Rangkaian kegiatan perayaan Milad ke-508 Kesultanan Banjar yang digelar beberapa hari lamanya, dengan puncak acara Ahad 25 November 2012, banyak mengandung kesan dan pesan. Dimulai pembacaan surat Yasin dan Shalawat Kamilah (Nariyah) secara massal, dilanjutnya pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh paduan suara trio qari terkenal Banjar yaitu Muhammad Abduh, Fakhrurazi dan Saleh Yusran.

Dilanjutkan pembacaan riwayat Kesultanan Banjar disertai pasang surut yang melingkupinya hingga kebangkitannya di abad ke-21 ini. Dilakukan pula penganugerahan gelar-gelar kehormatan kepada sejumlah tokoh, baik yang ada di banua Banjar Kalimantan Selatan maupun luar daerah. Mereka semua adalah orang-orang pilihan dan telah banyak berjasa dalam memajukan daerah, budaya dan seni sesuai kompetensi masing-masing.  Bahkan ada juga undangan dari luar negeri ikut hadir seperti dari Belanda, Inggris, Thailand dan sebagainya.

Adanya penganugerahan gelar-gelar kehormatan itu, diharapkan rasa memiliki terhadap kesultanan dan kebudayaan Banjar semakin meningkat, sehingga semuanya sama-sama berpikir dan berbuat untuk kemajuan Banua Banjar dalam arti seluas-luasnya. Budaya adalah spirit dan penopang pembangunan dan kemajuan peradaban.

Semakin Kuat

Ketua Dewan Mahkota Kesultanan Banjar Pangeran Rusdi Effendi AR dalam puncak milad ini telah mengukuhkan Pangeran Khairul Saleh sebagai Sultan Banjar, dengan nama Sultan Haji Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah. Dengan demikian, sejak hari pengukuhan tersebut sampai seterusnya, Khairul Saleh telah menyandang gelar dan kedudukan sebagai Sultan Banjar. Tidak lagi dipanggil dengan sebutan Gusti, Pangeran, Raja Muda atau Sultan Muda, melainkan Sultan.

Kalau ditemui ada istilah Pangeran, hal itu digunakan sebelum pengukuhan menjadi Sultan. Begitu juga kalau pada spanduk, baliho, selebaran, berita media dan sebagainya ditemui nama Pangeran, karena nama itulah yang didaftarkan secara resmi pada catatan sipil. (Nama resmi setelah mendapat gelar Pangeran dari Gusti Khairul Saleh menjadi Pangeran Khairul Saleh).

Pengukuhan Pangeran Khairul Saleh sebagai sultan menjadikan kedudukan lembaga Kesultanan Banjar semakin kuat. Hal ini sejalan dengan akan dibangunnya istana Kesultanan Banjar di Martapura yang dinamai Istana Intan (Diamond Palace).

Lebih Dekat Rakyat

Istilah Sultan berasal dari bahasa Arab, Sulthan, jamaknya Salathin, artinya sultan, raja, penguasa. Kalau mengacu pengertian ini maka sultan adalah raja yang berkuasa secara mutlak, yang memiliki batas kedudukan yang jelas dan terpisah dengan rakyatnya. Di zaman dulu kekuasaan Sultan memang cenderung otokratis, tetapi umumnya mereka juga bertindak bijaksana, sebab bersama Sultan juga ada para ulama dan tokoh sebagai penasihat.

Kesultanan Banjar sejak awal kebangkitannya 2010 lalu sudah diniatkan sebagai wahana untuk menghidupkan budaya Banjar. Melalui lembaga Kesultanan Banjar  budaya Banjar dalam arti yang seluas-luasnya diberi payung kelembagaan, sementara payung hukumnya sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan, yang intinya semua kesultanan/kerajaan Nusantara diminta bangkit kembali dalam ranah budaya.

Selanjutnya kebudayaan diayomi, difasilitasi, dikembangkan, dilestarikan. Sebagaimana sering dikatakan oleh Sultan Khairul Saleh dalam sambutan-sambutannya, Kesultanan Banjar berusaha melakukan sesuatu yang belum mampu dijangkau, melakukan sesuatu yang belum terealisasi di masa-masa sebelumnya. Dengan misinya itu maka, baik dalam kedudukan sebagai Pangeran, Raja Muda maupun Sultan sekarang, tidak dimaksudkan untuk membuat jarak dengan rakyat dan atau menghidupkan feodalisme ala keraton zaman dahulu. Kenyataan membuktikan bahwa sejak dulu hingga sekarang Sultan Khairul Saleh selalu dekat dengan semua lapisan masyarakat dan  masyarakat pun merasakan getaran keakraban yang mengesankan.

Sultan Banjar yang seolah tidak pernah lelah ini selalu terbuka untuk menghubungi dan dihubungi rakyat, tanpa ada batas formalitas yang biasanya melekat pada seorang pejabat dan tokoh. Sikapnya ramah, sopan dan santun, teleponnya bisa dihubungi baik langsung maupun lewat SMS. Pakaian kebesaran sebagai Raja atau Sultan Banjar pun relatif jarang dipakai, hanya dalam acara-acara adat tertentu seperti Milad atau menghadiri undangan budaya kesultanan lain.

Oleh karena itu kita perlu makin terbuka terhadap lembaga Kesultanan Banjar dan berusaha mendukung visi dan misinya mengembangkan budaya. Apalagi Sultan Khairul Saleh juga menjadikan kedudukannya sebagai agen untuk berdakwah, memajukan syiar Islam di banua Banjar bahkan Nusantata. Kalau selama ini perayaan Tahun Baru Masehi selalu lebih meriah, maka sejak penobatannya perayaan Tahun Baru Islam (Hijriah) diformat lebih meriah dan dipadukan dengan even tahunan Milad Kesultanan Banjar yang sama-sama momentumnya di awal bulan Muharram. Sungguh ini adalah ijtihad budaya yang sangat berarti dan fenomenal.

Akhirnya selamat sekali lagi kepada Sultan Banjar dan Ibu Permaisuri Raudatul Jannah.  Adanya pengukuhan sebagai Sultan, kita harapkan penyebutan ke depan lebih tepat, yaitu Sultan Khairul Saleh atau Sultan H Khairul Saleh. Sebagian penulisan di media, spanduk dan iklan selama ini yaitu H Pangeran…., baik untuk Khairul Saleh maupun pangeran-pangeran lainnya dapat dibetulkan, karena yang tepat adalah Pangeran H …….dst, bukan H. Pangeran, dst. Gelar pangeran harus didahulukan sebelum titel kesarjanaan dan gelar haji. Sultan dan pangeran bukan nama, tetapi gelar/kedudukan yang mengikut kemudian. Kecuali Gusti, Anang serta Andin yang juga merupakan gelar kebangsawanan, memang merupakan nama sekaligus gelar yang diberikan sejak lahir. (Ditulis oleh Datu Cendikia Datu Ahmad Barjie)