Opini Tokoh: Ir. H. M. Said
(Gubernur Kalimantan Selatan Periode 1984 – 1995)


 

BERAT bagi seorang Raja Muda H. Khairul Saleh jika usaha pelestarian
budaya Kesultanan Banjar dilakukan seorang diri atau hanya dibantu beberapa orang zuriat. Kata kuncinya adalah perlu dukungan luas dari keluarga besar zuriat serta masyarakat bersama mengangkat batang tarandam.

Sejak Kerajaan/Kesultanan Banjar dihapuskan Belanda sekitar 150 tahun
silam, belum ada sosok zuriat atau masyarakat yang berani secara terang-terangan membangkitkan budaya Kesultanan Banjar. Baru Khairul Saleh yang mau seperti itu.

Di sini memang dibutuhkan pengorbanan dan keberanian luar biasa untuk melestarikan budaya dan adat istiadat keraton. Kritikan dari orang yang kontra terhadap usaha ini pasti akan disandang. Menurut pengamatan saya sikap kontra sebagian orang terhadap Lembaga Adat Kekerabatan dan Kesultanan Banjar (LAKKB) Kalsel lebih kepada faktor politis. Padahal jika kita amati usaha dan pelestarian budaya Kesultanan Banjar sebatas pada usaha menguatkan jalinan silaturhami zuriat dan kerabat untuk bersama melestarikan budaya kearifan lokal kesultanan.

“Tetapi saya yakin perbedaan persepsi ini akan tergerus dengan sendirinya seiring ketulusan para zuriat melestarikan budaya,” papar H. M. Said.

Banyak kerugian yang dialami masyarakat banua pascahapusnya Kerajaan Banjar. Contoh paling sederhana adalah pergeseran budaya kesantunan dan penghormatan terhadap orang tua. Di era keraton, nilai-nilai kesantunan kepada orangtua sangat kental sekali. Ini disebabkan sistem etika yang berlaku di kerajaan sangat dipegang teguh oleh keluarga dan masyarakat saat itu. Termasuk kentalnya penghormatan terhadap ajaran agama seperti acara selamatan, bamandi-mandi dan batapung tawar.

“Budaya ini sarat akan nilai-nilai luhur keagamaan,” ujarnya. Tidak semua budaya keraton perlu dipertahankan harus dipilah sesuai dengan etika kesopanan dan keislaman. “Saya berpesan lestarikan budaya Kesultanan Banjar yang memang sesuai etika dan kesantunan masyarakat kita,” pesan H. Said.