Jiwa kepemimpinan Sultan Khairul Saleh sudah tampak ketika menempuh pendidikan di sekolah teknik. Ayah dari Pangeran Dhia Hidayat dan Gusti Putri Dhia Karima ini, selalu terlihat menonjol dari rekan-rekannya. Sultan Khairul Saleh mengaku modalnya adalah berani, kerja keras, konsisten, dan selalu menghargai pendapat orang lain. Selain menuntut ilmu, di bangku formal, Sultan Khairul Saleh juga rajin menimba ilmu agama dengan kegemarannya mengunjungi para tuan guru atau orang alim dimanapun berada. Khususnya ketika masih mahasiswa, Sultan Khairul Saleh belajar ilmu tasawuf secara intens dengan kakeknya Haji Gusti Aman, saudara dari neneknya. Dari menimba ilmu tasawuf itu yang kemudian menjadikan Khairul
Saleh sosok yang bijak dan selalu rendah hati.

Sultan Khairul Saleh tak pernah malu melakukan hal yang positif. Ketika kuliah di Fakultas Teknik, Sultan Khairul Saleh bersama teman-temannya sempat berjualan minyak keliling menggunakan mobil pick-up. Dari sini jiwa kewirausahaan semakin terbina. Ini terbukti selepas lulus dari Fakultas Teknik tahun 1989. Bersama teman-teman satu alumni, Khairul Saleh berusaha mengubah hidup menjadi pengusaha sukses. Berbekal ilmu yang ditekuninya di Fakultas Teknik, Sultan Khairul Saleh bersama Gusti Perdana Kesuma mendirikan PT. Gusindo, perusahaan jasa konsultan perencanaan dan pengawasan.

Diawal 1992, Sultan Khairul Saleh sebagai PNS pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin, dipercaya sebagai pengawas pembangunan sebuah masjid di jalan Pangeran Antasari. Pernah suatu hari karena terlalu serius bekerja, Sultan Khairul Saleh terjatuh dari lantai atas mesjid. Untungnya tidak mengakibatkan cedera yang serius.

Berkat kerja keras Sultan Khairul Saleh bersama teman-temannya, perusahaan berkembang pesat, dan banyak menangani berbagai proyek pembangunan milik pemerintah maupun swasta. Kesuksesan terus mengiringi langkah Sultan Khairul Saleh. Kala itu dia bahkan ingin total menjadi pengusaha, ketimbang jadi pegawai negeri seperti yang diinginkan orangtuanya. Keinginannya menjadi pengusaha itu sempat diutarakan kepada kedua orangtuanya. Namun, kekerasan hati Sultan Khairul Saleh akhirnya luluh setelah sang bunda Hajjah Kartinah membujuk dan memintanya agar menjadi pegawai negeri.

“Saat itu dia keras ingin menjadi pengusaha. Tetapi, ibu akhirnya bisa melunakkan hatinya,” kenang Pangeran Jumri. Berbekal gelar insinyur yang disandangnya, Sultan Khairul Saleh mengikuti tes pegawai negeri di lingkungan Pekerjaan Umum yang kala itu masih berada di bawah Departemen Pekerjaan Umum. Sultan Khairul Saleh akhirnya diterima menjadi pegawai pada tahun 1992.

Seperti umumnya pegawai baru, Sultan Khairul Saleh menempati posisi staf biasa di Dinas PU Pemko Banjarmasin. Karir Sultan Khairul Saleh mulai bersinar ketika dia dipercaya menangani proyek pemerintah urban road sektor yang didanai oleh Bank Dunia. Keuletan dan kerja keras Sultan Khairul Saleh dalam menuntaskan pekerjaan, kerap diacungi jempol pimpinan.

Berkat keberhasilannya mengerjakan proyek Bank Dunia, Sultan Khairul Saleh
mendapatkan kenaikan pangkat istimewa dari wali kota sebagai apresiasi atas kinerjanya. Prestasi itu diukir Sultan Khairul Saleh setelah menyelesaikan proyek dari Bank Dunia yang seharusnya selesai tujuh tahun dapat diselesaikannya dengan crass program dalam tempo empat tahun.

Hal ini tentunya membuat pimpinannya senang, Sebab, dengan begitu sisa dana dari proyek Bank Dunia dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin untuk proyek pembangunan lainnya. Proyek tersebut di antaranya pembangunan Jembatan RK Ilir di Teluk Tiram Banjarmasin, yang merupakan salah satu buah karyanya.

Puncak karir Khairul Saleh di Pekerjaan Umum adalah ketika Wali Kota Sofyan Arpan mengangkatnya sebagai Kepala Dinas PU Kota Banjarmasin tahun 2004.