Wabah Ubah Jalan Sejarah Perang Banjar.

 

“Berdasar catatan Victor T King menuliskan bahwa pasukan Belanda berulang kali gagal menangkap Panglima Perang Banjar Pangeran Antasari (dinobatkan sebagai Sultan Banjar pada 14 Maret 1862) di hutan Kalimantan bagian selatan. Namun, tragis, Pangeran Antasari justru menghembuskan nafas akibat wabah cacar bukan karena tembakan dari moncong senjata Belanda”. Demikian dituliskan sejarah ini dalam karya Victor T King, Environmental Challenges in South-East Asia (2013)”.

Terbunuhnya Pangeran Antasari karena wabah Cacar juga diungkapkan dalam catatan sejarawan, Merle Calvin Ricklefs dalam bukunya berjudul A History of Modern Indonesia since c-1300 (1993).
“Dalam buku itu, Ricklefs memaparkan, setelah pengasingannya, Antasari menjadi fokus utama penangkapan Belanda di antara mereka yang menentang penaklukan Belanda, sampai kematiannya sendiri akibat cacar pada Oktober 1862,” tutur Mansyur.

Nah, beber Mansyur, pasca kematian Pangeran Antasari, permusuhan besar pun berlanjut hingga 1863, dengan lebih banyak perlawanan bersifat sporadis.
“Selain cacar, ternyata wilayah Hulu Barito pada pertengahan abad 19 tersebut juga dilanda wabah disentri. Hal ini ditulis H.G.J.L. Meyners (1886) menceritakan bahwa Pangeran Antassarie meninggal karena oleh cacar dan menderita disentri,” ujar sejarawan jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Sumber : Mansyur via Jejak Rekam @sammyxnyder_istorya
#pangeranantasari #kesultananbanjar #kesultananbanjar_official

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.