Kerajaan Kubu  yang dikenal berada di Kalimantan Barat mempunyai nama besar  Al-Idrus adalah gelar marga dari Bani Alawi  yang bermakna “keturunan Alawi”. Alawi adalah cucu Ahmad bin Isa yang dilahirkan di Hadramaut. Ahmad bin Isa Al-Muhajir, nasab Bani Alawi turunan dari Sayyidul Al-Husain ra,  keturunan nabi Muhammad saw, telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah di Hadramaut di Yaman Selatan.

Para penjelajah Arab yang berasal dari daerah Hadramaut di Selatan Jazirah Arab yang pada mulanya bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berdagang di lautan Timur-jauh (Asia) berlabuh di Kalimantan. Leluhur dan Tuan Besar (Raja) Kerajaan Kubu pertama, yaitu Syarif Idrus Al-Idrus adalah menantu dari Tuan Besar (Panembahan) Mampawa (Mempawah). Ia Syarif Idrus juga merupakan ipar dari Sultan pertama Kesultanan Pontianak (Al-Qadri). Pada awalnya Syarif Idrus membangun perkampungan di dekat muara sungai Terentang, barat-daya pulau Kalimantan.

Sebagaimana keluarga sepupunya (Al-Qadri), Keluarga Syarif Idrus Al-Idrus (the Idrusi) tumbuh menjadi keluarga yang kaya-raya melalui perdagangan yang maju. Mereka membangun hubungan yang terjaga baik dengan Kerajaan Inggris Raya, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stanford Raffles (yang membangun Singapura), saat Raffles ditugaskan di Hindia Belanda. Hubungan ini berlanjut hingga setelah kembalinya Belanda ke Indonesia (Hindia Belanda) dan dirintisnya pembangunan pulau Singapura.

Bagaimanapun juga, hubungan ini tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, yang secara formal mereka mengendalikan Pulau Kalimantan berdasarkan kontrak perjanjian bangsa-bangsa yang ditetapkan pada tahun 1823. Beberapa keluarga Al-Idrus sempat juga mengalami perubahan kesejahteraan hidup menjadi sengsara pada masa itu. Mereka ada yang meninggalkan Kalimantan demi menjauhi sikap buruk Belanda ke daerah Serawak, yang mana waktu itu menjadi daerah territorial Kerajaan Inggris Raya, demi harapan yang lebih baik akan keberhasilan dalam perdagangan. Sedangkan Keluarga Al-Idrus yang memilih bertahan di Kubu, tak jua mendapatkan kehidupan serta perlakuan yang lebih baik dari pemerintah Belanda.

Pasca tertangkapnya Sultan Hamid II yang merupakan Sultan Pontianak maka Daerah Istimewa Kalimantan Barat  (DIKB) dan kerajaan-kerajaan yang ada di bawahnya dinyatakan bubar. Kesultanan Pontianak kemudian bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan nama Kalimantan Barat.

Setelah sempat terjadi kekosongan selama 67 tahun maka melalui keturunan Alaydrus, para juriat bersepakat untuk kembali menghidupkan kembali sejarah Kerajaan Kubu dengan mengangkat Tuan Besar yang Dipertuankan Raja Kerajaan Kubu. Kebangkitan kembali Kerajaan Kubu ini mendapat dukungan dari Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah sebagai Sekjen Kerapatan Raja-Sultan se Borneo.

Tuan Besar yang Dipertuankan Raja Kubu, Habib Ismail Bin Hasan Alaydrus dan Raja Kubu Habib Zulfi Bin Ismail Alaydrus resmi dinobatkan pada hari Ahad tanggal 27 Agustus 2017. Pengesahan dan pengambilan sumpah dilakukan di hadapan otoritas Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah yang diwakili oleh Pangeran Nooryakin ini bertempat di halaman Kerajaan Kubu, di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat.

Sebelumnya, Pangeran Nooryakin yang juga bertindak mewakili Kerapatan Raja-Sultan se-Borneo, menobatkan Habib Ismail Bin Hasan Alaydrus sebagai Tuan Besar yang Dipertuankan Raja Kubu, dilanjutkan penobatan Raja Kubu oleh Tuan Besar.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Syarif Ibrahim Alaydrus, penobatan Tuan Besar dan Raja Agung ini diharapkan dapat mengenalkan kembali sejarah Kerajaan Kubu kepada masyarakat dan generasi muda, terutama bagi keluarga Alaydrus baik di dalam mapun luar Kalbar.

Selain itu dapat menjadi ikon pengembangan pariwisata di wilayah Kubu Raya, terutama wisata religius, dan wisata kearifan lokal kerajaan, sehingga bisa meningkatakan sektor ekonomi masyarakat.

“Kita harap ini juga menjadi momentum penataan kebudayaan kesultanan sebagai wadah pengembangan dan menjaga kebudayaan lokal yang merupakan bagian kekayaan daerah,” katanya.

Untuk itu, Ibrahim mengharapkan agar keluarga besar Alaydrus dapat bersama-sama bergandengan tangan, bahu membahu dan bersatu dalam bingkai silaturahmi yang erat, saling membantu satu dengan lainnya.

“Karena ibarat pepatah bola lampu ukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga bila lampu berukuran 25 watt yang dinyalakan bersama,” katanya.

Bupati Kubu Raya, Rusman Ali yang hadir pada pengukuhan tersebut meminta keluarga besar Alaydrus dapat menjaga nama harus raja pertama yang sudah ratusan tahun sangat harum dan dikenal baik oleh masyarakat Kalbar.

“Kerajaan Kubu ini adalah satu-satunya budaya yang ada di Kubu Raya yang dapat dikembangkan. Ada Situs Makam Kerajaan, ada pula istana. Ke depan istana dapat direhab kembali sehingga menjadi tempat wisata baik dari luar maupun dari negeri tetangga,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Raja Kubu, Habib Zulfi bin Ismail Alaydrus mengatakan, ke depan ia berharap keluarga besar Alaydrus bersatu guna mengangkat marwah Alaydrus. Acara penobatan ini adalah wujud dari keinginan untuk menyatukan kembali keturunan-keturunan Alaydrus yang ada di Kalbar, Borneo, Jawa, hingga dari luar negeri.

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.