Kehadiran Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) didasari atas kesadaran akan sejarah panjang yang sangat menentukan dalam perjuangan Indonesia.

Peran kerajaan dan kesultanan sangat dominan. Ini tidak terlepas dari peran para sultan dan raja dalam melawan penjajah. Termasuk di dalamnya peran besar Kerajaan Banjar sebagai salah satu kerajaan besar di Kalimantan. Pusat kesultanannya terakhir di Martapura Kalimantan Selatan.

Setelah hampir 150 tahun ditenggelamkan, seiring perkembangan zaman, kini nilai luhur budaya masa lampau mulai diangkat ke permukaan. Keterlibatan kerabat/zuriat Kesultanan Banjar dalam Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara adalah salah satu buktinya.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 39 Tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitas Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah adalah payung lahirnya LAKKB. Dari sinilah gagasan pentingnya penyatuan ide, gagasan, gerak dan semangat bersama semua kalangan untuk maangkat batang tarandam (menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kearifan lokal masa lampau Kesultanan Banjar).

Bagi zuriat yang tergabung dalam LAKKB, yang kini sudah memiliki perwakilan di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, perkumpulan ini tidak dimaksudkan untuk menghidupkan kembali feodalisme masa lampau. Melainkan sebuah ijtihad untuk menggali, melestarikan dan mengenalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal budaya Kesultanan Banjar.

Setidaknya menurut Sultan Khairul Saleh sebagai penggagas dan pengurus pusat, LAKKB berfungsi sebagai perekat hubungan keluarga kerabat Kesultanan Banjar dan juga sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa, sebagai pelopor peningkatan kepahaman sosio-budaya serta sekaligus sebagai pelindung, pengayom anggota dan masyarakat secara umum. “Pernyataan ini dapat dibaca dengan jelas dalam fungsi LAKKB,” tegasnya.

Fungsi ini kemudian dijabarkan ke dalam rumusan maksud dan tujuan lembaga dalam rangka melestarikan budaya, tradisi dan adat-istiadat Kesultanan Banjar sebagai sumber akar budaya. Menghidupkan kembali nilai-nilai budaya warisan leluhur padatuan bahari. Mengangkat, menjaga kehormatan, harkat dan martabat, identitas serta derajat kemuliaan keluarga-kerabat Kesultanan Banjar.

Melakukan pengamatan, penelitian dan pengkajian terhadap aset-aset budaya leluhur Kesultanan Banjar termasuk penelitian sejarah, antropologi dan arkeologi. Memperjuangkan hak-hak budaya keluarga-kerabat Kesultanan Banjar, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Membangun kelestarian budaya seperti pembangunan Keraton Kesultanan Banjar berikut pemeliharaannya, termasuk di dalamnya situs-situs cagar budaya lainnya. Dan terakhir menyusun rencana dan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan serta pendayagunaan potensi aset kekayaan budaya dan peninggalan sejarah daerah. “Ungkapan politis tidak sedikit pun dimasukkan dalam rumusan tujuan didirikannya LAKKB,” terang Sultan Khairul Saleh.