Pangeran Hidayatullah tidak lama menjabat sebagai Mangkubumi dalam Kesultanan Banjar, jabatan yang dipegangnya pada 9 Oktober 1856. Pangeran Tamjidillah yang berkedudukan sebagai Putra Mahkota menggantikan Sultan Adam Alwasyikubillah yang meninggal dunia pada tanggal 1 November 1857, tidak lebih hanya sebagai sultan boneka. Belandalah sebagai penguasa yang telah terlampau jauh mencampuri dan sangat menentukan dalam mekanisme Pemerintahan Kesultanan Banjar.

Sementara itu pemberontakan rakyat terjadi dimana-mana. Di daerah Benua Lima, daerah Martapura, Tanah Laut, Barito dan Tanah Dusun timbul penyerangan dan perlawanan terhadap patroli militer Belanda.

Gerakan yang sangat berpengaruh di Hulu Sungai adalah pimpinan Datuk Aling yang telah meluas sampai ke Banua Gadung, Banua Halat, Rantau, Banua Padang, Batang Kulur, Jambu, Bamban, Pangambau dan sekitarnya. Selain daripada itu gerakan rakyat di Benua Lima, sekitar Martapura dan Tanah Laut yang pada mulanya kurang menyenangi terhadap Pemerintahan Sultan Tamjidillah, diarahkan oleh Pangeran Antasari kepada anti terhadap Belanda yang menjajah benua Banjar.

Pengarahan secara politis dan fisik ini suatu kebijakan dan kewibawaan Pangeran Antasari yang terpuji dalam menanamkan wibawanya bagi pimpinan-pimpinan gerakan rakyat setempat. Begitulah dalam waktu yang relatif singkat meletusnya Perang Banjar pada tanggal 28 April 1859 yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari.

Dengan menyadari situasi benua Banjar yang telah panas ini menyebabkan Pangeran Hidayatullah menyingkir dari jabatan Mangkubumi dan lari ke Karang Intan, dari sini kemudian ke Amuntai. Datangnya Pangeran Hidayatullah dan menggabungkan diri bersama gerakan perlawanan rakyat terhadap Belanda, tentu saja mengobarkan semangat juang yang telah bersemi di hati rakyat. Tidak berapa lama setelah berada di Amuntai Pangeran Hidayatullah dinobatkan sebagai sultan oleh para pemuka rakyat Benua Lima, sesuai dengan testamen almarhum Sultan Adam.

Segera didirikan benteng-benteng pertahanan rakyat di Amuntai, Sungai Banar, Alabio dan Babirik, daerah kawasan yang selalu menjadi lalu-lintas serangan kapal-kapal Belanda.

Pada akhirnya Belanda mengetahui bahwa Pangeran Hidayatullah berada di Amuntai dan sekaligus memihak kepada perjuangan rakyat yang menentang Belanda.

Mayor G M Verspyck yang menjadi Panglima Militer Belanda dalam kawasan Afdeeling Borneo Selatan dan Timur merasa sangat tersinggung dengan sikap Pangeran Hidayatullah, karena pada mulanya dia mengharapkan Mangkubumi ini bersedia memadamkan gerakan-gerakan rakyat yang sedang membara.

Segera sang perwira kolonial ini mengirim pasukan militer ke Amuntai dan mengempurnya dengan mengerahkan dua buah kapalnya, Benet dan Admiral van Kinsbergen. Meskipun rakyat mempertahankan dengan semangat yang tinggi, namun terpaksa harus menderita kekalahan karena kurangnya senjata.

Sementara itu dalam pertempuran, Pangeran Antasani, Pangeran Aminullah, Demang Leman dan para pemimpin lainnya menyadari bahwa kelemahan pasukan perlawanan rakyat adalah disebabkan kekurangan persenjataan, khususnya sejata api. Oleh karena itu meminta bantuan senjata api dan amunisi kepada raja Pasir.

Sementara itu mental para pejuang penlu ditingkatkan dengan mengkonsulidasikan menjadi “Pasukan Beratip Beramal”. Bahwa perjuangan tidak saja dengan mengandalkan pertahanan fisik dan persenjataan, tetapi juga harus dengan mengisi batin dengan beramal dan memohon perlindungan dari Allah SWT.

Bahwa tujuan perang Pasukan Beratip Beramal adalah Mempertahankan agama Islam, Memerdekakan Negara, Memajukan Perdamaian dan mengembalikan raja pada tahtanya. Pasukan Beratip Beramal berlandaskan kepada kalimat Allah SWT, Hadits Nabi Muhammad SAW, safaat 40 Nabi, Keramat Datu dan Ilmu Pahlawan.

Para pemimpin Pasukan Beratip Beramal adalah para ulama benua Banjar terutama daerah Hulu Sungai membuat fatwa yang telah menjadi keyakinan bagi seluruh anggota pasukan ialah perang melawan Belanda, hukumnya adalah Perang Sabilillah dan apabila gugur dalam perang itu adalah mati Syahid.

Pasukan Beratip Beramal menghukumkan tentara Belanda adalah tentara yang kafir, yang menyebabkan seluruh anggota pasukan menjadi sangat fanatik dan militan.

Pihak Belanda mengetahui adanya peningkatan perlawanan rakyat dengan pasukan Beratip Beramal ini. Segera Belanda membujuk para penghulu untuk rnengantisipasi dengan fatwanya. Tetapi gagal, karena para penghulu segan untuk berbuat hal itu.

Kefanatikan dan militansi para anggota Pasukan Beratip Beramal ini memang ternyata terbukti dalam beberapa pertempuran melawan militer Belanda. Di daerah Barabai, Controleur yang merangkap Komandan Militer Belanda Van der Heyden pada akhir-akhir tahun 1861 sering memimpin sendiri penyerangan terhadap pasukan rakyat di Ilung, Abung, Limpasu, Paya dan Hampang. Penyerangan terakhir dan terlibat dalam pertempuran seru yang terjadi di kampung Jatuh, sebelah utara Barabai.

Pasukan Beratip Beramal yang ada dimana mana, tidak terkecuali juga ada di Kampung Jatuh yang dipimpin oleh tokoh agama Panghulu Muda Yuda Lalana. Pasukan ini sering mengadakan pertemuan di mesjid yang dijadikan markas gerakan perlawanan rakyat itu.

Pihak Belanda pada akhirnya mengetahui kegiatan itu dan pada tanggal 5 Desember 1861 Van der Heyden, Opsir Van Koch dan beberapa opsir lainnya mengerahkan dua kekuatan, yaitu pasukan infantri dan artileri menyerang pasukan rakyat Jatuh. Rakyat di sini ternyata tidak merasa gentar, karena telah memiliki keyakinan yang tinggi sesuai dengan prinsip tujuan perang Sabilillah.

Sebelum militer Belanda di bawah pimpinan Van der Heyden sampai di dekat mesjid, Pasukan Beratip Beramal telah menghadangnya di anak kampung Pinangin. Dengan tiba-tiba secara serempak Pasukan Beratip Beramal itu menyerbu. Beberapa orang jatuh korban karena Van der Heyden memerintahkan tembakan rneriam dan senjata api secara serentak.

Setelah serangan yang pertama banyak yang gugur, menyusul serangan berikutnya. Timbul keajaiban, perintah Van der Heyden untuk menembak, ternyata meriam dan senjata lainnya tidak berbunyi, termasuk pistol Van der Heyden sendiri.

Sambil meneriakkan “Allahu Akbar”, anggota pasukan Beratip Beramal dengan gesit melemparkan tombak beracun yang tertuju ke arah Van Koch, sehingga Van Koch rebah tergeletak bersimbah darah dan menemui ajalnya dengan tombak beracun yang terhujam di dadanya.

Pertempuran yang sangat heroik itu berlangsung beberapa lama dan menimbulkan korban kedua belah pihak, namun Penghulu Muda Yuda Lalana dapat terhindar dari bahaya maut. Pihak Belanda menjadi dendam atas kematian opsir Koch dan beberapa tentara lainnya. Karena ternyata selama 20 hari setelah itu, yaitu pada tanggal 25 Desember 1861, penguasa Belanda mengirim lagi pasukan, menyerang kampung Jatuh pada sasaran yang sama.
Namun malang bagi sang kolonial itu, karena pemimpinnya opsir Van Halderen tewas dalam pertempuran itu dibunuh oleh Pasukan Beratip Beramal dan sisanya terpaksa kembali ke Barabai memberikan laporan tentang kegagalannya kepada countroleur Van der Heyden.

(Pangeran Antasari – Datu Mangku Adat Syamsiar Seman)