Upacara batumbang bisa dianggap sebagai upacara pemberkatan, khususnya bagi anak-anak. Di Martapura batumbang selalu merupakan bagian dari upacara bapalas bidan dan mandi upacara (pengantin atau wanita hamil), dan selalu dilakukan guna memberkati anak yang baru disunat, tetapi juga sering merupakan upacara yang berdiri sendiri, yaitu manumbangi kakanakan (melakukan upacara batumbang untuk anak-anak) dalam rangka merayakan hari raya haji. (Sebenarnya manumbangi mengandung arti mengukur. Kalau hajat manumbangi kakanakan dilakukan di kubah memang paling banyak ialah pada hari raya haji dan beberapa hari sesudahnya, tetapi juga terjadi pada hari-hari yang lain kecuali bulan puasa). Yang terakhir ini dilaksanakan dalam lingkungan kerabat yang terbatas dan para undangan pun hanya terdiri dari kerabat dan tetangga paling dekat saja.

Sekarang banyak juga orang melaksanakan hajat (melepaskan kaul) batumbang di kuburan-kuburan keramat, seperti kubah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari (meninggal 1812) dan kubah tuan guru Haji Zainal Ilmi (meninggal 1956) keduanya di Kalampayan, atau kubah Syekh Abdulhamid (konon meninggal sekitar akhir abad ke-18) di Abulung (wilayah kampung Sungai Batang).

Di Rangas dan Anduhum kebiasaan ini sudah banyak ditinggalkan, khususnya yang dilaksanakan dalam rangka upacara lain, sedangkan selaku upacara yang berdiri sendiri masih dilakukan orang meskipun sudah mulai ditinggalkan pula, atau diganti dengan sekedar melepas nazar membawa kue apam, atau cucur, atau serabi, atau nasi ketan, atau wajik ke kuburan keramat, membaca surah Yasin, menyerahkan kue-kue dan meminta bacakan doa kepada penjaga kubah di sana untuk keselamatan si anak. Di Rangas dikatakan bahwa dahulu yang perlu ditumbangi ialah khususnya anak yang lahir dalam bulan Safar, agar ia tidak mudah membahayakan dirinya sendiri sebagai tumbanganya ialah nasi ketan seberat badannya. Di bawah ini akan digambarkan upacara ini seperti yang biasa dilakukan di Martapura sekarang ini, yang sangat mungkin sekali dahulu juga dilaksanakan seperti itu di Birayang dari kampung-kampung di sekitarnya.

Tichelman (1931:703-4) tidak menyebutkan kegiatan batumbang bagi anak-anak setelah disunat, tetapi di lapangan dikatakan bahwa dahulu bagi anak tertentu memang harus dilakukan yaitu antara lain yang lahir dalam bulan Safar. Namun Tichleman juga menyebutkan wanita hamil yang menjalani upacara mandi juga batumbang.

Alasan mengapa seorang anak perlu ditumbangi tidak berhasil diungkapkan selain sekedar pernyataan bahwa pelaksanaannya akan menambah rezeki orang tuanya dan bahwa upacara itu yang berpusat pada diri si anak akan membawa kegembiraan padanya. Kesan lain timbul ketika ada yang menceriterakan bahwa kasus batumbang telah dilaksanakan untuk seorang anak laki-laki berumur kira-kira 27 tahun. Jejaka ini gagal dalam pertunangannya dan dipandang terlalu lama menyelesaikan studi sarjananya dan, meskipun tidak dinyatakan secara terus terang, kegagalan-kegagalan ini dan kegagalan-kegagalan lainnya telah mendorong orang tuanya (ayahnya seorang ulama terkemuka dalam kecamatan yang bersangkutan) untuk melaksanakan upacara tersebut pada hari raya haji (hari kedua) secara besar-besaran. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa dilaksanakannya upacara itu untuk memperkuat semangat anak.

Pada ruangan tengah dihamparkan sebuah tikar yang agak istimewa. Di atas tikar itu diletakkan sebuah lapik, tempat anak yang diupacarakan berdiri, dan di depannya diletakkan sebuah bejuna kuningan (sasanggan tempat meletakkan tumbangan). Tumbangan adalah pelepah kelapa yang dibuang daun-daunnya dan ditinggalkan lidi-lidinya sepanjang kira-kira sejengkal (+/- 15 cm) yang berfungsi sebagai tempat menyangkutkan kue apam dan cucur, warna merah dan putih. Dahulu apam dan cucur masing-masing diperlukan satu pelepah, tetapi sekarang cukup satu saja. Cucur ditempatkan pada bagian atas dan apam pada bagian bawah, yang merah di sebelah kanan dan yang putih di sebelah kiri. Pada pucuknya diletakkan lilin (dinyalakan ketika menjelang upacara) dan kadang-kadang juga telur pindang. Ada juga yang menggantungkan ketupat dan kambang barenteng (untaian bunga) di sekitar puncak tersebut.

Ketika kita bicara tentang bapalas bidan, yang dimaksud dengan tumbangan ialah kue apam dan kue cucur yang diletakkan dalam piring dan dimasukkan ke dalam ayunan bersama-sama dengan bayi. Di bagian ini yang dimaksud dengan tumbangan ialah pelepah kelapa tempat menggantungkan kue apam dan kue cucur. Sekarang daun pisang sebagai alas tumbangan diganti dengan piring besar atau sasanggan (bejana antik terbuat dari kuningan).

Anak yang diupacarakan berdiri sambil memegang pelepah kelapa yang telah diisi dengan kue-kue dan sebagainya tadi, sementara seseorang membaca selawat sambil menghamburkan beras kuning (karena dicampur dengan kunyit) bercampur uang (logam) kecil-kecil; para tamu dan anak-anak lain yang hadir menyahut selawat itu beramai-ramai, dan anak-anak memperebutkan uang logam yang dihamburkan itu. Setelah itu acara diteruskan dengan pembacaan surah Yasin (Qs 36), yang dilakukan oleh salah seorang hadirin.

Ketika bacaan surah Yasin telah sampai pada kalimat “salam qaula min rabb rabim” (ayat 58), yang diulangi tiga kali, si anak (disuruh) melepaskan kue-kue dari pelepah kelapa dan melemparkannya kepada teman-temannya, yang segera memperebutkannya pula. Setelah itu si anak menyerahkan tumbangan kepada orang lain lalu (disuruh) duduk. Sementara pembacaan surah Yasin diteruskan sampai selesai, sisa-sisa kue tumbangan diambil dan dikumpulkan dengan kue-kue lainnya untuk dihidangkan nanti.

Sebagai penutup dibacakan doa selamat, dan sebagai hidangan selain cucur dan apam, biasanya nasi ketan dan inti. Bisa juga terjadi di samping hidangan yang teradat itu, dihidangkan pula nasi dengan lauk pauknya atau ketupat dengan lauk pauknya, yaitu sebagai hidangan utama.

Tumbangan pelepah kelapa panjangnya biasanya diukur setinggi anak yang bersangkutan. Jika masih bayi masalah panjang ini tidak begitu menjadi persoalan dan bayi yang bersangkutanpun cukup dipangku ibunya menghadapi tumbangan tersebut. Jika yang batumbang sudah dewasa, biasanya tumbangan tidak diperlukan, melainkan apam dan cucur cukup diletakkan dalam talam. Demikian pula halnya apabila batumbang dilaksanakan di kuburan keramat. Pada peristiwa batumbang di Dalam Pagar (1977), yang dilaksanakan tiga hari setelah seorang anak laki-laki dikhitan, yang bertugas memimpin membaca selawat dan menghamburkan beras kunyit dan uang adalah tokoh ulama di sana, demikian pula yang membacakan doa.

Pada peristiwa lainnya (basunat anak perempuan, upacara mandi, dan bapalas bidan), batumbang adalah kegiatan para wanita, sehingga baik yang membaca surah yasin maupun yang membaca doa atau menghamburkan beras kunyit dan memimpin membaca selawat adalah wanita pula. Jika batumbang dilaksanakan di kuburan keramat, pembacaan selawat tidak dilakukan, sehingga di kuburan itu hanya dibacakan surah yasin dan doa selamat; yang terakhir ini dimintakan pada penjaga kubah di sana, yang juga akan menapung tawari si anak. (Dalam beberapa kali pengamatan di kubah Kalampayan tidak tampak adanya pembacaan selawat dan penghamburan beras kunyit. Penjaga kubah ialah salah seorang yang mendapat giliran berjaga di kuburan keramat itu, biasanya keturunan dari yang berkubur di sana).

(Alfani Daud. Islam dan Masyarakat Banjar. Deskripsi Analisa Kebudayaan Banjar. 1997)