalah nilai kearifan lokal masyarakat Banjar yang ada sejak dahulu kala. Ini juga diwariskan oleh kerabat kerajaan dengan ikatan silsilah. Perpecahan adalah warisan masa kolonial yang mencemari nilai kearifan lokal.

Harapan besar yang ada di benak Sultan Khairul Saleh adalah seluruh juriat Kesultanan Banjar bersatu pada mengangkat harkat martabat keluarga dan masyarakat Banjar di bidang budaya, adat dan tradisi. “Ini juga menjadi salah satu misi bangkitnya kembali Kesultanan Banjar,” tegas Sultan Khairul Saleh.