Peninggalan upacara daur hidup dari masyarakat Banjar mengenal beberapa jenis ritual penyucian diri atau pembersihan jiwa. Ritual pembersihan diri ini disebut badudus atau bamandi-mandi. Istilah badudus hanya digunakan pada jenis acara kerajaan, sedangkan jenis mandi yang sering dilakukan pada upacara daur hidup antara lain, menjelang pesta perkawinan, dan mandi bagi wanita hamil pertama,

Pada pelaksanaan upacara mandi, tidak harus semua wanita yang pertama kali hamil harus menjalani. Karena upacara ini awalnya diperuntukkan bagi keluarga wanita yang sudah menjalani adat ini turun temurun. Akan tetapi, bisa saja bagi wanita hamil ada sesuatu yang mengharuskan calon ibu untuk menjalani upacara mandi meskipun ia bukan berasal dari keturunan yang wajib menjalaninya.

Upacara mandi dapat terjadi jika terdapat kondisi khusus saat kehamilan atau kekuatiran akan bayi yang berada dalam kandungan. Ada kepercayaan orang Banjar, apabila “gretek hati” atau was-was mengenai kondisi kehamilan, maka hal ini mengharuskan calon ibu untuk melakukan upacara mandi sebagai sarana menguatkan diri dalam menjalani kehamilan. Apabila upacara tersebut dilalaikan atau tidak dilaksanakan dapat menyebabkan yang bersangkutan atau salah seorang kerabat dekat terkena “pingit”. Akibatnya proses kelahiran berjalan lambat atau bayi yang dikandung lahir tidak sempurna.

Salah satu upacara mandi yang terdapat di masyarakat Banjar adalah upacara mandi “Tian Mandaring”. Tian artinya mengandung atau hamil, sedangkan mandaring adalah istilah bagi mengandung anak sulung/pertama. Sehingga mandi tian mandaring berarti adat mandi untuk seorang wanita yang baru pertama kali hamil.

Mandi tian mandaring dilakukan saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan. Usia tujuh bulan dipilih sebagai waktu yang tepat karena pada usia inilah bayi dalam kandungan terasa mulai sangat aktif dan akan menuju posisi melahirkan. Ketika kehamilan tujuh bulan, proses fisik bayi mulai berkembang pesat, seperti pertumbuhan otak, penambahan berat badan, tempurung kepala bayi mulai mengeras dan bersiap turun ke posisi melahirkan. Sehingga melalui upacara mandi ini sang calon ibu berharap bayi yang akan lahir menjadi mudah dan posisinya tidak sungsang serta keluar dengan kondisi bersih fisiknya.

Selain sebab khusus tersebut, pelaksanaan mandi tian mandaring ini umumnya dilakukan untuk menolak bala dan memohon keselamatan bagi ibu dan anaknya serta keselamatan bagi seluruh keluarga.

Mandi tian mandaring ini umumnya dihadiri oleh para wanita,  Selain sang ibu hamil yang wajib hadir, acara ini juga diikuti oleh ibu kandung dan ibu mertua apabila keduanya masih hidup atau ada, bidan kampung (sekarang mungkin sudah jarang), tetuha wanita yang dituakan dalam keluarga, dan tokoh wanita yang ada di masyarakat. Para pengiring yang lain adalah sahabat, kerabat, dan para ibu muda serta anak-anak untuk meramaikan.

Tempat pelaksanaan mandi tian mandaring dibuatkan sebuah balai atau panggung tempat mandi bertiang empat. Yang berfungsi sebagai tiang adalah batang tebu lengkap dengan daunnya. Jarak antar tebu dikelilingi benang yang dihias dengan mayang, karena itu ada beberapa yang menyebut upacara ini sebagai upacara mandi bapagar mayang. Pada bagian bawah dibuatkan tangga berjumlah ganjil dan bagian atap dilapisi kain berwarna kuning.

Sebelum upacara dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan persiapan dan perlengkapan upacara. Upacara mandi hamil mengharuskan ada “wadai ampat satu”. Wadai 41 ini sebutan untuk jumlah kue atau hidangan khas Banjar yang banyak jenisnya. Hidangan untuk para tamu ialah nasi ketan (dengan inti) dan apam dari wadai 41 ini, tetapi bisa juga ketupat dan sayur tumis ditambah dengan nasi ketan, atau hidangan lainnya.

Di dalam pagar mayang, atau di tempat upacara mandi akan dilaksanakan, diletakan perapen dan berbagai peralatan mandi. Sebuah tempayan atau bejana plastik berisi air tempat merendam mayang pinang (terurai), beberapa untaian bunga (kembang berenteng), sebuah ranting kambat, sebuah ranting balinjuang dan sebuah ranting kacapiring. Sebuah tempat air yang lebih kecil berisi banyu baya, yaitu air yang dimantrai oleh bidan, sebuah lagi berisi banyu Yasin, yaitu air yang dibacakan surah Yasin, yang sering dicampuri dengan banyu Burdah yaitu air yang dibacakan syair Burdah. Untuk keperluan mandi ini terdapat juga kasai (bedak, param) temugiring dan keramas asam jawa atu jeruk nipis. Dahulu, sebagai tempat duduk si wanita hamil itu diletakan sebuah kuantan (sejenis panci terbuat dari tanah yang diletakan tengkurap dan di atasnya diletakan bamban (bamban bajalin). Merupakan alat mandi pula ialah mayang pinang yang masih dalam seludangnya, kelapa tumbuh (berselimut kain kuning), benang lawai dan kelapa muda.

Untuk keperluan mandi hamil diperlukan dua buah piduduk. Sebuah akan diserahkan kepada bidan yang memimpin upacara dan yang membantu proses kelahiran, dan sebuah lagi sebagai syarat upacara. Yang pertama dilengkapi dengan rempah-rempah dapur, sedangkan yang sebuah lagi termasuk di dalamnya alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan, ayam, pisau dan sarung berwarna kuning. Konon jenis kelamin ayam harus sesuai dengan jenis kelamin bayi yang akan lahir, sehingga praktis tidak mungkin disediakan, dan demikian pula alat-alat yang diperlukan untuk melahirkan biasanya juga belum tersedia, namun harus tegas dinyatakan sebagai ada. Bagian dari piduduk yang belum tersedia ini dikatakan sebagai “dihutang”, sebagai syarat menyediakan barang yang belum ada ini harus disediakan nasi ketan dengan inti, yang dihidangkan kepada hadirin setelah upacara selesai.

Setelah persiapan dan perlengkapan upacara telah tersedia, maka dilaksanakanlah proses upacara mandi hamil ini. Wanita hamil yang diupacarakan memakai pakaian yang indah-indah dan memakai perhiasan, duduk di atas lapik di ruang tengah sambil memangku sebiji kelapa tumbuh yang diselimuti kain kuning menghadapi sajian wadai ampat puluh. Setelah beberapa lama duduk dengan disaksikan oleh para undangan wanita, perempuan hamil itu turun ke pagar mayang sambil menggendong kelapa tumbuh tadi. Ketika ia turun ke pagar mayang, ia menyerahkan kelapa yang digendongnya kepada orang lain, bertukar pakaian dengan kain basahan kuning sampai batas dada, lalu duduk di atas bamban bajalin, sedemikian sehingga kuantan tanah langsung remuk. Para wanita tua yang membantunya mandi (jumlahnya selalu ganjil, sekurang-kurangnya tiga dan paling banyak tujuh orang dan seorang di antaranya bertindak sebagai pemimpinnya, yaitu biasanya bidan) menyiraminya dengan air bunga, membedakinya dengan kasai temugiring lalu mengeramasinya.

Selanjutnya para pembantunya itu berganti-ganti mamapaikan berkas mayang, berkas daun balinjuang dan berkas daun kacapiring kepadanya dan kadang-kadang juga kepada hadirin di sekitarnya. Proses berikutnya ialah menyiramkan berbagai air lainnya, yaitu banyu baya, yang telah dicampur dengan banyu Yasin atau banyu doa, dan banyu Burdah. Setiap kali disiram dengan air-air tersebut, si wanita hamil diminta untuk menghirupnya sedikit. Sebuah mayang pinang yang masih belum terbuka dari seludangnya diletakkan di atas kepala wanita hamil tersebut lalu ditepuk, diusahakan sekali saja sampai pecah. Mayang dikeluarkan dari seludangnya lalu diletakkan di atas kepala wanita hamil dan disirami dengan air kelapa muda tiga kali berturut-turut dengan posisi mayang yang berbeda-beda. Kali ini juga airnya harus dihirup oleh wanita hamil itu.

Kemudian diambil dua tangkai mayang dan diselipkan di sela-sela daun telinga si wanita hamil masing-masing sebuah. Lalu dua orang perempuan tua membantunya meloloskan lawai dari kepala sampai ke ujung kaki, tiga kali berturut-turut. Untuk melepaskan lawai dari kakinya, pada kali yang pertama ia melangkah ke depan, kali yang ke dua melangkah ke belakang dan terakhir kembali melangkah ke depan.

Sesudah itu badannya dikeringkan dan ia berganti pakaian lalu keluar dari pagar mayang. Di luar telah tersedia sebiji telur ayam yang harus dipijakinya ketika melewatinya. Ketika ia keluar untuk kembali ke ruang tengah ini dibacakan pula shalawat berramai-ramai. Di ruang tengah si wanita hamil itu kembali duduk di atas lapik di hadapan tamu-tamu, disisiri dan disanggul rambutnya. Pada saat itu juga di tepung tawari, yaitu dipercikan minyak likat beboreh dengan anyaman daun kelapa yang dinamakan tepung tawar.

Setelah itu dibacakan doa selamat oleh salah seorang hadirin. Sementara itu si wanita hamil menyalami semua wanita yang hadir, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu hidangan pokok diedarkan dan kemudian ditambah dengan hidangan tambahan berupa nasi ketan (dengan inti), apam, cucur dan kue-kue lainnya yang sebelumnya dipamerkan sebagai saji. Sebagian kue saji harus disiapkan untuk dibawa pulang oleh bidan dan perempuan-perempuan tua yang tadi membantu si wanita hamil itu mandi.

Dalam upacara mandi hamil ini memiliki arti perlambangan dan makna. Pecahnya mayang dengan sekali tepuk saja menandakan proses kelahiran akan  berjalan dengan lancar, tetapi bila perlu ditepuk beberapa kali agar pecah, konon  menandakan proses kelahiran akan terganggu (halinan baranak), meskipun  diharapkan akan berakhir dengan selamat juga. Proses kelahiran diperagakan dengan meloloskan lawai pada tubuh si wanita mengisyaratkan mudahnya proses itu. Pecahnya telur ketika dipijak juga melambangkan proses kelahiran yang cepat pula. Kelapa tumbuh yang dipangku dan kemudian digendong melambangkaan bayi. Memerciki dengan tepung tawar ialah guna memberkatinya.