Ditulis oleh:
Datu Cendikia Hikmadiraja Ahmad Barjie B

Sudah umum diketahui dan banyak dikemukakan dalam buku-buku sejarah Banjar bahwa Kesultanan Banjar didirikan oleh Pangeran Samudra. Kesultanan Banjar pertama kalinya berdiri dan menjadikan Banjarmasin sebagai ibukotanya. Beliau diangkat sebagai Sultan Banjar oleh beberapa orang Patih di Banjarmasin dan sekitarnya, di antaranya Patih Masih, Patih Muhur dan Patih Balitung.

            Pengangkatan Pangeran Samudra didasarkan pada statusnya sebagai salah seorang keturunan para raja Kerajaan Negara Dipa dan Negara Daha yang berpusat di Amuntai dan kemudian berpindah ke Negara. Lambung Mangkurat putra dari Empu Jatmika adalah Patih Negara Dipa yang mendatangkan Pangeran Suryanata dari Majapahit guna mengawini anak angkatnya Putri Junjung Buih. Pangeran Suryanata yang beristri Putri Junjung Buih merupakan raja pertama Negara Dipa.

            Setelah mangkat ia digantikan oleh Pangeran Surya Gangga Wangsa. Di antara versi sejarah menyatakan, urutan para raja di Negara Dipa adalah Pangeran Suryanata, Pangeran Surya Gangga Wangsa, Pangeran Carang Lalean dan Pangeran Sekar Sungsang. Versi lainnya menyatakan, di antara penguasa tersebut ada juga Pangeran Surya Wangsa dan Putri Kalungsu.  

            Pemindahan pusat kerajaan dari Amuntai ke Negara Daha terjadi di masa pemerintahan Pangeran Sekar Sungsang yang bergelar Maharaja Sari Kaburangan. Ia mempunyai dua orang putra, yaitu Pangeran Sukarama dan Pangeran Bangsawan. Setelah Sari Kaburangan mangkat ia digantikan oleh Maharaja Sukarama.

     Sukarama memiliki lima orang anak yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, Pangeran Bagalung, Pangeran Jayadewa dan Putri Galuh Intan Sari.  Putri Galuh kawin dengan anak dari Pangeran Bangsawan yang bernama Mantri Jaya, dari perkawinan ini lahirlah Pangeran Samudra. Dialah yang diberi wasiat oleh Maharaja Sukarama untuk mengantikannya kelak. Wasiat ini mengecewakan para pangeran, karena mereka sama-sama ingin menjadi raja. Karenanya keselamatan Pangeran Samudra berada dalam bahaya. Atas nasihat Patih Aria Taranggana, Pangeran Samudra disuruh melarikan diri ke kawasan selatan (Banjarmasin), dengan menyamar sebagai rakyat biasa dan bekerja sebagai nelayan.

         Setelah Maharaja Sukarama wafat, dan Pangeran Samudra menghilang, terjadi kegaduhan internal istana kerajaan. Kalangan istana kemudian mengangkat Pangeran Mangkubumi sebagai raja, yang tidak lama kemudian dibunuh oleh saudaranya Pangeran Tumenggung melalui orang suruhan bernama Saban, yang kemudian dibunuh lagi guna menghilangkan jejak. Sejak itu Pangeran Tumenggung menjadi Raja Negara Daha.

Masuk Islam

            Keberadaan Pangeran Samudra yang oleh para patih dan rakyat diangkat sebagai Raja di Banjarmasin membuat Pangeran Tumenggung marah dan kemudian terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan ini berlangsung lama dan dahsyat dan banyak mengorbankan pasukan dan rakyat. Bahkan rakyat Banjar saat itu sempat mengalami masa paceklik, sehingga ketika Sunan Giri dari Demak berdagang ke Banjarmasin beliau banyak menolong masyarakat yang tidak mampu membeli barang jualannya.

  Pangeran Samudra sempat terdesak, tetapi kemudian berhasil memenangkan peperangan ini, antara lain karena adanya bantuan tentara dari Kesultanan Demak. Ada versi mengatakan, Pangeran Samudra dan Pangeran Tumenggung terlibat perang tanding, dan karena kedua orang yang masih berhubungan darah ini tidak tega saling bunuh, akhirnya dilakukan perdamaian. Pangeran Tumenggung mengaku kalah dan menyerahkan kerajaannya kepada Pangeran Samudra, dan ia tetap diberi kekuasaan memerintah di daerah Alai. Selanjutnya, Pangeran Samudra sekeluarga masuk Islam di bawah bimbingan Khatib Dayyan, dan bergelar Sultan Suryanullah atau Sultan Suriansyah. 

         Momentum pengislaman Sultan Suriansyah sekeluarga tersebut menurut sebagian ahli sejarah terjadi pada tanggal 24 September 1524 M, versi lain  tahun 1526 M, saat itu bertepatan dengan tahun 926 H. Momentum inilah yang kemudian dijadikan sebagai perhitungan ulang tahun berdirinya Kota Banjarmasin yang selalu diperingati sampai sekarang. Sedangkan tahun hijriyahnya dijadikan sebagai hitungan Milad Kesultanan Banjar.

   Menurut Sultan Khairul Saleh, Sultan Suriansyah sukses melakukan pengislaman masyarakat Banjar, sehingga dalam waktu singkat mampu mengislamkan 15 ribu penduduk Banjarmasin saat itu. Dakwah Islam kemudian tersebar cepat sampai ke daerah-daerah hulu sungai dan sungai Barito. Sultan Suriansyah sendiri selain sebagai Sultan Banjar juga aktif sebagai juru dakwah, hingga banyak sekali berhasil mengajak masyarakatnya masuk Islam, baik di wilayah Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah. Masjid Sultan Suriansyah yang sangat terkenal hingga sekarang adalah salah satu masjid tertua yang didirikan bersama para ulama dan rakyat saat itu.

         Sultan Suriansyah menandai berdirinya Kesultanan Banjar. Ada sejumlah Sultan Banjar yang pernah memerintah dalam kurun waktu lebih 300 tahun, yaitu sejak tahun 1520 M sampai akhirnya dihapuskan secara sepihak oleh Belanda pada tahun 1860, saat terjadi peperangan dahsyat antara Kesultanan dan rakyat Banjar melawan penjajah Belanda. Menurut versi Yusuf Halidi (1980) jumlah Sultan Banjar sebanyak 14 orang, yaitu Sultan Suriansyah, Sultan Rahmatullah, Sultan Hidayatullah, Sultan Mustain Billah, Sultan Inayatullah, Sultan Saidillah, Sultan Tahlilillah, Sultan Kuning, Sultan Tamjidillah I, Sultan Tahmidillah I, Sultan Tahmidillah II, Sultan Sulaiman, Sultan Adam al-Watsiq Billah dan Sultan Tamjidillah II.

            Menurut versi Abu Daudi (1980), jumlah Sultan Banjar sebanyak 16 orang, yaitu Sultan Suriansyah, Sultan Rahmatullah, Sultan Hidayatullah, Sultan Mustain Billah, Sultan Inayatullah, Sultan Saidillah, Sultan Amirullah Bagus Kusuma, Pangeran Adipati Agung, Sultan Tahlilillah, Sultan Hamidullah I, Sultan Hamidullah II, Pangeran Muhammad Aliuddin, Pangeran Nata Dilaga, Sultan Sulaiman al-Mu’tamidullah, Sultan Adam al-Watsiq Billah dan Sultan Tamjidullah II. Perbedaan jumlah ini disebabkan Kesultanan Banjar sempat mengalami perpecahan, sehingga masing-masing kubu mengangkat sultannya sendiri.

 Garis Genealogis

Di antara Sultan Banjar yaitu Sultan Sulaiman memerintah Kesultanan Banjar antara tahun 1801-1825, dan setelah wafat beliau bermakam di Karang Intan Kabupaten Banjar sekarang. Setelah mangkat beliau digantikan oleh Sultan Adam (1825-1857), selanjutnya digantikan oleh Sultan Tamjidillah II yang diangkat oleh Belanda, karena Raja Muda (Pangeran) Abdurrahman bin Sultan Adam wafat lebih dahulu. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang diwasiatkan oleh Sultan Adam untuk menjadi Sultan ditolak oleh Belanda, hal mana kemudian menjadi salah satu pemicu pecahnya Perang Banjar.

Selama hidupnya Sultan Sulaiman pernah mengawini lima orang istri, yaitu Nyai Ratna atau Ratu Intan Sari berkedudukan sebagai permaisuri, kemudian Nyai Cina, Nyai Argi, Nyai Unangan dan Nyai Kumala Sari. Dari seluruh istri tersebut melahirkan 18 orang anak, beberapa di antaranya anak lelaki (pengeran), terdiri dari Pangeran (selanjutnya menjadi Sultan Adam),  Pangeran Husin, Pangeran Perbatasari, Pangeran Musa, Pangeran Ahmad, Pangeran Hasan, Pangeran Jamain, Pangeran Tahmid dan Pangeran Singosari.

Menurut Drs. H. Asli Noor Arief, ketika pecah Perang Banjar, keluarga Kesultanan Banjar terpencar di mana-mana. Ada yang dibuang oleh penjajah Belanda dan ada pula yang berkelana di beberapa wilayah di Kalimantan (Selatan, Tengah dan Timur), dan bersama pejuang dan rakyat pada umumnya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pasukan Pangeran Antasari yang terdesak di Banjarmasin dan Martapura memindahkan markasnya ke Puruk Cahu Kalteng. Sebelum ke sana beliau bermarkas di kawasan Tabalong.

Di sini Pangeran Antasari mencari-cari keturunan atau zuriyat Kesultanan Banjar, lalu bertemu dengan Pangeran H Abubakar. Pangeran Abubakar adalah anak dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman. Beliau seorang ulama dan ditokohkan oleh masyarakat Tabalong saat itu. Kini makamnya berada di Marindi Tabalong dan sering diziarahi orang. Makam ini telah dipugar oleh Sultan Khairul Saleh.

            Pangeran Abubakar memiliki anak bernama Gusti Umar, dan Gusti Umar memiliki anak bernama Gusti Jumberi (kini Pangeran Jumri). Gusti Jumberi adalah ayah dari Pangeran (kini Sultan) Banjar H Khairul Saleh. Dengan melihat garis keturunan itu maka dapat dikatakan bahwa Sultan Khairul Saleh adalah trah Sultan Sulaiman. Jika diurut ke belakang lagi, maka Sultan Khairul Saleh adalah generasi ke-15 dari Sultan Suriansyah. Dari keseluruhan Sultan Banjar, Sultan Khairul Saleh merupakan Sultan Banjar ke-23, sedangkan yang terakhir (22) adalah Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang tewas di akhir Perang Banjar tahun 1905.

            Sebagai trah Sultan Sulaiman, Sultan Khairul Saleh juga memiliki hubungan genealogis dengan Pangeran Antasari, sebab ibu Pangeran Antasari yang bernama Gusti Khadijah adalah putri Sultan Sulaiman. Gusti Khadijah bersuamikan Pangeran Masuhud, putra dari Pangeran Amir. Dengan adanya perkawinan antara Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman dengan Pangeran Masuhud bin Pangeran Amir, maka ketegangan politik yang sempat mewarnai internal Kesultanan Banjar menjadi cair kembali.

            Sultan Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah adalah Sultan Banjar di era milenium yang dibangkitkan secara resmi pada tanggal 12 Desember 2010. Menurut Ir. H.M. Said (2011), Ir. H. Gusti Muhammad Noor bin H. Gusti Muhammad Ali sebagai salah seorang zuriyat Kesultanan Banjar pernah didaulat oleh para Pagustian Banjar untuk menjadi Sultan Banjar, dengan gelar Pangeran Muhammad Noor. Gelar Pangeran ini tetap melekat pada diri beliau sampai akhir hayatnya (1901-1979). Namun karena kesibukan sebagai Gubernur Kalimantan yang kala itu berpusat di Yogyakarta, Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga di era Bung Karno dan berbagai jabatan penting lainnya di Jakarta, maka lembaga Kesultanan Banjar tidak kunjung terbangkitkan.