Filosofi dari kalimat maangkat batang tarandam (mengangkat batang terendam) sangat kuat dan mendalam. Ini merupakan perumpamaan sebuah beban yang teramat sangat berat, yang harus dipikul di pundak
seluruh kerabat Kesultanan Banjar.

Batang itu adalah kearifan masa lalu yang tersimpan dalam budaya, tradisi dan sejarah kerajaan Banjar. Terendam dari permukaan selama lebih dari 150 tahun, semenjak kerajaan Banjar dihapuskan oleh kolonial Belanda, 1860. Tertutup onak dan duri kemajuan zaman, globalisasi dan modernisasi. Hingga nyaris tak terlihat lagi di permukaan, seolah tenggelam tanpa memberikan arti sedikit pun bagi generasi penerus.

Seperti yang diungkapkan tokoh budaya Kalimantan Selatan Datu Mangku Adat Adjim Arijadi, erosi budaya akibat kuatnya pengaruh budaya barat telah menggerus tatanan nilai di kehidupan masyarakat. Bahkan menurut beliau, globalisasi barat ada tidak saja setelah Kerajaan Banjar dihapuskan tetapi sudah ada sejak di zaman keraton/kerajaan. Belanda pun juga membawa seni barat ke dalam ranah budaya lokal, seperti adanya dansa dansi dan minuman beralkohol.

Kerabat Kesultanan Banjar jelas membutuhkan seorang pelopor yang bersedia menanggung luka, goresan onak dan duri, mampu mengangkat batang yang licin berlumut. Menggenggam batang besar, tidak hanya dengan kedua telapak tangan, tetapi mendekap dan menariknya hingga terangkat ke tepian. Menjejakkan kaki di tanah berlumpur dalam. Bahkan harus kuat menahan napas dalam waktu yang sangat lama, karena harus
berendam di dalam air di bawah batang berat dan besar. Air, lumpur, onak, duri dan lumut itu adalah modernisasi, globalisasi, demokratisasi, politisasi dan segala hal pragmatis yang penuh dengan prasangka. Siapa pun orangnya yang berani menjadi pelopor harus berani melawan arus negatif modernisasi dan globalisasi, menjejak langkah di lumpur demokratisasi,
menahan perih dan luka akibat politisasi dan tidak hirau akan pandangan pragmatis dan sakwasangka negatif.

“Nilai-nilai keraton yang sarat akan kesantunan sudah digerogoti kapang,” tegas Datu Adjim prihatin. Kapang adalah sebutan lain dari rayap kayu yang mampu menggerogoti sebuah batang besar sedikit demi sedikit. Makna kapang dapat dimaknai dari sisi internal dan eksternal. Eksternal seperti diungkapkan Datu Adjim sebagai aliran budaya barat yang tidak sesuai dengan norma masyarakat lokal. Internal adalah penggerogotan dari dalam seperti diungkapkan Ketua Lembaga Budaya Banjar Kalsel, DMA.
Suriansyah Ideham, adalah orang-orang yang tidak sepaham atau tidak mendukung usaha perjuangan ini baik dari masyarakat biasa bahkan juga dari kerabat kesultanan sendiri.

Jika mau dihitung tidak akan banyak orang yang mau mengambil peran ini apalagi harus terus bertahan menanggung beban berat sebuah “batang besar” sejarah, budaya dan tradisi yang sangat jauh dari keuntungan ekonomis apalagi politis.

Apa untungnya mengangkat sejarah, budaya dan tradisi? The Founding Father bangsa Indonesia Ir. Soekarno, pernah mengungkapkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam dan belajar dari sejarah. Satu-satunya keberuntungan mengangkat dan mempertahankan sejarah, budaya dan tradisi adalah memberikan modal dasar bagi bangsa ini agar dapat menjadi bangsa yang besar dan
bermartabat.

Datu Mangku Adat Suriansyah Ideham pun mengamini hal ini. Kerugian besar dari hapusnya Kerajaan Banjar menurut beliau adalah lunturnya nilai-nilai budaya dan keislaman. Datu Suriansyah mencontohkan hilangnya tradisi Bapukung. Dalam prosesi Bapukung, menurutnya, diisi dengan nyanyian syair-syair puji-pujian kepada Allah dan Rasulullah. “Sekarang tradisi ini mulai memudar seiring perkembangan zaman, berbeda saat zaman keraton, tradisi hidup dan lestari,” ungkapnya.

Mantan Gubernur Kalsel, Ir. HM. Said mengungkapkan hal serupa. “Telah terjadi pergeseran budaya kesantunan terhadap adat istiadat dan penghormatan terhadap orang tua”, ujarnya menanggapi fakta kerugian hapusnya Kesultanan Banjar 150 tahun silam. Yang dalam bahasa Datu Suriansyah norma kesantunan ini diidentikkan sebagai kemurnian budaya keraton.

Satu hal lagi yang tak kalah penting, ujar Datu Adjim Arijadi ketika menginventarisasi kehilangan besar atas runtuhnya Kesultanan Banjar yaitu terpinggirkannya kesenian, sastra, budaya dan pelestarian adat istiadat. “Kerabat Kesultanan Banjar harus bangkit untuk mengambil warisan seni, budaya dan adat istiadat keraton yang sangat elok,” tegas Datu Adjim.

Nilai keislaman, kesantunan, budaya, seni, sastra dan adat istiadat atau tradisi adalah nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi modal dasar membangun karakter bangsa. Semua tokoh serempak sependapat mengangkat nilai-nilai ini di zaman modern adalah merupakan pekerjaan yang sangat berat.

“Bagi saya tidak masalah kalau sekarang orang berpandangan jelek terhadap apa yang saya lakukan. Saya yakin dengan ini sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, bahkan ketika saya telah berkalang tanah, Banua Banjar akan menjadi banua yang maju, besar dan bermartabat dengan berpijak pada akar sejarah, budaya dan tradisi Kerajaan Banjar,” tegas Sultan Khairul Saleh pada satu kesempatan.

Ya! Sultan Khairul Saleh adalah satu dari sangat sedikit tokoh yang mau mengambil jalan teramat terjal itu. Perlu modal tekad, semangat, niat serta komitmen luar biasa. Dan ini semua tidak mungkin terbangun dalam waktu yang singkat. Latar belakang sejarah hidup, pendidikan, keluarga serta lingkungan yang terbangun sejak kecil, bahkan mungkin sejak dalam kandungan berupa doa orang tua, membentuk seorang Khairul Saleh “nekad” mengambil jalan yang jauh dari kesan populer ini.

Tokoh besar tidak serta merta menjadi besar sendirian. Pasti ada orang-orang di sekeliling yang menjadikannya kuat dan mampu menggali potensi diri. Bukan sanjung puja yang menjadikan seorang menjadi besar. Namun orang-orang yang memberikan kasih sayang tulus, persahabatan tanpa pamrih juga lawan debat dalam pemikiran dan keilmuanlah yang menempanya. Sultan Khairul Saleh beruntung selalu berada dalam lingkungan ini.