PENDAHULUAN

Sejarah adalah memori kolektif suatu bangsa, maka sejarah juga menghubungkan kita dengan masa lalu yang dalam hubungan kausalitas tentu berparuh dengan apa yang terjadi masa sekarang. Kemudian disusun lah narasi Sejarah berdasarkan memori itu dan didukung fakta – fakta sejarah.

Perang Banjar yang berlangsung cukup lama yaitu dimulai dari penyerangan Tambang Batu Arang Orange Nassau di Pengaron dari 28 April 1859 sampai dengan gugurnya Sultan Muhammad Seman pada tahun 1905, Adalah sebuah fragmen sejarah yang melengkapi Mozaik sejarah bangsa Indonesia. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui sejarah perang banjar dalam persfektif sejarah yang di bangun dari rekaman objektif dari data – data primer maupun sekunder, dari Kalimantan Selatan ataupun dari sumber-sumber Belanda.

Dalam membahas Perang Banjar kita tidak bias terlepas dari sumber penting dalam sejarah perang banjar yaitu buku “De bandjermasinsche krijg van 1859-1863” oleh W.A Ress juga buku “Almanak van Nederlandsch-Indië” walaupun selalu dalam kacamata Dutch-sentris. Buku lain adalah Buku Perang Banjar oleh Gt. Mayur, Buku Tumenggung dan Pegustian oleh Helius Sjamsudin, dll yang sudah Indonesia-sentris.

Dalam prosesnya, Perang Banjar melibatkan hampir seluruh komponen masyarakat dalam regional yang begitu luas, mencakup provinsi Kalimantan selatan dan Kalimantan tengah sekarang, tidak terkecuali wilayah yang sekarang disebut Kabupaten Balangan ini, Benteng Batu Mandi dan Benteng Tundakan merupakan bukti nyata bagaimana rakyat balangan mengambil bagian dari perlawanan kepada dominasi asing di Kalimantan Selatan ini. Sayang sekali bila semangat perjuangan yang begitu besar digelorakan oleh pendahulu kita di Balangan ini jarang atau bahkan tidak sama sekali diketahui oleh generasi muda Balangan.

Berikut ini akan dipaparkan secara deskiptif – naratif beberapa peristiwa yang berkaitan dengan perang banjar di Bumi Sanggam Balangan ini.

  1. Pertempuran Benteng Batu Mandi
    Setelah pertempuran dahsyat di dalam bulan September 1860 selama 20 hari mempertahankan benteng Gunung Madang di Kandangan, pasukan Banjar di bawah pimpinan Demang Leman dan Tumenggung Antaludin bergerak ke utara dan bergabung dengan induk pasukan Banjar di Batu Mandi.

    Batu Mandi tidak mudah didatangi Belanda, karena untuk mencapainya, Belanda harus melalui Batang Alai/Barabai atau Belanda harus melewati Batang Balangan dimana banyak gerilyawan Banjar di daerah ini,. Di daerah Batang Alai pasukan Banjar di bawah pimpinan Demang Jaya Negara Seman dan Kiai Jayapati, sementara di Batang Balangan dipimpin oleh Tumenggung Jalil.

    Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasai datang di Batu Mandi untuk memeriksa benteng yang sedang dipersiapkan. Di benteng ini telah berada pula Pangeran Syarif Umar (ipar Pangeran Hidayat) dan Pangeran Usman (kemenakan Pangeran Hidayat). Pangeran Hidayat datang ke Batu Mandi untuk mengatur siasat untuk menghadapi Pasukan Belanda yang bergerak ke Batu Mandi dari Benteng Amuntai.

    Untuk menghambat laju pasukan Belanda, Pangeran Antasari memimpin penyerangan Amuntai, Kalua dan Tanjung. Tumenggung Jalil yang memusatkan kekuatannya di Kusambi akan menghadang pasukan Belanda yang dipimpin langsung Assisten Residen Van Oijen.

    Pasukan Belanda akhirnya berhadapan langsung dengan Pasukan Banjar yang dipimpin Tumenggung Jalil di sepanjang kubu-kubu pertahanan yang sengaja dibuat untuk menghambat laju Pasukan Belanda, terjadilah pertempuran dahsyat di Lampihong, Kusambi, Layap dan Muara Pitap. Banyak korban yang jatuh diantaranya Pangeran Syarif Umar dan Pangeran Usman dalam pertempuran Kusambi, dari pihak Belanda tewas juga Kepala Distrik Balangan Kiai Raden Mas Wira Yuda.

    Tanggal 13 Oktober 1860 Belanda memasuki Batu Mandi, Pasukan Belanda yang terlebih dahulu sampai di Benteng Batu Mandi adalah pasukan dari Barabai yang lengkap dengan Mortir dan Meriam. Benteng Batu Mandi sengaja dipertahankan oleh satu pasukan kecil saja, perlawanan bertahan ini memang diatur untuk pasukan yang besar dapat meninggalkan benteng itu lebih jauh. Betapa kecewanya Belanda karena benteng yang dikepungnya dengan susah payah itu ternyata kosong. Dalam pertempuran ini tewas sersan Van den Bosch, Kopral Koudijs serta puluhan serdadu Belanda.

    Pasukan van Oijen telah lelah karena terus menerus digempur sepanjang perjalanan mereka, pasukan itu mengalami tekanan fisik dan mental akhirnya terpaksa meneruskan perjalanan ke Barabai karena untuk kembali ke Amuntai mereka sudah tidak sanggup bertempur lagi.

  2. Pertempuran Benteng Tundakan 24 September 1861
    Sebelum pertempuran Benteng Tundakan terjadi, Tumenggung Jalil dan saudaranya Haji Dulgani, Durakhman dan Penghulu Buhassin dan pasukan menyerang Pos Belanda di Paringin pada tanggal 16 – 17 Mei 1861.

    Benteng Tundakan terletak di Desa Tundakan, Kecamatan Awayan, secara astronomis terletak pada koordinat 20 22’31,3 LS dan 1150 34’56,8 BT. Benteng ini merupakan benteng alami berupa batu-batu alam.



    Benteng Tundakan dipertahankan oleh Tumenggung Jalil, Pangeran Miradipa, Tumenggung Naro, Angkawaya (pejuang wanita), bersama-sama 500 rakyat pejuang. Sekitar akhir September 1861 Benteng Tundakan didatangi pemimpin utama rakyat Banjar, Pangeran Antasari. Kedatangan Pangeran Antasari ini segera diketahui Belanda yang kemudian dengan 200 lebih tentara Belanda di bawah pimpinan Kapten Van Langen dan Kapten Van Heyden bergegas menyerang Benteng Tundakan.

    Pada tanggal 24 September 1861 terjadilah pertempuran di benteng ini. Pasukan Banjar dengan 30 pucuk meriam lila, beberapa pucuk bedil dan pamoras, selebihnya dengan senjata-senjata tradisional.

    Ketika pasukan Belanda tengah fokus pada perlawanan sengit dari dalam benteng, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya serangan langsung Tumenggung Jalil ke barisan mereka.

    Seperti pertempuran-pertempuran lain dalam menghadapi kekuatan pribumi, pada Pertempuran Tundakan pun pihak Belanda memiliki persenjataan yang lebih unggul. Namun mungkin karena konsentrasi mereka terpecah oleh perlawanan sengit dari dalam sekaligus dari luar benteng, pasukan Belanda terpaksa mundur dari Tundakan. Hanya saja kemenangan pihak Banjar ini rupanya merupakan pertempuran terakhir bagi Tumenggung Jalil.

    Seusai pertempuran, kawan-kawan seperjuangannya menemukan jasad sang tumenggung jauh di luar benteng ada di antara tumpukan mayat serdadu Belanda yang tewas oleh amukannya. Sesudah luka-lukanya dibersihkan, mayatnya kemudian dimakamkan secara rahasia di suatu tempat tidak jauh dari benteng.

    Di mata Belanda, Tumenggung Jalil rupanya dipandang sebagai musuh yang dosa-dosanya tak terampuni. Untuk itu mereka memburunya hingga ke liang kubur. Beberapa tahun setelah kematiannya, seorang pengkhianat memberitahukan letak kubur Tumenggung Jalil. Para kaki tangan Belanda segera membongkarnya. Jenazah Tumenggung Jalil “dieksekusi”. Kepalanya diambil untuk kemudian disimpan di Museum Leiden Belanda sebagai salah satu piala kemenangan, simbol kejayaan kolonialisme masa lalu.

    Selain itu terkait dengan peristiwa tersebut terdapat peninggalan berupa Meriam terbuat dari besi dengan ukuran panjang 39 cm, diameter depan 5 cm, diameter bagian belakang 7 cm dengan lobang moncong meriam caliber 2,5 cm (disimpan di rumah Bpk, Amir)

Penutup
Demikianlah rakyat Balangan tidak tinggal diam menghadapi kolonialisme Belanda di Kalimantan Selatan, Pahlawan kita Tumenggung Jalil, Tumenggung Naro, Tumenggung Maradipa dan Angkawaya layak mendapat apresiasi yang lebih dan disejajarkan dengan tokoh –tokoh pejuang lainnya di Indonesia.

Ditulis oleh Dharma Setyawan