Bambang Subiyakto
Guru Besar Ilmu Sosial
FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Saluran air buatan atau kanal merupakan salah satu elemen dari puluhan atau bahkan ratusan elemen budaya material, yang akumulasinya bersama  elemen-elemen budaya non material, membentuk apa yang dikenal sebagai kebudayaan Banjar. Akumulasi elemen budaya yang khaslah kemudian mencetuskan predikat kebudayaan Banjar. Berdasarkan elemen-elemen budaya yang khas maka orang membedakan masyarakat Banjar dengan kebudayaannya sendiri yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat lainnya.

Mungkin saja pada kelompok masyarakat atau suku bangsa lain juga mempunyai kemampuan dan tradisi membangun kanal, namun kanal-kanal yang dibuat masyarakat Banjar mempunyai kekhasannya sendiri sebagaimana diakui banyak pihak, terutama dari kalangan ilmuwan. Orang Banjar mempunyai tradisi membuat kanal dalam berbagai jenis sebagaimana akan dipaparkan berikut ini.

Dalam kaitan itu sebagai sub bahasan pertama akan coba diungkapkan  mengenai bagaimana sesungguhnya kanal-kanal itu sengaja dibangun orang Banjar sejak nenek moyangnya. Keadaan alam lingkungan mereka tinggal berupa daerah pasang surut tampaknya yang telah mendorong pemikiran  bagaimana memperluas jangkauan pengarian bagi lahan-lahan pertanian mereka, di samping bagaimana kanal-kanal yang diciptakan itu  berfungsi pula sebagai prasarana transportasi.

Sehubungan dengan itu orang Banjar mengenal sedikitnya tiga jenis kanal. Pertama, yang disebut anjir yaitu semacam saluran primer menghubungkan antara dua sungai. Anjir bersifat untuk kepentingan umum dengan titik berat fungsiya untuk sistem pertanian dan transportasi. Kedua, disebut handil, semacam saluran sekunder yang muaranya di sungai atau anjirHandil dibuat untuk menyalurkan air ke daerah daratan, lahan pertanian. Ukurannya lebih kecil dari anjir dan lebih bersifat milik kelompok. Ketiga, disebut saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang  biasanya diambil dari handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari handil dan bersifat pribadi, milik keluarga. Anjir, handil dan saka mempunyai fungsi utamanya sebagai irigasi pertanian dalam arti luas dan prasarana transportasi.

Saka, dan juga handil, hubungannya dengan transportasi terbatas baik untuk jenis sarana transportasinya maupun tujuan.  Sarana yang digunakan pada jalur terbatas ini biasanya perahu kecil (jukung) dan bertujuan untuk keperluan kegiatan pertanian, termasuk juga perikanan. Meskipun demikian akan terlihat pada uraian di bagian lain nanti bahwa seiring perkembangan wilayah kanal  itu berubah fungsi menjadi lebih pada kepentingan transportasi. Kanal-kanal ini terutama yang lingkungannya telah menjadi bagian dari pusat kota atau permukiman.

Kanal berupa saka bersifat pribadi, karena sebagai jalur pengangkutan terutama hanya digunakan oleh pemilik dan kerabatnya. Saka dibangun dengan muaranya ke handil, anjir atau sungai untuk irigasi daerah pertanian.  Saka ini banyak dibangun oleh keluarga-keluarga petani Banjar dengan lebar antara dua dan empat meter serta  kedalaman tidak lebih dari dua meter. Panjang saka bervariasi dari satu kilometer sampai dengan sekitar 10 kilometer.

Selain saka, orang Banjar juga banyak membangun handil. Menurut Amir Hasan Kiai Bondan (1953) bahwa antara tahun 1924 dan 1927 masyarakat Banjarmasin masih terus membangun handil. Jumlahnya mencapai ratusan buah dengan panjang setiap handil mencapai puluhan kilometer. Handil-handil yang dibangun waktu itu terutama di daerah Kalayan dan Pamurus.

Istilah lain yang juga digunakan untuk menyebut kanal adalah tatah, biasa diucapkan masyarakat Banjar dalam pengertian kanal secara umum, namun lebih lazim pengertiannya dimaksudkan untuk menyebut kanal berupa handil atau saka. Adapun yang berupa anjir biasa juga disebut antasan. Dari sisi ini menunjukan bahwa orang Banjar benar-benar mempunyai kebudayaannya sendiri dalam hal kanal. Orang Banjar menciptakan istilah-istilahnya sendiri bagi kanal-kanal yang mereka buat. Oleh sebab itu, istilah-istilah yang mereka gunakan menjadi khas yang mungkin tidak ditemui pada kelompok masyarakat lainnya. Lazimnya yang dikenal istilah yang berasal dari bangsa Barat, yakni saluran primer, sekunder dan tersier. Kekhasan tidak saja ditunjukan oleh banyaknya istilah, tetapi juga karena sifat kanal orang Banjar yang multi fungsi.

Kemampuan dan kebiasaan orang Banjar meluaskan pengaruh pasang surut dengan membuat kanal merupakan keistimewaan sekaligus membuktikan tingkat perdaban yang mereka miliki. Mereka mampu membangun kanal yang panjangnya mencapai puluhan kilometer hanya dengan kekuatan tangan (Vergouwen, 1921; Schophuys, 1969; dan Collier, 1980)   Kanal-kanal itu dibangun menggunakan alat sangat sederhana yang disebut sundak, penggunaannya benar-benar bertumpu pada kekuatan tangan. Alat ini awalnya terbuat dari kayu ulin yang pipih namun kemudian sebagaimana masih dapat dilihat sampai saat ini terbuat dari lempengan baja. Ukuran sundak umumnya lebar 20 cm dan panjang 40 cm untuk daerah Banjarmasin dan Barito Kuala, serta 15 x 60 cm seperti di daerah Martapura.

Schophuys (1969) menyatakan bahwa sistem irigasi orang Banjar itu dalam tingkatan-tingkatan dan multi fungsi. Ia menilai bahwa sistem irigasi itu sangat khas dan tegas dikatakannya sebagai “sistem irigasi Banjar”. Kanal multi fungsi karena dalam kedudukan utama yang sama pentingnya adalah untuk pertanian dan jalur pengangkutan, di samping kepentingan lainnya seperti air minum, cuci, mandi dan kakus (MCK). Mengenai hal terakhir lebih menonjol pada fase perkembangan ketika lahan pertanian telah berubah menjadi pusat-pusat permukiman yang padat seperti di daerah kota Banjarmasin.

Sejak kapan orang Banjar mulai berhasil membuat kanal tidak dapat diketahui sacara pasti. Beberapa ahli seperti Vergouwen (1921), Schophuys (1969) dan Collier (1980) meyakini bahwa kebiasan orang Banjar membangun kanal sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Yang jelas upaya Orang Banjar  sejak lama berhasil memikirkan dan memanfaatkan adanya gerak air pasang surut dan keadaan tanah setempat. Upaya mereka adalah meluaskan pengaruh itu untuk mengairi lahan pertanian dengan membangun kanal.

Pejabat-pejabat Belanda di daerah ini tampo dahulu memahami benar dan mengakui kemampuan Orang Banjar dalam membuat kanal. Menariknya mereka itu tidak menghambatnya, bahkan sebaliknya turut mengembangkan elemen budaya material Orang Banjar itu. Pada masa itu misalnya atas prakarsa pemerintah, dalam hal ini digagas oleh J.J. Meijer (1880), membangun anjir Serapat yang sepenuhnya menggunakan cara dan tenaga kerja Orang Banjar. Anjir ini menghubungkan Banjarmasin dan Kapuas. Gagasan itu baru dilaksanakan oleh W. Broers pengganti Mijer. Anjir itu dibangun dengan ukuran lebar 30 meter, panjang 28 kilometer, dan kedalaman tiga meter berhasil diselesaikan pada tahun 1890.

Pada tahun 1935 Morggenstorm, juga penguasa kolonial, melakukan perbaikan dan pembersihan terhadap anjir Serapat. Nampaknya ini suatu bentuk perhatian dan  pemeliharaan atas infrastruktur sektor pertanian dan transportasi air. Bahkan pada tahun 1938, Morggenstorm menganggap perlu membangun lagi sebuah anjir yang kemudian disebut anjir Tamban. Anjir yang dibangun sepanjang 32 km ini  berada di sebelah selatan anjir Serapat.  Anjir ini, seperti anjir Sarapat, menghubungkan sungai Barito dan Kapuas Murung  terletak di bagian barat Kota Banjarmasin.

Kedua anjir itu begitu besar pengaruhnya untuk pembukaan daerah baru dan berfungsi sebagai sistem pengairan pertanian dan transportasi. Antara tahun 1940 dan 1950-an telah ratusan handil dan saka baru dibangun oleh masyarakat dari kedua anjir itu. Kedua anjir juga semakin mendekatkan hubungan masyarakat Kalimantan Tengah  dan Kalimantan Selatan.

Pada masa merdeka kanal multi fungsi orang Banjar rupanya turut menginspirasi seorang putra aslinya, P.M Noor, untuk melaksanakan program pembangunan kanal secara nasional. Ketika itu ia menjabat menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga pada masa-masa awal pemerintahan Soekarno. Programnya adalah Proyek Kanalisasi Nasional. Tahap pertama realisasi program itu dimulai dengan membangun kanal raksasa yang akan menghubungkan wilayah dari Kalimantan Selatan sampai Kalimantan Barat. Beriring dengan itu juga dicanangkan proyek pembangunan kanal di Sumatera. Sayangnya mega proyek P.M. Noor tidak terselesaikan dan program kanalisasi nasional mengalami kegagalan.

Pembangunan beberapa anjir terus berlangsung pada masa pasca proklamasi. Dua buah anjir dibangun bersamaan pada tahun 1950, yaitu anjir Basarang dan anjir Kelampan, pada masa gubernur Murjani. Tahun 1961 dibangun anjir Balandean dan tahun 1965 dibangun anjir Berangas keduanya terletak di bagian utara kota Banjarmasin. Tujuannya adalah membuka lahan-lahan pertanian baru dan sebagai prasarana transportasi.

Pada tahun 1921 Vergouwen melalui artikelnya “Tatah-en Soengeirechten” menyatakan bahwa tatah dan anak sungai berbeda sifat. Tatah dibuat oleh manusia  sedangkan anak sungai terbentuk secara alami. Hasil survey Tim Penelitian Ilmu Alam Balanda pada tahun 1847 menyebutkan tidak sedikit saluran air terbentuk secara alami akibat kekuatan hidrodinamika sungai Barito. Saluran air semacam ini tetap dalam pengertian sungai atau anak sungai. Berbeda halnya dengan kanal memang dengan sengaja dibangun oleh keluarga-keluarga Banjar untuk kepentingan penyokong kehidupan mereka sehari-hari. Kanal-kanal itu menjadi cirri khas budaya Orang Banjar.

Dilihat secara fisik memang sukar dibedakan antara saluran air yang buatan dan yang alami. Terutama bila saluran air buatan itu telah terjadi cukup lama. Generasi baru sukar membedakan hal yang semacam ini. Tidak mengherankan bila generasi baru dengan melihat begitu banyak saluran air di kota Banjarmasin, kemudian dengan ringan menyebutnya sebagai sungai. Barangkali berawal pengertian semacam ini Banjarmasin diberi predikat sebagai “kota seribu sungai”.

Selanjutnya Vergouwen menyatakan, bahwa baik jalur buatan maupun alami, yang penting kesemuanya berfungsi sebagai media penduduk setempat  melaksanakan pengangkutan. Di sisi lain, ia juga mengatakan bahwa tatah tidak sama dengan antasan, kurang tepat (onjoist) untuk menyamakan antara keduanya. Antasan merupakan saluran menghubungkan antara dua jalur air, biasanya antar sungai, namun ada juga yang menghubungkan antara sungai dan danau. Dalam hal ini antasan lebih mempunyai kemiripan atau sama dengan anjir. Sementara itu, Vergouwen tidak membedakan antara tatah dan  handil atau pun saka misalnya. Menurutnya tatah merupakan saluran yang dibangun selalu menghubungkan sungai atau jalur air ke daratan (binnenland) dan bagi pihak lain yang menggunakan kanal-kanal itu dikenakan toll (bea) (Vergouwen, 1921: 545-546).

Sejak zaman merdeka, bahkan menjelang masa-masa berakhirnya pemerintahan kolonial, tampaknya penarikan toll telah ditiadakan. Terutama yang dimaksudkan penarikan oleh para kepala bubuhan atau kelompok masyarakat. saluran-saluran air itu di dalam kota misalnya telah menjadi jalur umum transportasi air. Saluran-saluran air itu sepenuhnya berada di bawah penguasaan pemerintah. Hanya yang berupa jalur air penting seperti sungai dan anjir (antasan) dikenakan retribusi oleh pemerintah.

Mengenai penguasaan dan retribusi dilakukan oleh pemerintah jelas misalnya tertuang pada Perda Provinsi Kalimantan No. 5 tanggal 24 Juli 1953 tentang lalu lintas dan pemungutan retribusi lalu lintas dalam terusan-terusan yang dikuasai oleh Daerah Provinsi Kalimantan (Lampiran Lembar Propinsi Kalimantan No. 2/10 Pebruari 1955)

Vergouwen (1921) melalui juga mengupas masalah aturan dan cara kebiasaan yang berlaku pada masyarakat Banjar dan Dayak dalam hal pengangkutan di jalur-jalur air. Kedua etnis ini membangun banyak kanal di wilayahnya dan memiliki aturan-aturan dalam penggunaannya. Keterangan Vergouwen ini mengingatkan kita kepada masyarakat Inggris pada masa lalu. Orang Inggris juga mempunyai kebiasaan yang sama, yakni membagun kanal-kanal dan mempunyai aturan-aturan dalam pemanfaatannya untuk kepentingan  prasarana transportasi.

Lebih lanjut Vergouwen menyatakan bahwa masyarakat Kalimantan (Banjar dan Dayak), di samping mengenal dalam adat mereka ungkapan “dia punya hutan”, ada juga kelaziman ungkapan “dia punya sungai”. Kedua hal itu dalam pengertian penguasaan suatu famili (bubuhan atau klan) terhadap suatu sumber kehidupan seperti hutan dan atau jalur air seperti sungai dan kanal. Keberadaannya diakui oleh pemerintah kolonial sebagai adat kebiasaan yang berlaku.

Vergouwen, juga H. Mallinckrodt (1918) mengemukakan lebih jauh lagi bahwa dalam menguasai jalur-jalur air (tatah dan antasan) oleh bubuhan atau klan di bawah kepala-kepala mereka yang memiliki kewenangan misalnya memungut tol 1/10 dari barang-barang hasil hutan atau pertanian yang diangkut atau berupa uang. Hasilnya, menurut aturan adat, ditujukan untuk biaya pemeliharaan jalur air. Meskipun demikian, seperti dikatakan Vergouwen selanjutnya, hasil itu lebih merupakan pendapatan bagi para kepala bubuhan. Dalam hal ini Vergouwen menyampaikan apa yang  terlebih dahulu dikemukakan Bangert pada tahun 1860-an (Ibid., 545-561; Mallinckrodct, 1918: 133-136; Bangert, 1960: 78). Akan tetapi, di dalam perkembangannya tol semacam itu sudah tidak lagi diterapkan.

Mengiringi berkembangnya wilayah dengan tumbuhnya pusat-pusat permukiman berdampak pada hilangnya lahan pertanian. Handil dan saka yang sudah dibangun sejak ratusan tahun di wilayah Banjarmasin misalnya mengalami pergeseran fungsi, yakni hanya sebagai jalur transportasi dan MCK. Kanal-kanal jenis ini menjelma menjadi seperti gang atau lorong pada system transportasi darat. Hal ini tetutama terjadi pada daerah-daerah yang kemudian menjadi pusat permukiman kota. Sebagian lagi di daerah pinggiran dalam batas tertentu masih berfungsi seperti sedia kala.

Mengiringi proses waktu lebih kemudian lagi, saluran-saluran itu bahkan lenyap sama sekali. Gejala semacam ini sudah terlihat jelas tanda-tandanya sejak akhir tahun 1970-an. Sebagian saka sudah berubah menjadi saluran pembuangan limbah rumah tangga atau sebagai got. Selanjutnya saka itu hilang lenyap karena di atasnya telah didirikan bangunan permukiman, sudah tertutup sama sekali.

Seperti pada fungsi dan posisi jalan di suatu wilayah atau kota, demikian pula gambaran jalur-jalur air di Banjarmasin. Jalur-jalur itu seperti sungai besar dan sedang serta anjir berfungsi sebagai jalan raya. Di lain pihak anak sungai, handil dan saka menyerupai jalan-jalan kecil atau gang. Pada kedudukannya yang semacam ini setiap hari terlihat penduduk yang sibuk hilir dan mudik melayari satu sungai ke sungai kecil ataupun kanal kemudian ke luar menuju ke sungai yang lebih besar.

Pemandangan di atas jalur-jalur air sekitar tahun 1950 dan 1960-an tampak dari masyarakat yang melakukan kegiatan berdagang, mencari ikan, ke kantor, ke sekolah, ke pasar, rekreasi, bertani dan rupa-rupa kegiatan kehidupan sehario-hari merupakan keistimewaan system transportasi di kota ini (Tjilik Riwut, 1958: 159; Amir Hasan, 1953: 97-105; Propinsi Kalimantan, 1953: 161). Anak sungai dan kanal berfungsi seperti lorong atau gang yang menajngkau sampai ke jarak paling dekat dengan tempat tujuan. Yang pasti kanal berfungsi sebagai prasarana transportasi para petani menuju ke lahan pertanian mereka, selain sebagai pengairan persawahan mereka.

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menjadi salah satu faktor penyebab tidak berfungsinya kanal. Meningkatnya jumlah penduduk semakin meningkatnya pula permukiman dan jumlah bangunan. Hal ini menyebabkan banyak saka mengalami penyempitan, pendangkalan dan pencemaran. Saka berubah fungsi menjadi saluran-saluran pembuangan air dan limbah rumah tangga sehingga tidak lagi dapat dilayari dengan perahu paling kecil sekalipun. Selain itu, karena telah lama pula tidak berfungsi sebagai irigasi pertanian sawah. Sebagian lagi bahkan benar-benar telah tertutup atau sengaja ditutup dengan tanah, pasir dan batu atau juga karena tertutup bangunan rumah penduduk yang didirikan di atasnya. Yang terakhir ini dapat terjadi karena saka yang dibangun adalah di atas lahan sendiri. Dengan kata lain saka itu merupakan bagian dari lahan penduduk sehingga tidak dapat dicegah bila mereka hendak menguruk atau menutup saluran itu. (Bambang Subiyakto, Banjarbaru 2005)