Kerajaan Sebamban dibangun oleh Pangeran Syarif Ali Al-Iderus pada sekitar awal abad ke 18, ayah Pangeran Syarif Ali bernama Syarif Abdurrahman Al-Iderus seorang ulama keturunan Arab yang datang ke Nusantara untuk menyebarkan agama Islam.

Pada sekitar abad ke 18  seorang ulama keturunan Arab bernama Syarif Abdurrahman Al Iderus datang ke nusantara untuk menyebarkan agama Islam. Syarif Abdurrahman Al-Iderus dalam upayanya menyebarluaskan agama Islam tiba di Kesultanan Banjar, Syarif Abdurrahman Al-Iderus diterima dengan baik oleh Sultan Banjar, kemudian menikah dengan saudara perempuan Sultan Adam Al Watsyiku Billah yang bernama Putri Saribanon. Dari pernikahan itu mereka memiliki seorang putra yang diberi nama Syarif Ali Al-Iderus, kemudian bergelar Pangeran Syarif Ali Al-Iderus.

Setelah dewasanya Syarif Ali Al-Iderus dinikahkan dengan saudara perempuan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kaderi di Pontianak. Pulang dari Pontianak, Pangeran Syarif Ali Al-Iderus terpanggil untuk meneruskan perjuangan ayahandanya dalam menyebarluaskan agama Islam. Di dalam perjalanannya Pangeran Syarif Ali Al-Iderus akhirnya tiba di sebuah muara sungai yang bercabang dan kemudian berlabuh di sana, Pangeran Syarif Ali Al-Iderus yang merasa tertarik terhadap wilayah tersebut kemudian berjalan menyusuri pesisir sungai hingga akhirnya tiba di Lok Basar (dalam Basar). Selanjutnya membangun tempat tinggal di sana. Suburnya tanah daerah tersebut dan hutan belantara yang sangat banyak menyimpan kekayaan alam yang melimpah ruah, hingga akhirnya mengundang para pendatang dan perantau untuk menetap.

Dengan banyaknya pendatang dan perantau yang datang, menetap dan terus berkembang membuat daerah tersebut menjadi ramai. Pangeran Syarif Ali Al-Iderus sebagai pembuka daerah tersebut akhirnya diangkat sebagai pemimpin atau penguasa daerah. Karena Pangeran Syarif Ali Al-Iderus merupakan salah satu pangeran keturunan Sultan Banjar maka terjalin hubungan baik dengan Kesultanan Banjar sebagai induk dari pemerintahannya. Hubungan baik ini menjadikan Kerajaan Sebamban maju dalam bidang dagang hasil bumi bahkan berhasil membuka hubungan sampai ke Kerajaan Johor.

Akan tetapi karena kesuburan dari hasil Bumi inilah Kerajaan Sebamban menjadi incaran kolonial Belanda untuk dijadikan salah satu sumber perdagangan rempah-rempah mereka. Pada saat Belanda mulai masuk di wilayah ini dengan akal liciknya kemudian berhasil membuat kalangan keluarga Kerajaan tidak betah berada di tempat atau kediamannya sendiri. Satu persatu keluarga kerajaan meninggalkan istana hingga akhirnya Istana tidak lagi ditempati dan terabaikan dan sekarang yang tertinggal hanya puing-puing tiang bangunan, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1859.

Pada zaman milenial ini, keturunan dari Pangeran Syarif Ali Al-Iderus yang bernama Sayid Umar Al-Iderus memiliki keberanian untuk membangkitkan kembali Kerajaan Sebamban sebagai upaya menyatukan keluarga yang telah tercerai berai akibat penjajahan dan dengan niat untuk terus melestarikan sejarah dan budaya. Kebangkitan kembali Kerajaan Sebamban ini diabadikan dalam sebuah upacara penobatan Pangeran Muda Kerajaan Sebamban.

Upacara agung ini sekaligus dirangkai dengan Haul ke 16 Habib Pangeran Syarief Ali Bin Abdurrahman Al Iderus di lokasi pemakamannya Desa Sebamban Baru Kecamatan Sungai Loban pada hari Ahad tanggal 24 Juni 2018.

Acara Puncak ditandai dengan penobatan Raja Sebamban di hadapan wewenang Sultan Banjar Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tasim Billah melalui Pangeran Nooryakin, yang juga disaksikan Raja Kubu dari Kalimantan Barat Habib Zulfi Bin Ismail Al Iderus.

Tak hanya itu Pangeran Muda H.Sayid Umar turut mendapatkan keris pusaka Kesultanan Banjar beserta darjah kebesarannya.

Dalam sambutannya Pangeran Muda Sayyid Umar Al Iderus mengatakan berdirinya Kerajaan Sebamban tak lepas dari ikatan emosional dan kekeluargaan dengan Kesultanan Banjar. Kerajaan Sebamban itu sendiri sambungnya didirikan oleh Pangeran Syarief Ali Bin Habib Abdurrahman Al Iderus di masa Pemerintahan Kesultanan Banjar Sultan Adam Al Watsiqubilllah sebagai Sultan yang ke 12 di tahun 1925 hingga 1959 masehi masa pemerintahannya.

Melalui penobatannya maupun penabalan sebagai raja Sebamban semata mata hanya meneruskan kerajaan di era milenium saat ini. “Penobatan ini tiada maksud ada negara dalam negara dan juga bukan bergerak di bidang Politik praktis untuk berkuasa, melainkan untuk menyatukan keluarga yang tercerai berai akibat kolonialisme Belanda dahulu.” Kata Pangeran Muda Sayyid Umar Al Iderus.

Tujuan lainnya, lanjut Anggota DPRD Tanbu ini, tiada lain ingin mengangkat tradisi yang hilang berdasarkan budaya lokal tradisional yang adi luhung. “Keberadaan kami di era kemerdekaan adalah untuk mengawal NKRI dengan landasan Pancasila Dan UUD 1945 serta Bahennika Tunggal Ika. Dengan terbentuknya kerajaan ini bisa menjadikan hubungan sosial interaktif, serta mensinergikan antara keluarga zuriat Al Iderus dengan masyarakat.” tutupnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Bupati Tanah Bumbu H.Sudian Noor turut mengapresiasi dengan tumbuhnya kembali Raja Sebamban di Kabupaten Tanah Bumbu. Atas penobatan ini ungkapnya berarti kita telah menghidupkan kembali nilai nilai luhur budaya bahari yang mulai hilang akibat kolonialisme dahulu.

“Kita berharap aktivitas budaya kerajaan baru disini akan seperti di daerah lain. Melalui itu akan kita manfaatkan untuk mempererat persatuan dan kesatuan antara suku dan agama manapun.” imbuhnya.

Sementara itu, acara haul turut dihadiri Muspika Kecamatan Angsana serta Kecamatan Sungai Loban. Selain itu lokasi pemakaman juga dihadiri tokoh masyarakat serta ratusan keluarga Al Iderus Kabupaten Tanah Bumbu

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.