Ketika pemerintahan kolonial mulai menguasai wilayah Kesultanan Banjar, para pejabat yang berwenang menjelajah wilayah kesultanan untuk mengatur strategi memperluas wilayah. Dari hasil penjelajahan ini mereka dikagumkan oleh tampilan alam Banjar yang penuh dengan kanal-kanal.

Kondisi ini mirip dengan negeri Belanda yang banyak membangun kanal-kanal untuk keperluan transportasi dan pengairan. Kanal-kanal yang ada di Kesultanan Banjar adalah buatan manusia yang dibangun rakyat Banjar dengan teknologinya sendiri secara turun temurun.

Kanal Banjar dibuat secara tradisional menggunakan alat berupa lempengan baja yang disebut sunduk. Alat ini berfungsi sebagai pahat atau tatah yang ditekan menggunakan tenaga tangan sehingga mengiris lapisan tanah untuk membentuk saluran yang diinginkan. Karena penggunaan alat pahat atau tatah inilah maka rakyat Banjar menyebut kanal dengan istilah Tatah.

Tatah buatan rakyat Banjar terdiri dari berbagai jenis dan fungsi. Selain itu juga memiliki nama masing-masing. Secara umum dalam istilah barat, saluran dibagi menjadi saluran primer, sekunder, dan tersier. Akan tetapi rakyat Banjar membuat lagi istilah khas untuk menamai kanal-kanal ini.

Tatah memiliki nama turunan yaitu Anjir, Handil, Antasan, dan Saka. Berdasarkan ukurannya Anjir adalah saluran primer yang menghubungkan dua sungai utama. Misalnya Anjir Serapat yang menghubungkan Sungai Barito dan Sungai Kapuas. Kemudian istilah Handil yang memiliki ukuran lebih kecil dari Anjir, umumnya bermuara dari satu sungai yang sama. Handil mengambil sumber air dari satu sungai untuk mengairi daratan di sekitar Handil. Ada juga Handil yang mengambil air dari Anjir.

Untuk istilah Antasan lebih kepada penggunaan jalur transportasi, karena antasan berfungsi untuk memperpendek jarak dari anak sungai yang ada di pedalaman menuju sungai utama. Antasan juga bisa dipakai untuk pengairan di jalur yang dilaluinya.

Sedangkan Saka berarti tatah-tatah kecil yang dimiliki pemilik lahan. Saka mengambil air dari handil atau antasan yang digunakan untuk kepentingan pribadi seperti penggunaan transportasi air dan pengairan sawah. Ukuran saka paling kecil dibanding tatah yang lain. Umumnya lebar antara 2 – 4 meter dengan kedalaman tidak lebih dari 2 meter.

Pada penggunaannya, Anjir berfungsi untuk sarana umum yang boleh digunakan untuk pengairan dan transportasi, penggunaan anjir tidak dipungut biaya. Hal ini berbeda dengan Antasan yang pada masa kolonial berupa jalan toll yang penggunaannya dipungut biaya. Seiring dengan masa proklamasi kemerdekaan Indonesia, penggunaan antasan lebih berfungsi sebagai jalur lalu lintas air secara umum.

Pembuatan kanal oleh rakyat Banjar ini berhubungan dengan kondisi alam di wilayah Kesultanan Banjar yang dipenuhi lahan pasang surut. Kebutuhan akan sumber air bagi daerah darat akan sangat terbatas apabila hanya berharap pada kondisi tersebut. Karena inilah akhirnya berkembang kemampuan rakyat Banjar untuk membuat kanal-kanal sebagai upaya mengalirkan air dari sungai besar menuju lahan-lahan yang ada di darat untuk kemudian digunakan sebagai transportasi, pengairan sawah, dan kebutuhan air bersih.

Kemampuan merekayasa pengaruh pasang surut dengan membuat kanal menunjukkan kemajuan peradaban yang dimiliki oleh rakyat Banjar. Dalam membangun kanal puluhan kilometer panjangnya di masa lalu, rakyat Banjar hanya mengandalkan tenaga manusia tanpa bantuan alat berat.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan rakyat Banjar memulai teknologi pembuatan kanal atau tatah ini. Karena rakyat Banjar memiliki istilah yang khas untuk kanal-kanal ini maka diyakini rakyat Banjar telah sejak lama memiliki sistem kanal sendiri.

Bahan Bacaan :

Prof. Bambang Subiyakto (2010) Anjir, Handil dan Saka, Budaya Material  Masyarakat Banjar.

Jurnal Perspektif Arsitektur, volume 11/No.2 Desember 2016. Sejarah Arsitektur Kanal di Kalimantan Tengah.