Pada tahun 1596 Comclis de Houtman dan De Kayner bersama 249 anak buahnya dengan empat buah kapal, merupakan orang-orang Belanda yang pertama datang ke bumi Indonesia.

Mereka berlabuh pertama kali di Banten dan dalam petualangannya pada beberapa pelabuhan di Jawa, disambut oleh rakyat dengan sikap tidak bersahabat. Setahun setelah itu anak buahnya hanya bersisa 85 orang. Rakyat Nusantara ini telah mengetahui tentang sifat rakusnya bangsa kolonial itu, mereka mengeruk kekayaan pelbagai rempah-rempah yang diperlukan dan berharga mahal di Eropah.

Begitu makmurnya hasil bumi Indonesia, maka pada awal abad ke 17 Belanda mendirikan kantor dagang yang dikenal dengan singkatan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie), dan kantor dagang itu pun sampai juga berdiri ke tanah Banjar.

Berdirinya VOC yang berupaya mengeruk keuntungan bagi bangsa Belanda tersebut tentu saja menimbulkan reaksi dari rakyat pribumi berupa perlawanan sampai kepada perkelahian, mengangkat senjata, pembunuhan dan sebagainya.

VOC menyebabkan rakyat di mana-mana merasa tidak aman. Karena bukan semata-mata upaya perdagangan namun diikuti dengan kekuasaan, pemaksaan dan kekuatan senjata. Penguasa Belanda membuat rakyat pribumi menjadi sengsara.

Batubara

Akhir abad ke 18 dan awal ke 19 terjadi revolusi industri di Eropa dengan berkembangnya teknologi mesin uap, pabrik, kereta api dan kapal api yang digerakkan dengan mesin uap mempergunakan bahan baku batu bara. Bahan tambang batu hitam ini nenjadi sangat mahal di Eropah sehingga mendapat julukan emas hitam. 

Dalam wilayah kesultanan Banjar ternyata terdapat tambang batu bara, khususnya di daerah Riam Kanan yang mengandung lapisan tambang tersebut. Padahal tanah tersebut merupakan tanah pinjaman Belanda dari Kerajaan Banjar sejak 1787.

Adanya tambang batu bara di Kalimantan ini sangat menyenangkan Gubernur Jenderal JJ Ruchussen yang mendorong dia sendiri datang ke Banjarmasin guna menyaksikan secara langsung adanya tambang batu bara tersebut.

Perhatiannya sangat luar biasa terhadap tambang batu bara di daerah Riam Kanan ini karena tambang tersebut berada pada lapisan tanah yang tidak dalam, mudah digali dan justru yang pertama di Indonesia.

Pemerintah Hindia Belanda menganggap adanya tambang batu bara di Kalimantan ini sebagai peluang kekayaan yang paling serius, mengingat harganya sangat mahal di Eropah.

Dengan cara yang tidak etis, karena memang demikian sifat kolonialis dan imperialis maka Belanda mendapatkan konsesi pertambangan itu pada 1846. Tidak lama kemudian berdiri perusahaan Oranye Nassau yang diresmikan pembukaannya pada 21 September 1849. Perusahaan diresmikan sendiri oleh Gubernur Jenderal JJ Ruchussen yang sengaja datang dari Batavia (Jakarta).

Dalam proses jalannya usaha pertambangan batu bara tersebut Gubernur Jenderal memberikan instruksi kepada Residen PHAB Van Hengst Residen Afdeeling Borneo (Kalimantan) Selatan dan Timur di Banjarmasin supaya memelihara hubungan yang baik dengan Sultan Banjar agar pertambangan batu bara yang penting tersebut mendapat perlindungan

Sementara itu Gubernur Jenderal mengetahui adanya gerakan-gerakan rakyat daerah Banjar yang anti terhadap Pemerintah Belanda.

Meletusnya Perang Banjar

Dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun terjadi beberapa pergantian Residen Borneo Selatan dan Timur dan pada 1859 dijabat oleh Residen EF Graaf van Benthem Tecklenburg Rheda. Tambang batu bara Oranye Nassau yang telah berproduksi dan menguntungkan bagi Pemerintah Belanda tersebut mendapat perlindungan istimewa.

Bahkan di situ dibangun benteng pertahanan oleh Belanda dengan menempatkan bala tentara lengkap. Mereka dipersenjatai meriam dan senapan. Jansen yang ditunjuk selaku Administrator Oranye Nassau tidak saja bertindak sebagai pimpinan perusahaan tambang itu, tetapi merangkap sebagai komandan setempat yang juga dilengkapi dengan persenjataan.

Gerakan perlawanan rakyat telah meluas di beberapa daerah dan gerakan tersebut telah diketahui oleh Residen berdasarkan laporan Jansen yang sama dengan laporan Komandan Militer Letnan Beckman.

Terjadinya perkawinan politik antara putra Pangeran Antasari Muhammad Said dengan Suranti puteri Datuk Aling menambah kekuatan gerakan Pangeran Antasari dalam melawan Belanda. Datuk Aling yang dikenal sebagai pemimpin gerakan Muning berpengaruh besar di Hulu Sungai.

Penyusunan kekuatan rakyat tampak sungguh-sungguh sejak awal April 1859. Para pemimpin gerakan telah terkonsolidasi di Martapura, Tanah Laut, Margasari, Tambarangan, Muning, Riam Kanan, dll.

Belanda telah mendapat laporan tentang jumlah pemberontak pribumi itu mencapai sebanyak 6 ribu orang. Itulah sebabnya Belanda memperkuat posisi pertahanannya di Pengaron. Sejak itu Residen sudah tidak percaya lagi terhadap Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi, yang ternyata gerakan rakyat tersebut, justru didalangi Pangeran Hidayatullah dengan memberikan petunjuk dan bantuan senjata yang diambil dan perlengkapan Kesultanan Banjar bersama Pangeran Antasari.

Pada 28 April 1859 meletus pertempuran dahsyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari dengan mengerahkan 300 orang anak buahnya bersama Pembekal Ali Akbar, Mantri Taming Yuda, Penakawan Sultan Kuning, dan lain-lain 

Sekitar 170 orang dan prajurit dari penghuni pribumi benteng itu melarikan diri saat pertempuran berlangsung dan berpihak kepada rakyat pejuang.

Pihak Belanda memang berupaya mempertahankan benteng tersebut guna melindungi tambang batu bara dan pada tanggal 28 April tersebut tercatat sebagai bermulanya Perang Banjar. Batu bara menjadi salah satu sebab meletusnya Perang Banjar, karena hal itu menjadi bagian dan politik ekonomi imperialisme dan kolonialisme Nederland.

Sebagai kekayaan alam yang bisa memberikan devisa negara, ‘perburuan’ batu bara di Kalimantan Selatan khususnya, yang diikuti dengan timbulnya masalah lain seperti pencemaran lingkungan, masih terus berlangsung hingga sekarang.

Batu bara yang menjanjikan uang, seolah tidak pernah sepi dari ‘pertikaian’ di masyarakat. Batu bara, ibarat pisau dengan dua mata yang masing-masing sisi matanya mempunyai ketajaman kepentingan yang saling bertentangan: satu sisi menimbulkan devisa dan di sisi lain mencemari lingkungan.

(Pangeran Antasari dan Meletusnya Perang Banjar – Datu Mangku Adat Syamsiar Seman)