Ketika Desember 2011 dilaksanakan perayaan Milad ke-507 Kesultanan Banjar. Menurut Sultan Haji Khairul Saleh, angka 507 dihitung berdasarkan tahun hijriah. Pangeran Samudra (Sultan Suriansyah) diangkat menjadi Raja Banjar 1520 M bertepatan 926 H.  Bulan Desember 2011 masuk Tahun Baru Islam 1433 H, jadi rentang waktunya sudah 507 tahun. Begitulah cara menghitung seterusnya.

Milad lima abad lebih Kesultanan Banjar ini dihelat makin meriah dibanding acara penobatan Pangeran Khairul Saleh sebagai Raja Muda pada Desember 2010. Menurut Panitia Milad, Gusti Marhusin, acara diisi antara lain  pameran budaya, seni rupa refleksi eksotik KB, bursa keris dan tosan aji nusantara, Asyura, wayang, madihin, bakisah, seminar sejarah dan budaya, karnaval, festival tari, lailatul qiroah dan malam seribu doa. Akumulasi acara diharapkan dapat merefleksikan Banjar wayah bahari (zaman dulu).

Melihat materi acara tampak aruh ganal Kesultanan Banjar merupakan paduan antara pagelaran budaya, nuansa agama dan kajian ilmiah. Hal ini sejalan dengan makna milad (maulud, maulid atau mulud) yang dalam bahasa Arab berarti hari lahir atau waktu lahir, keadaan waktu lahir, yang tidak terpisahkan dari bapak dan ibu yang melahirkannya, bidan yang membantu kelahiran, juga setting cerita saat kelahiran itu terjadi. Kita perlu bersyukur sekaligus berharap milad kali ini turut memberi kontribusi untuk kebaikan banua Banjar, terutama penyegaran sejarah dan budaya.

Menyederhanakan Sejarah

Sejarah Banjar lebih banyak berkutat dalam cerita lisan. Tulisan asli penulis Banjar sejak masa-masa awal nyaris tidak ditemui. Penulis sejarah Banjar masa lalu kebanyakan justru orang Belanda seperti Van Rees, De Rutte, De Clereg, JJ Ras, dll. Dikhawatirkan mereka agak subjektif dan kurang paham terhadap Banjar dan Islam. Sayang sejarawan, budayawan, bahkan ulama Banjar kemudian ikut terpengaruh.

Di sebuah acara televisi nasional, seorang tokoh Banjar di Jakarta mengatakan, kedatangan tentara Demak ke Banjarmasin guna membantu Pangeran Samudra berhasil menghabisi Kerajaan Hindu Negara Daha di tanah Banjar. Kata-kata ”menghabisi” bahkan diulang berkali-kali. Akibatnya mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung yang menghadiri acara televisi itu setengah memprotes, apakah Islam di banua Banjar disiarkan dengan kekerasan dan paksaan. Maklum, Padjajaran adalah Kerajaan Hindu terbesar dan terakhir di Jawa Barat yang tak kunjung mampu dikuasai Majapahit, sampai terjadi peristiwa Bubat yang tragis.

Masuk Islamnya Pangeran Samudra juga dikatakan sebagai persyaratan bantuan. ”Maka kata Sultan Demak (kepada Patih Balit yang menjadi utusan Banjar): Mau aku itu membantu lamun anakku raja Banjarmasih itu masuk agama Islam. Lamun tiada masuk Islam,  tidak mau aku bertulung”. Artinya, kalau tidak masuk Islam Demak tidak akan membantu. Kalimat vulgar ini tertera dalam Hikayat Banjar karya JJ Ras. Setelah persyaratan dipenuhi, Demak bersama Samudra siap menghabisi Kerajaan Hindu yang saat itu dipimpin pamannya Pangeran Tumenggung. Menurut saya setting cerita pengislaman Banjar begini  berlebihan dan tampak didramatisasi. Seolah Demak sangat pamrih, memaksa, dan Banjar dalam posisi terpaksa.

Umum diketahui Pangeran Samudra diangkat oleh para patih dan rakyat Banjarmasin. Begitu diangkat pecahlah perang saudara dengan pamannya. Perang yang tak berkesudahan berakibat rakyat paceklik. Sunan Giri yang berdagang ke Banjarmasin pun memberi penduduk sejumlah logistik secara gratis. Kondisi ini mendorong Samudra minta bantuan Demak yang saat itu dipimpin Sultan Trenggana. Bantuan Demak yang tak saja berupa tentara tapi juga logistik (pangan) dan beberapa ulama, berhasil mengantarkan Pangeran Samudra kepada kemenangan.

Lebih logis, Pangeran Samudra dan keluarganya masuk Islam sebagai ungkapan terima kasih, sekaligus menyongsong masa depan, sebab saat itu Islam memang sedang naik daun di Nusantara. Pengislaman banua Banjar yang sebelumnya sudah berjalan, namun agak lambat, berubah cepat karena rakyat Banjar yang paternalistik/feodalistik serta merta mengikuti agama rajanya. Tetapi Islam tidak disiarkan secara kekerasan. Meski Islam dijadikan agama resmi negara, penyiarannya tetap persuasif. Sultan Suriansyah berseru:: ”Wahai rakyatku, baik yang ada di kota maupun di desa dan pedalaman,  di pinggir pantai, di gunung dan di mana saja, mari masuk Islam mengikuti agamaku. Tetapi kalau kalian menolak, tidak apa-apa. Asal kalian tetap setia, maka kalian tetap menjadi banjaranku (menjadi rakyatku di Kesultanan Banjar)”.

Jelas pengislaman di tanah Banjar secara damai. Relatif sama dengan penyiaran Islam  di wilayah-wilayah Nusantara lainnya. Terbukti nuansa kepercayaan lama masih hidup, yang kemudian diberi warna Islam. Sekiranya Islam disiarkan lewat peperangan dan paksaan, tentu tak ada yang tersisa. Semua pasti akan berganti dengan Islam ala Timur Tengah.

Peperangan lebih bersifat elit antara paman dengan kemenakan, dan rakyat terbawa-bawa. Kekalahan Pangeran Tumenggung juga bukan semata ada bantuan Demak. Hatinya luluh, karena dalam perang tanding, Pangeran Samudra melempar senjatanya sebab tidak sampai hati membunuh pamannya sendiri. Akhirnya sang paman mengalah dan menghindarkan diri ke daerah Alai Meratus. Ada versi, Tumeggung masih diberi kekuasaan mengurus daerah-daerah hulu.

Peran Demak boleh juga tidak terlalu besar. Kesultanan Banjar tidak lama membayar upeti kepada Demak. Giliran Demak mundur pasca tewasnya Sultan Trenggana (1546), Banjar tak lagi membayar upeti tahunan. Tak heran ada sejarawan berani mengatakan, pengislaman Banjar bukan karena hubungan dengan Demak, tetapi atas jasa para pedagang dan ulama.

Forum seminar kesejarahan dan kebudayaan diharapkan dapat mengkaji kembali beberapa kontroversi di atas. Tidak harus membongkar pasang kisah sejarah yang sudah dibukukan dan jadi panutan umum, tapi minimal ada perspektif yang berbeda, sehingga dapat dijadikan bahan bandingan, masukan dan pengayaan.

Aktualisasi Budaya

Banjar kaya dengan khazanah budaya, fisik maupun nonfisik. Semua penting sekali digali, dikelola dan dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Melalui pesta budaya pada Milad Kesultanan Banjar, kita tak hanya mengenang sejarah dan budaya Banjar masa dulu, tetapi perlu menjadikannya sebagai aset masa kini untuk dikembangkan lebih lanjut ke depan. Termasuk tentunya dapat meningkatkan pariwisata di daerah, yang hingga kini masih kalah dibanding daerah-daerah lainnya.

Kini banyak sekali generasi muda kita yang tidak lagi melek terhadap budaya leluhurnya. Mereka seperti bingung, budaya Banjar itu seperti apa. Akibatnya mereka gampang meniru budaya luar, yang belum tentu sesuai dengan agama dan budaya ketimuran daerahnya. Banyak pula nilai-nilai luhur dan kearifan lokal Banjar yang terancam punah.

Berkaca pada daerah-daerah lain di nusantara yang budayanya masih hidup, lebih disebabkan lembaga kesultanan dan kerajaan berikut lembaga budayanya tetap eksis. Mereka tidak sekadar bergantung pada departemen dan dinas kebudayaan milik pemerintah. Eksistensi budaya membutuhkan lembaga pemangku, pengembang dan budayawan yang bergerak secara mandiri, ikhlas dan penuh penjiwaan.

Sepantasnya kita apresiasi dan dukung Kesultanan Banjar yang berkhidmat di ranah budaya, tanpa perlu kita rancui pikiran dengan anasir politik yang kadang membuat kita tak lagi jernih dan objektif. Kesultanan Banjar memberi ruh, semangat dan energi budaya agar budaya Banjar ke depan lebih hidup.