Pada saat Sultan Khairul Saleh memulai langkah Merangkai Benang Silsilah. Tepat di tahun yang sama, pada 1997, Zuriat Pagustian yang lain
membentuk Yayasan Sultan Adam.

Yayasan ini bertujuan turut membantu pemerintah mengatasi pembinaan pembangunan dan pemugaran serta pelestarian tempat bersejarah khususnya makam para Raja/Sultan Banjar yang ada di Kabupaten Banjar. Selain itu yayasan juga punya misi turut membantu memajukan pendidikan kerabat keturunan melalui usaha-usaha yayasan.

Para zuriat yang juga pengurus yayasan di antaranya Prof.Dr. Ir. Ismet Ahmad, MSc dan Pangeran Rusdi Effendi AR. Sayangnya kesibukan yang tinggi dari para pengurus, baik di pemerintahan maupun swasta langkah Yayasan Sultan Adam tidak secepat yang diharapkan. Hal ini disadari oleh keduanya, perlu memilih figur generasi muda yang agresif dan punya pemikiran visi ke depan.

April 2001 Rapat Pengurus Yayasan Sultan Adam dipimpin Ismet Ahmad selaku ketua yayasan. Bertempat di rumah Abah Anang (panggilan akrab Tuan Guru Besar Mufti Kesultanan Banjar H. Anang Djazouly Seman), pengurus merasa perlu melakukan perubahan struktur kepengurusan.

Dalam kesempatan tersebut, Gusti Shuria Rum menyampaikan bahwa sudah saatnya, para tatuha memikirkan keberadaan zuriat muda yang tersebar di berbagai daerah.

“Mereka banyak bertanya, aku ini dari zuriat yang mana dalam silsilah keturunan Sultan Suriansyah, ” ujarnya.

Gusti Shuria Rum langsung mengapresiasi kiprah Sultan Khairul Saleh sebagai figur muda yang agresif dan kerja yang nyata. Hal ini menurut beliau terwujud dalam dokumentasi silsilah zuriat kerajaan dalam satu buku yang lebih lengkap dan bagus.

“Figur Khairul Saleh ini perlu dipikirkan untuk merakit dan menghimpun keluarga,” tandasnya.

Rapat juga mengagendakan pemilihan ketua yayasan yang baru. Ismet Ahmad sebagai pimpinan rapat pada saat itu menawarkan nama Sultan Khairul Saleh kepada peserta yang hadir. Sultan Khairul Saleh pada saat itu tidak serta merta mengiyakan. Sultan Khairul Saleh mengutarakan bahwa masih banyak figur muda zuriat kerajaan yang lebih pantas dan lebih berprestasi.

Namun pada kesempatan itu Abah Anang (Tuan Guru Besar H. Anang Djazouly Seman) menyampaikan bahwa Sultan Khairul Saleh, yang pada saat itu belum menduduki jabatan sebagai Bupati Banjar, adalah orang yang sangat tepat untuk memimpin Yayasan Sultan Adam.

Sontak hal ini juga didukung dan diamini oleh hadirin yang hadir. Maka sejak saat itu pengabdian Sultan Khairul Saleh, dalam mengembalikan kerakatan kekerabatan zuriat Sultan Adam, semakin nyata apalagi setelah beliau sebagai Ketua Yayasan Sultan Adam.

Sejak saat itu pula kiprah Sultan Khairul Saleh dalam perkumpulan kerabat pagustian semakin dirasakan. Satu hal yang paling nyata adalah agenda peringatan haul Sultan Adam. Tradisi perayaan haul Sultan Adam bersama pemerintah dan kerabat pagustian ini berlangsung hingga sekarang.

Tidak hanya terkait Sultan Adam, sesuai agenda kerja organisasi, Sultan Khairul Saleh berupaya membenahi bangunan dan pemberian papan nama makam raja-raja dan leluhur zuriat kerajaan yang merupakan peninggalan berharga bagi Kerajaan Banjar. Kompleks bangunan makam Sultan Adam, Sultan Abdurrahman dan Sultan Mustainbillah yang tadinya sederhana kini berdiri megah.

Selain itu, sejak kepemimpinannya pula buku Manaqib Sultan Adam yang disusunnya bersama Gusti Shuria Rum dan Tuan Guru H. Irsyad Zein diterbitkan.

Dan sekian tahun menduduki posisi Ketua Yayasan Sultan Adam, Sultan Khairul Saleh semakin dikenal luas oleh para kerabat di dalam dan di luar daerah. Termasuk juga di kalangan kerabat atau para raja/sultan Nusantara.