Adat Banjar

Penyakit Kelalah pada Wanita Banjar

607

Urang Banjar melalui beberapa siklus hidup dengan penuh kehati-hatian. Berbagai pantangan harus dihindari untuk menghindari akibat buruk yang mungkin terjadi. Salah satu kepercayaan yang telah diyakini turun temurun adalah penyakit Kelalah. Nama ini diambil dari kondisi atau situasi dimana seorang wanita yang baru saja melahirkan mengalami kelelahan yang luar biasa yang ditandai dengan demam tinggi atau yang sering dinamakan mariap dingin (meriang).

Kelalah ini berdampak serius bagi seorang wanita yang baru melahirkan. Selain karena tubuhnya masih menyesuaikan dengan sakit atau luka setelah melahirkan, wanita ini juga harus berjuang melawan demam yang tinggi di sekujur tubuhnya. Banyak wanita Banjar yang percaya bahwa penyakit Kelalah yang tidak segera ditangani akan berakibat kepada kematian.

Masa pantangan bagi wanita yang baru melahirkan adalah 40 hari. Selama dalam rentang masa ini, ada beberapa pantangan penting yang harus dijaga agar terhindar dari penyakit Kelalah. Jenis-jenis pantangan yang bisa mengakibatkan penyakit Kelalah adalah:

  1. Kelalah Makanan, Secara umum, masyarakat Banjar berkeyakinan bahwa selama 40 hari ibu pasca bersalin dianjurkan menu sehari-hari yang diperbolehkan untuk sang ibu adalah nasi, ikan haruan/gabus asin kering yang dibakar, dan cacapan atau acar bawang merah. Kadang-kadang ikan asin dapat diganti dengan telur rebus. Ada pula yang berkeyakinan menyatakan bahwa telur dan ikan asin tidak bisa dimakan karena berasal dari yang bernyawa, sehingga selama 40 hari ibu hanya makan nasi, sayur, gula merah, air teh, air kopi. Pada masa lalu di daerah Banjar sayur susah didapat, maka yang dimakan adalah nasi dan gula merah saja. Pengolahan makanan hanya boleh dengan cara merebus, mengukus dan memanggang.
  2. Kelalah Gawian/Pekerjaan. Selama 40 hari ibu yang baru melahirkan dilarang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu lantai, memasak, melakukan kegiatan di bawah sinar matahari.
  3. Kelalah Lakian. Jenis kelalah ini terjadi apabila ibu yang baru melahirkan melanggar pantangan tersentuh laki-laki atau berhubungan seksual sebelum genap 40 hari.

Bahan yang dipakai untuk menyembuhkan Kelalah adalah air. Bagi masyarakat Banjar, air merupakan media penyembuhan yang sangat dominan, karena sifatnya yang mendinginkan. Air digunakan dalam berbagai ritual upacara dan pengobatan. Apabila kita amati sudah menjadi kebiasaan urang Banjar untuk membawa air kepada orang yang diyakini berilmu untuk kemudian diminumkan atau dimandikan. Pada kasus Kelalah, air digunakan untuk merendam sisa makanan penyebab kelalah, hasil dari rendaman tadi diobatkan dengan cara diusapkan ke seluruh tubuh maupun untuk diminum. Biasanya bagian dari makanan yang menyebabkan Kelalah diambil sedikit kemudian dibuat ke dalam mangkok kecil kemudian direndam selama beberapa waktu atau didiamkan. Setelah itu mangkok tadi diambil dan airnya digunakan untuk mengobati.

Untuk kondisi orang yang sudah lupa penyebab Kelalah, biasanya digunakan jelaga di dapur. Penggunaan jelaga dapur merupakan resep turun temurun untuk menyembuhkan Kelalah bagi orang yang lupa penyebab terkena Kelalah. Jelaga bekas pembakaran makanan di dapur dikikis sebagian, jelaga ini bisa yang berasal dari kayu bakar, peralatan memasak atau bagian-bagian dapur yang menjadi jelaga. Bagian yang dikikis tadi direndam dalam mangkok kecil dan disaring. Air tersebut kemudian langsung diminum atau cukup diusapkan ke tubuh.