Oleh
Kamariah
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya
kamariah.19015@mhs.unesa.ac.id

Abstrak

Penelitian ini mengkaji tentang simbol kultural yang digunakan dalam adat badudus pangantin Banjar. Pendekatan yang digunakanan adalah pendekatan semiotika kultural. yaitu kajian yang menekankan pada simbol dari sebuah budaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Sumber data primer didapatkan dari empat orang narasumber yang berada di  Kecamatan Gambut berusia 60-75 tahun. Teknik pengumpulan data berupa (1) observasi, (2) wawancara, (3) perekaman, (4) pencatatan. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini, didapatkan makna simbolik pada adat bamandi-mandi pengantin Banjar sebagai berikut: a. simbol baras bujur, pisang, siraman tiga kali, tapih, mayang, banyu doa, lilin, carmin, minyak bamantra, bubur putih, bubur habang dan pupur dengan makna pengantin hidup berkah, b. simbol nyiur, diawali sebelah kanan, dan kambang malati, dengan makna berperilaku baik. c. simbol baras lakatan, gula habang dan hintalu dengan makna hidup bersama.

Kata Kunci: makna, simbolik, badudus

Pendahuluan

Kebudayaan merupakan suatu sistem nilai, lambang, dan perilaku hidup serta
perwujudannya yang khas pada suatu masyarakat. Hal itu merupakan seluruh gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya. Kebudayaan menjadi identitas masyarakat yang bersangkutan sehingga dalam kenyataannya tidak ada dua masyarakat yang kebudayaannya seluruhnya sama.

Sebuah kebudayaan atau adat-istiadat dipertahankan oleh masyarakatnya dikarenakan, apabila tidak dilakukan takut terjadi hal-hal yang mungkin tidak diinginkan, dan berharap akan ada berkah apabila melaksanakannya. Adat biasanya berupa sebuah upacara yang didalamnya berisi rentetan ritual dengan persembahan serta doa atau mantra. Semua rangkaian acara, persembahan maupun mantra yang ada disetiap ritual adat suatu suku tentunya mengandung banyak simbol yang sarat akan makna dan harapan untuk yang melakukannya. Untuk mengungkapkan simbol adat tersebut digunakanlah semiotika kultural sebagai kajian.

Indonesia sangat kaya dengan tradisi kebudayaannnya. Ada bermacam-macam budaya yang berasal dari setiap suku bangsa yang tinggal di Indonesia. Salah satu daerah yang memiliki tradisi budaya adalah suku Banjar dari Kalimantan Selatan. Suku Banjar memiliki banyak tradisi budaya salah satunya adalah badudus. Badudus adalah tradisi mandi pengantin atau siraman. Badudus biasanya dilakukan sebelum acara resepsi perkawinan adat Banjar. Adat badudus dengan segala kelengkapannya menggandung simbol filosofi yang penuh pesan tentang tatanan kehidupan yang akan diarungi oleh kedua pengantin.

Orang Banjar selalu melakukan dan sering melihat adat badudus ketika ada prosesi upacara perkawinan, tetapi masih banyak yang tidak tahu makna, arti dan tujuannya. Padahal di dalam adat badudus sarat dengan simbol yang perlu dipahami. Setiap simbol dalam alur rentetan pelaksaan ritual serta peralatan yang digunakan pada saat acara penuh dengan makna. Maka untuk mengungkapkan itu semua harus dilakukan melalui sebuah kajian agar makna dari simbol menjadi jelas maksud dan tujuannya. Tujuan dilakukannya penelitian ini agar dalam acara badudus (siraman) pengantin tidak saja dijadikan ritual adat yang melambangkan kemegahan saja, namun bisa dijadikan sebagai budaya yang di dalamnya sarat dengan makna.

Adat atau budaya badudus pengantin Banjar merupakan warisan nenek moyang yang mempunyai nilai-nilai norma kehidupan. Badudus mengandung makna kehidupan membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, Petuah-petuah dan petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh orang tua merupakan bekal hidup calon pengantin. Hal itu tersirat pada persyaratan kelengkapan penyelenggaraaan ritual yang semuanya itu tujuannya adalah semata-mata untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan makna dari simbol budaya yang ada dalam adat badudus suku Banjar. Sedangkan tujuan penelian adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas khususnya kepada generasi muda Banjar tentang makna simbol dalam adat badudus. Hal itu dilakukan karena kekhawatiran terhadap generasi muda yang mulai melupakan adat serta kebudayaan Banjar.

Penelitian terdahulu mengenai Makna Simbol dalam Adat Badudus Pengantin Banjar belum pernah diteliti sebelumnya. Tentang adat badudus sendiri juga belum pernah diteliti sehingga bisa dikatakan penelitian ini baru pertama dilakukan. Penelitian terdahulu yang bisa dijadikan sebagai penelitian relevan diantaranya. Pertama, penelitian Berampu dan Adisaputera (2017) dengan judul Analisis Simbolik Pada Upacara Pernikahan Adat Pakpak (Kajian Semiotik). Hasil penelitian mereka menunjukkan bentuk simbolik tersebut memiliki makna denotasi, makna konotasi dan mitos. Secara umum, pemberian bentuk simbolik pada upacara adat Pakpak merupakan simbol penghormatan terhadap anggota keluarga dan simbol telah melaksanakan suatu upacara adat yang besar.

Kedua, Purwaningsih (2018) dengan judul Upacara Siraman Dalam Rangkaian Upacara Perkawinan Adat Jawa. Purwaningsih dalam artikelnya menuliskan bagaimana susunan acara dalam upacara Siraman dalam adat perkawinan adat Jawa. Dalam tulisannya disebutkan secara terperinci tentang prosesis dan apa saja yang harus dipersiapkan dalam upacara siraman. Ketiga, penelitian Irmawati (2013) dengan judul Makna Simbolik Upacara Siraman Pengantin Adat Jawa. Penelitian ini mengenai adat siraman (mandi) dalam upacara adat Jawa. Siraman dilakukan sehari sebelum pengantin melaksanakan ijab qabul. Dalam upacara siraman tata pelaksanaan dan peralatan (ubarambe) yang digunakan sudah maton/pakem sebagai sebuah simbol yang memiliki arti dan makna. Makna dan arti simbol dalam siraman tidak terlepas dari konteks Jawa.

Keempat, Setyaningsih dan Zahrulianingdyah (2015) dengan judul Adat Budaya Siraman Pengantin Jawa Syarat Makna Dan Filosofi. Hasil penelitian mereka tentang perlengkapan siraman pengantin adat Jawa berupa, tumpeng lengkap, tumpeng robyong, tumpeng gundul, jajan pasar, bunga tujuh rupa, kendi yang berisi dari tujuh sumber mata air bertuah, kain batik wahyu tumurun, cendol, uang kreweng dari tanah liat, kloso bongko, daun tolak balak, dan lain-lain. Perlengkapan yang disajikan mempunyai makna dan filosofi tuntunan hidup agar calon pengantin dapat mengarungi kehidupanyang bahagia dan sejahtera.

Dan Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Maya (2018) dengan judul Simbolisme Budaya Jawa Upacara Siraman Pengantin Di Kabupaten Kediri. Hasil penelitian Maya menunjukkan deskripsi bentuk simbol, makna simbol, dan fungsi simbol yang meliputi: sesaji, kenduri, sungkeman, siraman, dan dodolan dawet dalam tata cara upacara siraman pengantin budaya Jawa yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat luar untuk kembali menjunjung nilai kebudayaan dan keindahan upacara siraman pengantin yang sebenarnya.

Kajian Teori

Menurut Danesi (2010: 7) tanda merupakan konsep utama dalam analisis di dalam semiotika. Tanda membantu manusia untuk memaknai pesan yang dimaksud. Dalam tanda terdapat makna yang di interpretasikan oleh manusia. Secara sederhana tanda dapat berbentuk visual atau fisik yang ditangkap oleh indera manusia yang dapat merepresentasikan sesuatu yang selain dirinya.

Makna merupakan hasil interaksi dinamis antara tanda, interpretan dan objek; makna bisa berubah seiring dengan perkembangan zaman. (Fiske, 2012:77). Makna adalah hasil dari penandaan. Makna bukanlah konsep yang pasti dan statis yang bisa ditemukan dalam bentuk pesan. Karena tanda-tanda memiliki arti yang berbeda sesuai dengan keadaan sosiologi atau budaya.

Istilah makna (meaning) merupakan kata dan istilah yang membingungkan. Bentuk makna diperhitungkan sebagai istilah sebab bentuk ini mempunyai konsep dalam bidang ilmu tertentu, yakni dalam bidang linguistik (Pateda, 2004: 79). Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata) (Djajasudarma, 2009: 7). Pendapat lain mengenai makna juga diketengahkan oleh Aminudin (2011: 50) menurutnya kata makna dalam pemakaian sehari-hari digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pemakaiannya. Apakah pengertian khusus kata makna tersebut serta perbedaannya dengan ide, misalnya, tidak begitu diperhatikan. Sebab itu, sudah sewajarnya bila makna juga disejajarkan pengertiannya dengan arti, gagasan, konsep, pernyataan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi, dan pikiran.

Makna simbolik adalah akibat dari batas-batas yang mencair, hal tersebut sangat ditentukan oleh struktur hubungan kekuasaan yang berubah. Suatu kebudayaan bagaimanapun tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah. Persoalan yang penting di sini justru ruang yang menjadi wadah tempat kebudayaan itu berada telah mengalami redefinisi sejalan dengan tumbuhnya kota dan gaya hidup modern yang secara langsung di awali dengan perubahan ruang.

Thrift mengatakan bahwa simbol-simbol kebudayaan, tidak lagi mendapatkan suatu pengaruh generiknya sebagai pedoman atau acuan bagi tingkah laku. Simbol dengan maknanya menjadi suatu objek yang kehadirannya dihasilkan oleh suatu proses negosiasi yang melibatkan sejumlah kontestan dengan kepentingan masing-masing (Abdullah, 2010:4). Simbol merupakan suatu wadah tempat kebudayaan itu berada. Simbol dengan maknanya akan menjadikan suatu objek yang kehadirannya dihasilkan oleh suatu proses negosiasi yang melibatkan sejumlah kontestan dengan kepentingan masing-masing yang berbeda.

Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Simbol ini mengacu pendapat Spradley (Piliang, 2008:19) adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjukkan pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: pertama, simbol itu sendiri. Kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga, hubungan antara simbol dengan rujukan. Semua itu merupakan dasar bagi keseluruhan makna simbolik. Semantara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau alami.

Budiman (2011: 22) mengatakan bahwa simbol merupakan jenis tanda yang bersifat arbitrer dan konvensional. Tanda-tanda keabsahan pada umumnya adalah simbol-simbol dengan kata lain, menilik pengertian yang terakhir ini, apa yang disebut sebagai simbol sebetulnya berevekuivelensional dengan pengertian Sausure tentang tanda. Adalah suatu hal yang penting untuk dicatat bahwa kedua peletak dasar semiotika ini ternyata saling berkesesuaian mengenai pengertian fundamental ini. Sausure (Danesi (2012: 38) menjelaskan bahwa simbol memiliki sumber acuannya dalam cara yang konvesional. Kata-kata pada umumnya merupakan simbol. Tetapi penanda manapun sebuah objek, suara, sosok, dan seterusnya dapat bersifat simbolik.
Makna-makna dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui saluran berupa tradisi historis.

Pendapat lain mengenai simbol juga diketengahkan oleh Adjus (2004: 23 menurutnya simbol sebagai tanda yang hubungannya dengan apa yang diungkapkan tidak dekat, Artinya, hubungan antara simbol dengan realita yang diungkapkannya semata-semata bersandar atas kesepakatan masyarakat dan budaya yang menggunakannya. Kebudayaan merupakan keseluruhan bidang yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni moral, hukum adat, dan kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Wilson (Sibarani, 2004:2) kebudayaan adalah pengetahuan yang ditransmisi dan disebarkan secara sosial, baik bersifat eksistensial, normatif, maupun simbolis yang tercermin dalam tindakan dan benda-benda hasil karya manusia.

Koentjaraningrat (2014: 72-75) mengatakan bahwa semua tindakan manusia adalah kebudayaan berupa sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Di dalamnya mengandung adat istiadat yang merupakan suatu nilai budaya sebagai pedoman yang memberi arah serta orientasi kepada hidup, sangat umum sifatnya. Sebaliknya, norma yang terdiri dari aturan-aturan untuk bertindak sifatnya khusus, dan perumusan pada umumnya sangat rinci jelas, tegas, dan tidak meragukan. Apabila sifatnya terlalu umum, ruang lingkupnya terlalu luas, dan perumusannya terlalu kabur, maka suatu norma tidak dapat mengatur tindakan individu, dan malahan dapat membingungkan masyarakat.

Metode

Metode penelitian ini adalah dengan metode deskriptif analisis dengan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Sudarwan (2002: 153) adalah penelitian yang mengkaji data secara mendalam tentang semua kompleksitas yang ada dalam penelitian tanpa melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan yang lainnya. Jenis pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan analisis Semiotika kultural. Semiotik adalah Ilmu tentang tanda–tanda. semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa–peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Tanda didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensional sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. (Sobur, 2004: 123).

Subjek penelitian ini adalah sesepuh atau orang yang dituakan di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dengan rentang usia 60-75 tahun, khususnya orang tua atau sesepuh yang bisa dan mengerti tentang upacara badudus dalam adat Banjar. Peneliti menggunakan prosedur pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, perekaman, dan pencatatan. Setelah data semua terkumpul, tahap berikutnya adalah analisis data dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif yaitu peneliti memaparkan data secara keseluruhan terlebih dahulu. Setelah semua data terkumpul dan data sudah terjaring, peneliti selanjutnya menginterprestasikan dan menganalisis data yang akan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

1. Pengorganisasian data, yaitu proses yang menuju kepada pengaturan data pemilihan data yang sesuai dengan kajian yang dilakukan.
2. Interprestasi mengacu pada penelitian data, pemaknaan data dengan cara signifikan data yang ada. Selanjutnya data yang ada dihubungkan dengan idealisasi menyangkut deskripsi yang dihasilkan.
3. Merefleksikan data yang sudah terkumpul dengan pemahaman dan pengetahuan peneliti sesuai data yang didapat.

Langkah terakhir dalam penelitian ini adalah pengujian keabsahan data. Pengujian ini diperlukan untuk mendapatkan keabsahan data dalam penelitian. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan sangat menentukan dalam hal pengumpulan data. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data secara terus menerus sampai kejenuhan pengumpulan data. Hal ini dilakukan untuk membatasi kekeliruan peneliti, membangun kepercayaan para subjek terhadap peneliti serta kepercayaan diri peneliti.

b. Ketekunan pengamatan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan bersungguh-sungguh. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang diteliti, kemudian memusatkan perhatian pada hal-hal secara rinci. Dengan meningkatkan ketekunan pengamatan maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang ditemukan tersebut salah atau tidak, selain itu peneliti dapat memberi deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diteliti. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan wawasan yang luas dan tajam, maka data yang ditemukan adalah kebenaran dan dapat dipercaya.

c. Triangulasi
Triangulasi digunakan untuk mengecek data, deskripsi data dan hasil penelitian sementara. Triangulasi itu memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori sebagai sesuatu yang lain di luar data. Hasil triangulasi berguna sebagai verifikasi, terutama untuk mendukung kelengkapan hasil akhir penelitian. Dalam penelitian ini triangulasi dilakukan terhadap data hasil pengamatan makna simbol badudus masyarakat Banjar di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar.

Hasil dan Pembahasan

Upacara Badudus atau bapapai adalah acara mandi pengantin atau dalam adat Jawa disebut prosesi siraman. Masyarakat Banjar melaksanakan upacara ini saat seseorang akan melangsungkan pernikahan. Badudus merupakan upacara yang dilakukan pada masa peralihan antara masa remaja dengan masa dewasa (Ideham dkk, 2015: 78). Pelaksanaan upacara ini dilakukan sebelum acara resepsi perkawinan.

Sesuai dengan namanya, makna badudus secara umum adalah ritual yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan raga. Badudus merupakan tradisi tolak bala masyarakat Banjar di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Badudus menjadi sarana untuk membentengi diri dari masalah-masalah kejiwaan, yakni dari berbagai gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam. Dengan kata lain, Badudus merupakan sarana untuk menangkal penyakit, baik penyakit lahir atau batin (Seman, 2011:5). Tujuan pelaksanaan ritual mandi pengantin adalah untuk membentengi pengantin dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan. Jika tidak dipersiapkan penangkalnya, dikawatirkan kedua mempelai yang hendak malangsungkan pernikahan akan
terserang penyakit dan kehidupan rumah tangganya kelak akan digoyahkan oleh berbagai macam rintangan.

Proses mandi pengantin adalah suatu acara yang dilakukan oleh calon pengantin yang ingin melangsungkan acara perkawinan. Di mana calon pengantin akan menjalani prosesi siraman yang dilakukan oleh juru mandi pengantin dan dilakukan oleh anggota keluarga atau sesepuh yang dituakan. Prosesi mandi pengantin ini dilakukan 1 hari sebelum hari perkawinan. Mandi pengantin tersebut bertujuan untuk membersihakan jiwa calon pengantin yang bertujuan agar keburukan yang ada di dalam diri calon pengantin tersebut hilang, diharapkan agar setelah melakukan mandi pengantin tersebut calon pengantin tersebut menjadi lebih baik lagi, dan berkah dalam menjalani suatu kehidupan yang dijalani bersama pasangannya.

Prosisi badudus memiliki beberapa hal yang harus dipersiapkan serta tahapan dalam pelasanaannya. Calon pengantin terlebih dahulu menyediakan piduduk (kelengkapan syarat upacara (Hapip, 2007: 140)). Berupa, baras bujur (beras), baras lakatan (beras ketan), nyiur (kelapa), pisang, dan hintalu (telur). Piduduk biasanya disiapkan untuk roh-roh yang bisa menganggu dan kemudian setelah ritual adat badudus selesai diberikan kepada orang yang bertugas untuk memandikan pengantin atau bisa disebut sebagai pemandi-mandi. Setelah semua perlengkapan siap sebelum pengantin melakukan ritual mandi pengantin terlebih dahulu pengantin berias agar terlihat lebih cantik pada saat hari perkawinan. Setelah itu barulah prosesi mandi pengantin menggunakan air doa yang disiramkan sebanyak 3 kali secara bergantian dari bahu sebalah kanan, lalu bahu sebelah kiri dan kepala keseluruh tubuh sebanyak 3 kali dengan diiringi shalawat. Ritual bedudus ini tidak berhenti sampai prosesi pengantin mandi namun juga masih ada satu ritual lagi yaitu berias setelah mandi.

Peralatan dan bahan yang harus disiapkan dalam melaksanakan badudus adalah sebagai berikut:
a. Dadampar, yaitu tempat duduk (untuk duduk bersimpuh) pada saat mandi pengantin.
b. Mangkuk Kaca, untuk wadah bahan keramas bisa menggunakan shampo.
c. Gelas Dandang atau Baskom Kanal, untuk tempat menampung air bunga.
d. Poci atau Teko, untuk tempat menampung air yang digunakan sewaktu berdoa.
e. Tempayan atau guci, untuk tempat menampung mayang.
f. Baskom untuk menampung air bersih.

Seluruh perlengkapan dan bahan di atas disusun rapi sesuai dengan urutan rangkaian acara serta perlengkapan lain yang digunakan selama prosesi mandi pengantin. Prosesi mandi pengantin tersebut dilakukan oleh pemandi-mandi pengantin dan dibantu oleh tokoh tetua adat atau dari pihak keluarga yang dituakan di dalam keluarga tersebut. Hasil penelitian mengenai makna simbol adat badudus dipaparkan sebagai berikut.

a. Piduduk
Piduduk memiliki tiga makna yang terkandung di dalamnya yaitu hidup berkah, berperilaku baik, dan hidup bersama. Ketiga makna tersebut disimbolkan dari beberapa barang yang disiapkan dalam piduduk. Makna-makna dalam piduduk dijelaskan sebagai berikut.

1. Hidup berkah
Makna hidup berkah dalam piduduk dimaknai dengan dsimbol-simbol baras bujur (beras), dan pisang. Penjelasan makna simbol-simbol tersebut dipaparkan sebagai berikut.
1) Beras bujur
Baras bujur mempunyai makna sebagai bentuk kepercayaan bahwa beras itu mempunyai nilai kesucian karena beras memiliki warna putih, serta memiliki harapan agar dalam menjalani suatu hubungan dalam rumah tangga selalu diberikan kebahagian.
2) Pisang
Pisang mempunyai makna memiliki banyak manfaat yang bertujuan agar segala sesuatu yang dilakukan dapat bermanfaat bagi orang lain serta mendapatkan keberkahan.

2. Berperilaku baik
Berperilaku baik dalam piduduk di simbolkan dengan nyiur (kelapa). Nyiur mempunyai makna pohon kehidupan yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Harapan untuk calon pengantin agar hidupnya bermanfaat untuk orang lain agar mendapatkan keberkahan di dalam hidupnya karena perilaku baik yang mereka miliki.

3. Hidup bersama
Makna hidup bersama disimbolkan dengan baras lakatan (beras ketan), gula habang (gula merah) dan hintalu (telur). Berikut akan dijelaskan makna dari simbol tersebut.
a) Lakatan
Lakatan mempunyai makna bentuk pengharapan keselamatan bagi calon pengantin tersebut.
b) Gula habang
Gula habang mempunyai makna manis dan berwarna merah harapannya adalah segala sesuatu yang dilakukan selalu berbuah manis atau mempunyai makna bahwa gula tersebut dalam melambangkan suatu kehidupan yang indah yang dijalani bersama pasangan hidupnya.
c) Hintalu
Hintalu mempunyai makna simbol kehidupan sebagai kekuatan generasi yang diharapkan memiliki generasi penerus yang kuat dan selalu bermanfaat bagi orang lain. Serta diharapkan agar selalu bersama-sama menjalani kehidupan baik suka maupun duka.

Dari simbol-simbol yang terdapat pada piduduk, mempunyai makna kepercayaan yang tidak mudah dipahami karena menurut kepercayaan piduduk mempunyai makna perlindungan kepada sesuatu yang bersifat gaib, penguasa bumi, yang dipercayai dapat membuang keburukan. Piduduk bermakna agar segala hajat yang ingin dilakukan diberikan kemudahan, dijauhkan dari segala keburukan, karena menurut kepercayaan nenek moyang terdahulu jika ingin melangsungkan suatu prosesi acara maka harus menyediakan piduduk, dan jika tidak menyediakan piduduk maka akan berdampak kepala calon pengantin tersebut. Calon pengantin tersebut bisa kesurupan, bisa menjadi sakit, dan dipercaya piduduk itu merupakan cara agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan. Jika salah satu piduduk yang digunakan tersebut ada yang tertinggal maka akan mengurangi makna dan syarat tersebut karena itu, kepercayaan tersebut tidak mudah hilang dalam suatu acara. Namun sebagai masyarakat beragama dengan adanya simbol piduduk yang di gunakan tidak mengurangi pengharapan atau permohonan terhadap Allah swt.


b. Ritual berias sebelum mandi pengantin
Ritual berias juga mengandung dua makna yaitu hidup berkah dan hidup bersama. Kedua makna tersebut disimbolkan dari beberapa barang yang disiapkan saat prosesi berlangsung. Barang-barang tersebut adalah baras bujur (beras), pisang, nyiur (kelapa), lakatan (beras ketan), gula habang (gula merah), hintalu (telur). Makna-makna dalam ritual berias dijelaskan sebagai berikut.

1. Hidup Berkah
Makna hidup berkah dalam ritual berias sebelum mandi pengantin disimbolkan dengan baras bujur dan pisang.
a) Baras Bujur
Baras bujur tersebut jika dimasak tidak terlalu lengket dan terpisah-pisah yang artinya di dalam kehidupan berumah tangga, seseorang yang melangsungkan perkawinan menyatukan dua karakter pribadi yang berbeda-beda. Harapannya walaupun mereka memiliki karakter atau pemikiran berbeda nantinya akan selalu bersama. Jadi baras bujur tersebut mempunyai makna seseorang yang ingin melangsungkan perkawinan harus saling memahami sifat masing-masing agar mencapai suatu keberkahan di dalam rumah tangga. Hal itu dikarenakan untuk menyatukan dua karakter pribadi yang berbeda merupakan sesuatu yang sulit. Jadi, diharapkannya agar pasangan tersebut saling memahami dalam kehidupan rumah tangga supaya dapat berjalan dengan baik dan menemukan suatu keberkahan di dalam kehidupan rumah tangga dengan saling memahami.
b) Pisang
Pisang itu memiliki banyak manfaat bagi kehidupan, baik batang, daun, jatung pisang, dan buahnya. Mempunyai makna agar pengantin nantinya bisa bermanfaat bagi setiap orang. Pisang juga melambangkan keturunan yang banyak, karena pisang mudah tumbuh dan berkembang. Bagi calon pengantin, diharapankan agar dimanapun mereka berada bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan baik terhadap semua orang.

2. Berperilaku baik
Makna berperilaku baik juga disimbolkan dalam ritual berias sebelum mandi pengantin. Simbolnya juga sama dengan simbol piduduk yaitu nyiur. Nyiur dijadikan sebagai simbol perilaku baik karena nyiur atau kelapa itu memiliki banyak kegunaan, kelapa juga disebut sebagai pohon kehidupan karena kelapa sangat banyak kegunaan dari batang, daun, buah semua mempunyai manfaat bagi kehidupan, harapannya bagi pengantin agar dimudahkan dalam kehidupan bersama pasangannya dan mendapatkan keberkahan dengan perilaku yang baik.

3. Hidup bersama
Hidup bersama dalam ritual berias sebelum mandi pengantin dalam adat badudus dilambangkan dengan baras lakatan (beras ketan), gula habang (gula merah), hintalu (telur). Berikut pembahasan makna dari simbol-simbol tersebut.
a) Baras Lakatan
Baras lakatan mempunyai makna beras putih bersih yang melambangkan citra rezeki halal yang diharapkan setelah melangsungkan riasan sebelum mandi pengantin segala sesuatu yang di jalani dapat berjalan dengan lancar dan segala sesuatu dilakukan memiliki keberkahan di dalam kehidupan yang ingin dijalani bersama pasangannya. Baras lakatan itu lengket jadi harapannya jika seseorang melangsungkan pernikahan diharapkan agar selalu bersama, baik terhadap pasangan hidup, sehingga nantinya dapat menjalin keluarga yang harmonis dijauhkan dari segala sesuatu hal yang buruk. Diharapkan juga agar pasangan tersebut selalu bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Beras ketan juga mempunyai makna sebagai makanan yang sangat berguna bagi kehidupan. Harapannya agar dalam kehidupan setelah melangsungkan pernikahan pasangan tersebut dapat hidup berkah.
b) Gula Habang
Gula hanabang memiliki makna agar calon pengantin terlihat manis, memiliki paras yang cantik dan disukai banyak orang, serta memiliki makna kebaikan dalam kehidupan dalam rumah tangga, dan juga memiliki makna agar mudah bersosialisasi dan berlaku baik terhadap orang lain.
c) Hintalu
Hintalu memiliki makna perlambangan suatu harapan dan kekuatan generasi, harapannya agar dalam kehidupan selalu kuat dan tidak mudah pantang menyerah dalam menghadapi cobaan dalam kehidupan agar tujuan yang dijalani dalam kehidupan menjadi berkah, telur juga memiliki makna agar dimudahkan dalam mendapatkan keturunan.


c. Makna simbol dalam mandi pengantin
Ritual kedua dalam adat badudus adalah mandi pengantin yang merupakan puncak dalam ritual. Mandi pengantin biasanya dilakukan oleh 3 orang yang secara bergantian, namun jumlah penyiraman dalam mandi pengantin tersebut harus ganjil 3, 5, atau 7 dan biasanya yang sering dilakukan yaitu 3 kali penyiraman secara bergantian. Prosesi mandi pengantin yaitu yang pertama dilakukan siraman dari bahu sebelah kanan, lalu sebelah kiri, dan kepala diteruskan keseluruh tubuh sebanyak 3 kali secara bergantian dan pada saat penyiraman diiringi dengan salawat yang bertujuan agar calon pengantin selalu dilindungi dan di lancarkan setiap urusannya.

Sebelum mandi pengantin, pemandi-mandi pengantin menyiapkan gayung yang digunakan untuk mengambil air dari baskom yang sudah diberi air doa dan bunga, kemudian air tersebut disiramkan kepengantin secara bergantian sebanyak 3 kali dari tangan sebelah kanan lalu kiri selanjutnya kepala dan diteruskan keseluruh tubuh sebanyak 3 kali secara bergantian.
Pada saat penyiraman diiringi dengan salawat agar segala sesuatu yang dilakukan diberikan keselamatan. Dalam prosesi ini pengantin harus menggunakan sarung baru. Setelah prosesi mandi pengantin selesai, sarung yang digunakan calon pengantin pada saat prosesi mandi pengantin tersebut dilempar ke atas atap. Sarung yang digunakan tersebut setelah dilempar ke atap setelah beberapa hari diambil dan diberikan kepada pemandi-mandi pengantin.

Dalam mandi pengantin juga banyak terdapat simbol-simbol yang harus digunakan pada saat mandi pengantin. Simbol tersebut memiliki makna yang bertujuan agar calon pengantin menjadi lebih baik, dan bertujuan untuk kelancaran dalam mengarungi rumah tangga. Makna simbol mandi pengantin adalah bertujuan untuk membuang naas atau keburukan yang ada didalam diri calon pengantin, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya yang memiliki harapan setelah mandi pengantin dapat diberikan kelancaran dalam kehidupannya, dan diberikan kebahagiaan di dalam rumah tangga. Makna yang terkandung dalam ritual mandi pengantin ini juga mengandung harapan agar pengantin nantinya hidup berkah, dan berperilaku baik. Simbol-simbol tersebut diwujudkan pada siraman tiga kali, tapih (sarung), mayang, banyu doa, (air doa), nyiur (kelapa), dan kambang malati (bunga melati). Berikut pemaparannya.

1. Hidup berkah
Dalam prosesi mandi pengantin makna hidup berkah dilambangkan dengan siraman tiga kali, tapih, mayang dan banyu doa. Berikut pemaparannya.
a) Siraman tiga kali
Makna siraman tersebut sebanyak 3 kali karena segala sesuatu harus dilakukan berulang kali. Tujuannya agar keburukan yang ada bisa hilang, dan diberikan harapan pertolongan terhadap calon pengantin tersebut serta mempunyai hidup berkah.
b) Tapih
Menurut kepercayaan tapih (sarung) yang digunakan pada saat mandi pengantin itu harus baru yang mempunyai makna, calon pengantin tersebut ingin memulai kehidupan baru yang memiliki harapan dikehidupan yang baru agar diberikan kelancaran disetiap kehidupan, diberikan kebahagian dalam mengarungi rumah tangga.
c) Mayang
Memiliki makna seperti bunga yang sangat cantik yang bertujuan untuk calon pengantin agar salalu terlihat cantik dan disukai banyak orang, dan mayang juga memiliki makna lain yaitu digunakan untuk menghilangkan sesuatu yang buruk yang ada di dalam diri calon pengantin agar mencapai suatu tujuan kehidupan yang berkah.
b) Banyu doa
Banyu doa mempunyai makna sebagai permohonan harapan agar segala hajat yang ingin dilakukan diberikan kemudahan, serta dapat membersihkan jiwa dari segala sesuatu yang tidak baik yang ada di dalam diri. Banyu doa tersebut juga mempunyai makna agar pengantin terhindar dari keburukan, serta diberikan keselamatan disetiap kehidupan serta dimudahkan segala sesuatu yang ingin dilakukan. Banyu doa tersebut juga dibacakan doa dan salawat.
Makna salawat Allahumma salli alla sayidina Muhammad pada saat mandi pengantin yaitu suatu permohonan kepada Allah agar dapat menjalankan segala sesuatu kehidupan merasa lebih damai dan tenteram dan dapat mendekatkan hati kepada Allah. Doa pada saat mandi pengantin yaitu dibuka dengan Basmallah, shalawat, dan bacaan yang ada di dalam Alquran surah Al-Fatihah dan shalawat sebanyak sembilan kali, Surah Yasin, Surah Yusuf, karena dalam surah ini memiliki makna tentang pemberi pertolongan dan memberikan jalan yang lurus jadi harapannya agar calon pengantin tersebut selalu dijaga dan diberikan jalan yang terbaik dalam mengarungi rumah tangga, serta mempunyai makna dari Surah Yusuf tersebut adalah agar calon pengantin tersebut memiliki keturunan yang soleh dan solehah serta diberikan keturunan yang cantik dan ganteng.

2) Berperilaku baik
Berperilaku baik disimbolkan dengan diawali sebelah kanan, nyiur dan kambang malati berikut penjelasannya.
a) Diawali dari sebelah kanan
Makna mandi pengantin dilakukan dari sebelah kanan lalu sebelah kiri mempunyai makna dan harapan bahwa segala sesuatu yang dilakukan diawali dengan kanan diberikan kebaikan dan segala sesuatu yang dimulai di kanan pasti memiliki makna kebaikan yang terkandung didalamnya, karena nabi Muhamad saw. menyukai segala sesuatu yang dilakukan melalui arah sebelah kanan.
b) Nyiur
Nyiur atau kelapa yang digunakan pada saat mandi pengantin tersebut adalah kelapa muda yang memiliki makna harapan untuk calon pengantin agar disukai banyak orang. Kelapa digambarkan mempunyai bentuk bulat seperti bentuk bulan di mana bulan sangat cantik dan memancarkan cahaya. Dari pengibaratan tersebutlah muncul harapan untuk calon pengantin agar memancarkan cahaya dan terlihat sangat cantik serta disukai banyak orang dikarenakan memiliki wajah yang cantik serta memiliki hati yang cantik.
b) Kambang Malati
Kambang malati digunakan karena bunga tersebut cantik dan wangi. Kambang malati memiliki makna agar calon pengantin tersebut terlihat cantik disukai semua orang atau sering disebut naik sari pada saat acara perkawinan. Kambang malati melambangkan sesuatu yang indah dan harum, diharapkan calon pengantin tersebut memiliki perilaku baik terhadap orang lain.
Setelah prosesi mandi pengantin tersebut selesai calon pengantin masuk kedalam rumah dengan melangkahkan kaki diawali dengan kaki kanan yang mempunyai makna segala sesuatu yang dikukan dari sebelah kanan mempunyai makna dan harapan kebaikan apapun yang dilakukan agar selalu berada di jalan yang benar.

c. Makna simbol berhias naik mandi pengantin
Prosesi terakhir dalam adat badudus adalah berhias naik mandi pengantin. Prosesi ini dilakukan setelah pengantin mandi. Setelah selesai pengantin dimandikan maka calon pengantin tersebut duduk di atas tiga lapis tapih (sarung) yang telah disusun. Calon pengantin tersebut disisir, diminyaki dan diberi pupur, lalu sang calon pengantin tersebut akan dikelilingkan cermin dan lilin sebanyak tiga kali oleh sesepuh wanita yang memandii sebelumnya.

Pengantin tersebut dihias diberi pupur, minyak, dan dicerminkan bersamaan dengan lilin yang diputar sebanyak tiga kali putaran. Cermin yang digunakan setelah mandi pengantin tersebut mempunyai makna jika pada saat bercermin dan ada bayangan maka umur masih panjang, sedangkan hakikat hati jika bercermin dan bayangan buram atau tidak ada terpantul di cermin maka menurut narasumber umurnya tidak panjang. Kemudian baru diberi minyak ke kepala juga sebanyak tiga kali.

Ritual berias setelah mandi pengantin ini juga mengandung makna Berperilaku baik dan hidup bersama yang disimbolkan dengan, tapih (sarung), lilin, caramin (cermin), minyak bamantra (minyak yang mengandung mantra), bubur putih, bubur habang (bubur merah), pupur (bedak), lakatan, gula habang, dan hintalu. Berikut pemaparannya.

1) Hidup berkah
Hidup berkah dalam ritual berias naik mandi pengantin disimbolkan dengan tapih (sarung), lilin, caramin (cermin), minyak bamantra (minyak yang mengandung mantra), bubur putih, bubur habang (bubur berwarna merah), dan pupur. Berikut penjelasan dari makna simbol-simbol tersebut.
a) Tapih (sarung)
Tapih (sarung) yang digunakan saat ritual berias setelah mandi pengantin berjumlah tiga buah dan telah disusun berlapis-lapis. Susunan tapih tersebut mempunyai makna bahwa calon pengantin tersebut ingin mengarungi rumah tangga yang diharapkan selalu dilancarkan segala tujuannya dan diberikan keturunan yang memiliki akhlak yang baik.
b) Lilin
Memiliki makna sebagai penerang kehidupan agar diberikan kelancaran dan diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan yang ingin dilakukan bersama dengan pasangannya, yang mempunyai tujuan agar disetiap langkah yang ingin dilakukan selalu diberikan petunjuk di jalan yang benar, serta diberikan keberkahan dalam menjalani rumah tangga selalu bahagia bersama pasangannya.
b) Caramin
Caramin memiliki makna sebagai cerminan diri agar seseorang tidak bersikap sombong terhadap orang lain, walaupun setinggi apapun derajat tetap harus bersifat rendah hati. Cermin bermakna refleksi diri atas kesuksesan sehingga saat memandang ke atas diri merasa masih kurang dan harus berusaha lebih keras lagi. kemudian memandang ke bawah agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah swt. Dengan menggunakan simbol caramin diharapkan pengantin nantinya bisa berperilaku dengan baik di masyarakat.
c) Minyak bamantra
Dalam ritual ini digunakan minyak yang mengandung mantra. Mantra tersebut adalah.

Bismillahir rahmanir Rahim
Minyakku samangambang
Titikku si pulan-pulan
Awakku bercahaya seperti kembang
Mukaku bercahaya seperti bulan
Barakat Laa illahailallah
Muhammmadarrasulullah

Makna dari mantra tersebut adalah suatu permohonan agar calon pengantin memilki pancaran di dalam diri agar terlihat cantik di mata orang lain. Penganti juga diharapkan memiliki aura positif yang terpancar dalam diri dan disukai banyak orang. Mantra tersebut juga menyebutkan simbol bunga yang mempunyai makna kecantikan, dan wangi, yang memiliki makna agar calon pengantin tersebut awet muda.
Minyak yang digunakan juga memiliki makna. Makna minyak sebagai pelicin, diharapkan calon pengantin diberikan kelancaran disetiap kehidupan yang ingin dijalani bersama pasangannya. Minyak berhias juga mempunyai makna agar calon pengantin dapat terlihat lebih muda walaupun usianya sudah dewasa.
d) Bubur putih
Simbol bubur putih memiliki makna bahwa calon pengantin ingin melangsungkan suatu acara perkawinan yang suci. Kesesucian tersebut dimaksudkan agar di dalam menjalani kehidupan berumah tangga harus selalu selalu bersikap bijaksana dalam mengambil suatu keputusan untuk kebahagian di dalam rumah tangga. Bubur putih juga memiliki makna sebagai
ungkapan bentuk penyerah diri kepada Tuhan. Dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan hidup yang dijalani, karena hanya Tuhan pula yang dapat memberikan pertolongan keselamatan disetiap kehidupan. Harapannya adalah agar calon pengantin selalu diberikan jalan terbaik oleh Allah swt., karena segala sesuatu yang terjadi kehendak-Nya, dan manusia dihadap-Nya bukanlah apa-apa.
e) Bubur habang
Bubur habang memiliki makna calon pengantin ingin menjalani kehidupan baru, di dalam kehidupan tersebut diharapan agar selalu diberikan keselamatan. Sebagai permohonan ungkapan penyerahan diri yang dilakukan dengan doa, agar diberi keselamatan dan tanda mensyukuri nikmat yang telah diberikan, serta memberikan makna bahwa hidup itu harus selalu berbagi kepada orang lain saat mempunyai kelebihan
f) Pupur
Pupur memiliki makna kecantikan. Harapannya adalah agar aura kecantikan yang dimiliki calon pengantin dapat terpancar pada saat hari perkawinan. Jika seseorang suka berhias maka akan cantik, manis, dan enak untuk dipandang. Harapan lain dari pupur tersebut untuk calon pengantin adalah bukan hanya memiliki paras yang cantik tapi juga harus memiliki hati yang cantik juga, agar dapat berperilaku baik terhadap semua orang, murah hati dan tidak sombong
walaupun ia mempunyai paras yang cantik.
2) Hidup bersama
Makna hidup bersama yang digunkan pada saat ritual barias naik mandi pengantin disimbolkan dengan baras lakatan berikut penjelasannya. Baras lakatan memiliki makna di dalam menjalani kehidupan yang baru agar tidak tergoyahkan, selalu bersama, diberikan kebahagian dalam kehidupan yang ingin dijalani bersama pasangannya hal itu dimaksudkan agar hubungan terhadap suami dapat langgeng abadi sampai mati. Lakatan digunakan sebagai simbol karena ketan tersebut lengket dan rekat. Filosofinya agar bisa merekatkan diri terhadap yang lainnya dan sulit untuk dipisahkan. Harapan bagi calon pengantin yang ingin menjalani kehidupan baru agar selalu bersama walaupun di setiap perjalanan rumah tangga tidak selalu mulus, dan jika ada suatu masalah dalam kehidupan rumah tangganya agar tidak mudah putuh asa dan selalu melewatinya.

Makna dirias calon pengantin adalah agar memiliki aura kecantikan yang terpancar dan membuang keburukan yang ada di diri calon pengantin tersebut. Hal tersebut dikarenakan dalam berias juru rias tersebut membersihkan bulu-bulu yang ada disekitaran wajah yang mempunyai makna agar calon pengantin terlihat lebih cantik pada saat acara perkawinan. Berias juga memiliki makna agar keburukan yang ada di dalam diri hilang. Menurut kepercayaan setelah calon pengantin tersebut selesai berias, calon pengantin tersebut tidak boleh bercermin. Karena jika calon pengantin bercermin, maka menurut kepercayaan kecantikan tersebut akan memudar, di tarik oleh cermin tersebut. Setelah dirias calon pengantin tersebut diberi minuman kopi dan tubuh di beri lulur yang bertujuan agar calon pengantin tersebut kuat dan dapat memancarkan kecantikan baik didalam maupun diluar dan harapannya agar calon pengantin dapat menyelesaikan acara dengan baik dan selesai sampai akhir acara.

Setelah calon pengantin tersebut selasai dihias, juru mandi pengantin tersebut memimpin doa agar diberikan keselamatan bagi calon pengantin dan diberikan kelancaran dalam prosesi perkawinan tersebut. Dalam acara selamatan biasanya makanan yang disediakan yaitu bubur merah, bubur putih dan ketan yang mempunyai syarat agar diberikan keselamatan dan dilancarkan setiap urusan yang ingin dilakukan.

Diskusi

Simbol badudus adalah suatu simbol yang harus digunakan pada saat ritual badudus diselenggarakan. Simbol tersebut memiliki makna yang bertujuan agar calon pengantin menjadi lebih baik, dan bertujuan untuk kelancaran dalam mengarungi rumah tangga atau bentuk harapan keselamatan. Badudus merupakan suatu kepercayaan masyarakat Banjar. Badudus harus dilakukan satu hari sebelum menjelang hari perkawinan. Hal itu dikarena dalam badudus mempunyai makna untuk calon pengantin agar sesuatu yang tidak baik yang ada di dalam diri bisa hilang, dan bertujuan agar segala sesuatu yang dijalani diberi kemudahan dan dipercayai setelah melakukan adat tersebut segala sesuatu yang dijalani lebih mudah dan terarah. Menurut
kepercayaan badudus mempunyai makna untuk menghilangkan sesuatu yang buruk, baik untuk keharmonisan rumah tangga karena mempunyai harapan setelah badudus tersebut, jiwa lahir batin bisa menjadi bersih.

Dalam badudus ada beberapa ritual yang dilakukan yaitu menyiapkan piduduk, berias sebelum mandi pengantin, mandi pengantin dan berias setelah mandi pengantin. Makna piduduk yaitu bertujuan untuk calon pengantin agar acara tersebut dapat berjalan dengan lancar dan dapat terhindar dari gangguan yang tidak diinginkan atau mempunyai kegunaan sebagai permohonan keselamatan bagi calon pengantin.

Makna mandi pengantin yaitu sebagai permohonan berkat dan Rahmad Allah swt. agar calon pengantin dibersihkan dan dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Makna mandi pengantin tersebut juga sebagai sarana untuk membersihkan jiwa sehingga dapat melaksanakan acara dengan lancar dan selamat, selain itu, calon pengantin juga selamat dalam membangun rumah tangga dan dapat mencapai tujuan perkawinan.

Makna dirias calon pengantin adalah agar memiliki aura kecantikan yang terpancar dan membuang keburukan yang ada di diri calon pengantin. Hal tersebut dikarenakan dalam berias juru rias membersihkan bulu-bulu yang ada disekitaran wajah yang mempunyai makna agar calon pengantin terlihat lebih cantik pada saat acara perkawinan. Berias juga memiliki makna agar keburukan yang ada di dalam diri hilang.

Istilah Badudus juga dikenal dengan sebutan Bapapai. Sesuai dengan namanya, makna Badudus secara umum adalah ritual yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan raga. Badudus merupakan tradisi tolak bala masyarakat Banjar di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Badudus menjadi sarana untuk membentengi diri dari masalah-masalah kejiwaan, yakni dari berbagai gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam. Dengan kata lain, badudus merupakan sarana untuk menangkal penyakit, baik penyakit lahir atau batin.

Secara khusus, badudus bisa dilaksanakan untuk tiga subjek yang berbeda-beda, meski dengan tujuan yang kurang lebih sama.

Pertama, pelaksanaan mandi pengantin sebagai peralihan status calon pengantin dalam rangkaian upacara pernikahan adat Banjar, atau sering disebut dengan istilah badudus. Tujuan pelaksanaan mandi pengantin adalah untuk membentengi pengantin dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan. Jika tidak dipersiapkan penangkalnya, dikawatirkan kedua mempelai yang hendak malangsungkan pernikahan akan terserang penyakit dan kehidupan rumah tangganya kelak akan digoyahkan oleh berbagai macam rintangan.

Kedua, ritual Badudus yang dilakukan oleh orang yang akan menerima gelar kehormatan. Misalnya sebagai bagian dalam upacara penobatan raja atau upacara pemberian anugerah kebangsawanan dari kerajaan kepada orang-orang yang telah ditentukan. Maksud dilaksanakannya ritual Badudus dalam konteks ini adalah sebagai pelindung agar raja yang akan dinobatkan terbebas dari segala macam penyakit, baik lahir maupun batin, dan dapat menjalankan pemerintahan atau tugasnya dengan baik, bersih dari tindakan yang tercela, dapat berlaku adil, dan memikirkan kepentingan rakyat.

Ketiga, adalah Mandi pitu, yakni ritual mandi-mandi bagi perempuan Banjar yang dilakukan pada saat masa kehamilan pertama yang memasuki kehamilan tujuh bulan. Dalam hal ini, ritual badudus dilaksanakan dengan tujuan supaya sang calon ibu dapat melahirkan dengan mudah dan tidak ada halangan. Selain itu, agar si jabang bayi lahir dengan sempurna tanpa ada cacat apapun juga.

Dalam prosesi pernikahan adat Banjar, ritual mandi pengantin dilakukan satu hari sebelum hari perkawinan. Waktu pelaksanaan mandi pengantin adalah pada sore hari. Sedangkan dalam acara memperingati kehamilan pertama, ritual badudus dilakukan ketika usia kehamilan mengijak 7 bulan.

Masyarakat adat Banjar meyakini bahwa ritual Badudus harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh Kerajaan. Masyarakat lokal percaya bahwa leluhur mereka itu masih hidup di alam gaib dan sewaktu-waktu dapat diundang dalam acara-acara ritual tertentu.

Indonesia adalah hutan simbol yang rimbun, penuh belantara keunikan sekaligus daya tarik yang menggoda. Banyak budaya sebagai bagian dari tradisi asli yang menyimpan filosofi yang tidak usang di telan zaman. Salah satu dari budaya itu adalah adat badudus pangantin kepercayaan masyarakat Banjar.


Simpulan
Badudus adalah ritual adat masyarakat Banjar yang biasanya dilaksanakan sebelum pernikahan atau resepsi perkawinan dalam adat Banjar. Dalam badudus ada beberapa ritual yang dilakukan yaitu menyiapkan piduduk, berias sebelum mandi pengantin, mandi pengantin, dan berias setelah mandi pengantin. Saat badudus dilaksankan banyak simbol yang terdapat di dalamnya. Simbol-simbol tersebut tentunya sarat akan makna. Makna dari simbol-simbol tersebut adalah hidup berkah dengan simbol baras bujur, pisang, siraman tiga kali, tapih, mayang, banyu doa, lilin, caramin, minyak bamantra, bubur putih, bubur habang, dan pupur. Berperilaku baik dengan simbol nyiur, diawali sebelah kanan, dan kambang malati. Dan makna hidup bersama dengan simbol baras lakatan, gula habang dan hintalu.

 

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. 2010. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Adjus, Andri E. 2004. Makna Simbol dalam Upacara Perkawinan. Pekanbaru-Riau: Yayasan Pustaka Riau.

Aminuddin. 2011. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Berampu, Fitri Sari dan Abdurahman Adisaputra. 2017. Analisis Simbolik Pada Upacara Pernikahan Adat Pakpak (Kajian Semiotik). Jurnal Sasindo Vol. 6 No. 2.
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/sasindo/article/view/7768.

Budiman, Kris. 2011. Semiotek Visual Konsep, Isu, dan problem Ikonisita. Yogyakarta: JayaSutra anggota Ikapi.

Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Danesi, Marcel. 2012. Buku Teks Dasar Mengenal Semeotika dan Teori Komunikasi. Yogjakarta: Jalasutra.

Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik. Bandung: PT Refika Aditama.

Fiske, John. 2012. Pengantar Ilmu komunikasi/John Fiske: penerjemah Hapsari Dwiningtyas.-Ed. 3-1. Jakarta: Rajawali Pers.

Hapip, Abdul Djebar. 2017. Kamus Bahasa Banjar-Indonesia. Banjarmasin: Rahmat Hafiz Al Mubaraq.

Ideham, M. Suriansyah dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Yogyakarta. Ombak.

Irmawati, Waryunah. 2013. Makna Simbolik Upacara Siraman Pengantin Adat Jawa. Jurnal Walisongo, Volume 21, Nomor 2.
http://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/view/247.

Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi: Rienika Cipta.

Maya, Riski Tri. 2018. Simbolisme Budaya Jawa Upacara Siraman Pengantin Di Kabupaten Kediri. Jurnal Simki-Pedagogia Vol. 02 No. 06.
http://simki.unpkediri.ac.id/detail/13.1.01.07.0019.

Pateda, Mansyur. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Paliang, A. Yasraf. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jala Sutra.

Purwaningsih, Ernawati. Upacara Siraman Dalam Rangkaian Upacara Perkawinan Adat Jawa.
http://dpad.jogjaprov.go.id/public/article/599/UPACARA_SIRAMAN.pdf.

Seman, Syamsiar 2011. Perkawinan Adat Banjar Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Lembaga pengkajian dan pelestarian budaya Banjar Kalimantan Selatan.

Setyaningsih, Endang dan Atiek Zahrulianingdyah. 2015. Adat Budaya Siraman Pengantin Jawa Syarat Makna Dan Filosofi. Jurnal Teknobuga Volume 2 No.2.
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/teknobuga/article/view/6427.

Sibarani Robert. 2004. Linguistik Antropolinguistik. Medan: Poda.

Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudarwan, Danim. 2002. Menjadi Penelti Kualitatif. Bandung : Pustaka Setia.