Misi inti dari lawatan Sultan Khairul Saleh bersama rombongan memperkenalkan budaya dan kesenian Kesultanan Banjar kepada publik Belanda, melalui pentas budaya Banjar pada “Tong Tong Fair 2011” di lapangan Malieveld, Den Haag, 24 Mei 2011, mendapat sambutan luar biasa dari publik.

Tim kesenian Kesultanan Banjar dipimpin Sultan Khairul Saleh bersama sang istri Ratu Raudatul Jannah datang atas undangan resmi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Sultan Khairul Saleh dan rombongan bangga karena bisa memberikan sajian yang terbaik dan mendapat atensi yang tidak henti-hentinya dari publik Belanda.

“Sungguh luar biasa. Kalsel boleh bangga atas pertunjukan seni dan tarian daerah yang penuh totalitas ditampilkan para penari,” puji Maria Mayabubun, Wakil Direktur Promosi untuk Eropa dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.

Tarian yang diperagakan yakni tari Mandau dan tari Ratu Zaleha. Tarian yang disajikan dengan penuh pesona itu mengisahkan keberanian seorang perempuan bernama Ratu Zaleha dalam memimpin peperangan melawan penjajah Belanda. “Semoga di tahun depan Raja Muda H. Khairul Saleh
kembali mengirim delegasi di Festival Tong Tong Fair,” harap Mayabubun.

Tidak sedikit warga Belanda yang masih kerabat Kesultanan Banjar merasa seperti kembali ke kampung halamannya. Donald Tick, salah satu kerabat Kesultanan Banjar yang sudah lama bermukim di Belanda, mengaku rindu dengan Indonesia.

“Kehadiran rombongan dari Banjar dengan kegiatan seni dan budaya, menjadi pengobat rindu dengan tanah leluhur saya di Banjar,” tuturnya.

Kerinduan yang sama juga dikemukakan Dick Ejsma yang juga masih kerabat Kesultanan Banjar. Pria yang sudah puluhan tahun meninggalkan Banjar ini tak mampu mengungkapkan rasa bahagianya saat menyaksikan kesenian daerah Banjar yang sudah cukup lama tidak disaksikannya lagi.

“Seakan-akan saya berada kembali di Banjarmasin atau di Martapura,” tuturnya. Para penari yang rata-rata berusia belasan tahun itu tampil memikat. Rasa gugup dan tegang sempat dirasakan, mengingat di pundak mereka terpikul tanggung jawab besar serta beban psikologis untuk bisa tampil prima demi menjaga kehormatan daerah.

“Alhamdulillah berkat doa bersama dan dukungan keluarga serta motivasi besar bapak dan ibu bupati, kami bisa mengurangi ketegangan dan rasa gugup,” tutur Rina Febriani, mahasiswa STKIP PGRI jurusan Pendidikan Seni Tari Banjarbaru usai mentas.

Rina Febriani, Hendra Cipta Grup Musik Panting Saraba Sanggam Taman Budaya Banjarmasin, mengurangi rasa gugup saat pentas selain berdoa adalah mengingat kepercayaan besar yang diberikan Kesultanan Banjar. Kekompakan peserta selama menjalani proses seleksi dan latihan menjadi spirit bagi tim untuk tampil maksimal. Dan, mereka mampu membuktikan kepada publik Eropa.

Nama Tong Tong Fair memang masih asing di telinga masyarakat ndonesia. Padahal, sejatinya event yang digelar setiap tahun di Den Haag ini tak lain adalah nama Pasar Malam Tong Tong. Pasar malam ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Aruh besar budaya ini dilaksanakan sejak tahun 1959.

Kehadiran Tong Tong Fair dilatarbelakangi perjalanan bangsa Indonesia dan Belanda selama kurang lebih tiga abad. Dalam perjalanannya telah menumbuhkan ikatan emosional yang kuat bagi warga Den Haag asal Indonesia yang telah berpindah kewarganegaraan Belanda. Masih kuatnya akar budaya asal (Indonesia), membentuk sebuah kelompok bernama Stiching Tong Tong (Yayasan Tong Tong).

Ajang Tong Tong yang secara rutin tiap tahun tidak hanya diikuti perwakilan budaya dari Indonesia, melainkan juga dari berbagai negara di daratan Eropa dan Asia. Tong Tong Fair 2011 telah menjadi agenda unggulan pemerintah Belanda dalam upaya menarik wisatawan. Ini dibuktikan dengan kehadiran ribuan pelancong dari berbagai negara Eropa, Arab, dan Asia untuk menyaksikan event tersebut.

Event yang selalu ditunggu-tunggu publik Eropa itu digelar setiap pertengahan tahun. Tidak hanya menampilkan acara keseniaan dan festival budaya, melainkan juga pameran produk unggulan negara-negara Eropa dan Indonesia. Panitia mendirikan ratusan stan yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare. Sultan Khairul Saleh yang juga Bupati Banjar bersama Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sulawesi Selatan diundang khusus mewakili Indonesia dalam event tersebut.

Sultan Khairul Saleh memanfaatkan betul momentum itu untuk ‘menjual’ berbagai produk unggulan daerahnya kepada publik Eropa dalam ajang tersebut. Salah satu yang mendapat perhatian yakni mempromosikan kerajinan khas Kalsel terutama batu-batu mulia seperti intan, akik dan batu kecubung. Para pengujung yang mendatangi stand banua banyak terpikat dengan batu-batu mulia dari Martapura.

Mr Cristian Roland, pengunjung asal Perancis tak henti-hentinya mengamati keindahan batu permata asli yang dipamerkan oleh Dinas Perdagangan Perindustrian Kabupaten Banjar. “Very.. very beautiful,” ucap pria itu sambil mengamati dengan seksama kilauan sebuah cincin hitam bertabur butiran intan yang melingkar indah pada rumahan cincin.

Apresiasi yang tinggi dari publik Eropa itu membuat senang peserta pameran asal Martapura yang diboyong Sultan Khairul Saleh ke Belanda. “Kita berharap di event budaya internasional ini nama besar Indonesia khususnya Kabupaten Banjar sebagai penghasil batu mulia akan dikenal lebih mendunia lagi,” tutur H. Ghia, salah satu peserta pameran. Selama ini masyarakat Eropa hanya mengenal Indonesia dari Bali dan Jogja, sementara Kalimantan terutama Banjar kurang mereka ketahui.