Berita, Kegiatan Sultan

Sultan Banjar Hadiri Penobatan Sultan Minangkabau Pagaruyuang

111

Penobatan Sultan Pagaruyung di Istano Silinduang Bulan Kecamatan Tanah Datar Kota Batusangkar Provinsi Sumatera Barat, pada hari Sabtu tanggal 29 September 2018 berlangsung khidmat dan meriah.
Sekitar 5.000 masyarakat Minang tumpah ruah menyaksikan dan memberikan doa restu penobatan Sultan Pagaruyung Minangkabau yang baru, yaitu DR Muhammad Farid Thaib Raja Alam Darul Qorar.
Acara dilaksanakan penuh dengan nuansa adat Minang yang kaya dengan nilai agama dan budaya, baik yang disampaikan murni dengan bahasa Minang maupun bahasa nasional.

Acara ini digelar sangat meriah, karena tergolong langka, boleh jadi baru dialami seumur hidup, karena Sultan terakhir dinobatkan di akhir abad ke 18, dan Sultan yg dinobatkan sekarang adalah Sultan ke 22.

Sultan Banjar YM Sultan Haji Kharul Saleh sebagai Ketua Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN) sekaligus Anggota Dewan  Agung Majelis Raja Sultan Indonesia (MARS), diminta untuk memberikan sambutan mewakili raja sultan se Indonesia.

Sultan lebih dulu menyampaikan doa atas wafatnya Sultan terdahulu dan mengucapkan selamat dan tahniah atas penobatan Sultan yang baru.

Sultan Khairul Saleh menekankan bahwa posisi raja sultan zaman sekarang sangat dekat dengan rakyat, tidak ada jarak lagi dengan rakyat, hanya seranting di atas dan sedepa di depan. Dengan begitu rakyat dapat menjadikan lembaga  kesultanan sebagai  tempat rakyat menyampaikan kegundahan hatinya.

Sultan Banjar juga sempat mengajak hadirin untuk menyampaikan doa dan surah Al Fatihah untuk para korban gempa tsunami Donggala Palu.

Sultan Banjar meminta agar Kesultanan Nusantara termasuk Kesultanan Pagaruyung untuk terus mewakafkan dirinya bagi kemajuan kebudayaan dan peradaban nusantara yang bercorak melayu Islam.

Terkait dengan meningkatnya suhu politik menjelang pilpres dan pemilu legislatif, Sultan Banjar juga meminta agar raja / sultan turut memelihara  persatuan dan kesatuan, mengembangkan akhlak mulia dan sopan santun dalam berpolitik, sehingga terhindar dari gesekan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Senada, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasri Abid Datok Malintang Panai juga menekankan bahwa kerajaan / kesultanan merupakan aset Nasional dan kekayaan sejarah budaya yang tidak ternilai harganya.

Wagub mengatakan pemerintah daerah siap bekerja dan mendukung semua program kerajaan kesultanan, karena bagi pemerintah, kerajaan / kesultanan merupakan mitra untuk membangun bangsa, terutama dalam ranah budaya.
Bahkan kerajaan / kesultanan memberikan sumbangsih besar bagi daerah, baik dalam kemajuan peradaban masa lalu maupun masa sekarang.

Di masa lalu Kerajaan / Kesultanan menanamkan nilai-nilai adiluhung yang bercorak melayu Islam, dan sekarang ia menjadi salah satu daya tarik wisata, khususnya wisata sejarah dan budaya.

Meskipun suatu daerah tidak kaya SDA, tetapi kalau kebudayaannya dikelola dengan baik, maka ia akan mendatangkan PAD yang besar.

Sebagaimana sambutan Bupati Tanah Datar dalam acara ramah tamah malam sebelumnya , wisatawan terus bedatangan ke Tanah Datar sebab ada wisata sejarah dan budaya di dalamnya, yaitu Istana Pagaruyung dengan kekayaan budayanya.
Karena itu pemerintah daerah tidak ragu untuk mendukung kerja-kerja budaya yg dilaksanakan oleh pihak kesultanan, termasuk mendukung penuh pembangunan istana yg baru terbakar dan menyediakan APBD untuk pengelolaan rutin.

Acara Penobatan Sultan Pagaruyung kali ini berlangsung sangat meriah, juga tak lepas dari dukungan raja / sultan khususnya di kawasan Sumatera Barat. Dan sudah menjadi tradisi sejak lama mereka saling bantu, baik dengan materi maupun uang.

Bantuan paling sering adalah berupa kerbau untuk disembelih dan dagingnya dimakan bersama rakyat. Kerbau juga simbol perhormatan dan keperkasaan Sultan yang dilantik.

Tradisi saling bantu dan selalu kompak ini tidak terlepas dari prinsip Minang Saiyo Sakato dan Sakato alam. Agama menyuruh saling bantu dalam kebaikan dan adat melaksanakan. Pribahasa setempat mengatakan, Sara Mangato, Adat Mamakai.

Tak hanya sesama raja / sultan yg saling bantu, tapi rakyat juga ikut berpartisipasi. Ada juga yang memberi kambing, ayam, itik, telur, beras, sayur, buah-buahan, disertai bantuan tenaga. Tidak kurang 300 orang rakyat ikut bekerja menyukseskan acara.

Dengan begitu beban dari keluarga raja/sultan tidak terlalu berat, begitu seterusnya mereka bekerja secara bergiliran seperti arisan.