Sang Pelindung Sultan Banjar. Syahid di Bulan Ramadan.

Bak cerita film layar lebar, bulan Ramadhan 1280 H menjadi episode tragis perlawanan Demang Lehman, demi kemerdekaan Banua dari cengkeraman kolonialis. Dari deretan data sejarah era kolonial menuliskan Demang Lehman merupakan penganut Islam yang taat menjalankan ajaran agama.

Tokoh pejuang Banjar yang oleh Pemerintah Belanda digelari Solehmah ini, tidak pernah meninggalkan shalat dan tetap berpuasa, walau pun bayang kematiannya menuju detik-detik terakhir

Seperti dituliskan Meyners dalam Bijdragen tot de Geschiedenis van het Bandjermasinsche Rijk. tanggal 13 Ramadhan 1280 H (21 Februari 1864), membawa tahanan khusus dalam kondisi terikat.
Dia adalah Demang Lehman yang begitu terkenal.

Belanda pun segera memerintahkan proses hukum dan mengadili sang Demang. Dewan Militer dengan suara bulat menyetujui Demang dihukum mati di Lapangan (Alun Alun) Martapura pada 19 Ramadhan 1280 H (27 Februari 1864 M), sore hari.

Meyners menuliskan Demang Lehman, meski tampaknya kurang bergairah dan mengenakan pakaian buruk (compang camping), ternyata memiliki sesuatu yang mengesankan. Sikap dan ketegasannya, Demang Lehman bahkan tetap menjalani ibadah puasa sesuai dengan keyakinannya.
Demang Lehman pun tidak memberontak atau melarang ketika perwakilan Pemerintah Hindia Belanda mengambil fotonya, beliau duduk di kursi kayu sambil terjerat tali.

Menjelang eksekusinya, seperti dituliskan Meyners, Demang Lehman juga berpuasa Ramadhan. beliau juga sahur dan berbuka puasa. Menunya, hanya dengan roti biasa atau roti beras untuk jam-jam tertentu.

Dari sumber lain dituliskan bahwa Demang Lehman juga tidak pernah meninggalkan shalat dan membaca Alquran di dalam tahanan. Demang Lehman memiliki Alquran berukuran kecil yang selalu dibawanya kemana-mana dan dibacanya ketika waktu senggang.

Demang Lehman saat dieksekusi sedang berpuasa. Pada pada 19 Ramadhan 1280 H (27 Februari 1864 M), di hari eksekusinya, Demang Lehman sangat tenang dan tidak kehilangan kendali dirinya.

Ia pun melangkah dan dengan bangga mengangkat kepalanya melewati tatapan kumpulan warga Martapura yang ada di jalan, menuju tempat eksekusi (tiang gantungan).

Sumber : Mansyur via Jejak Rekam
#Demanglehman

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.