Kesultanan Banjar, Sejarah Banjar

Pembacaan Manaqib Sultan Adam Al Watsiq Billah

389

MANAQIB SULTAN ADAM

Tim Penyusun:
Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah
H Gusti Shuria Roem
Abu Daudi
Gusti Aminullah

Majelis Haul yang berbahagia !

Sultan Adam Al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah II, dilahirkan pada tahun 1876 M di bumi Karang Anyar (Karang Intan), Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. (Dengan demikian bapak/ayah Sultan Adam bukanlah Sultan Sulaiman Saidullah yang nama sebelumnya adalah Pangeran Wiranata dari Jawa yang diangkat oleh Belanda dan bekerja sama dengan Belanda; hal ini terjadi pada zaman Sultan Tahlilullah)

Dalam tahun 1825 M, Sultan Adam dinobatkan menjadi Sultan menggantikan ayah beliau Sultan Sulaiman Rahmatullah hingga tahun 1857 M. Dengan demikian 32 tahun lamanya beliau memangku sebagai Sultan di bumi Banjar Benua Lima.

Kalau kita memperhatikan ranji atau silsilah Kerajaan Banjar sejak raja yang pertama sampai kepada raja yang ketujuh yang memerintah banua Banjar ini, masih menganut kepercayaan animism, (kepercayaan serba ruh) yaitu dimulai dari Pangeran Suryanata (Surya Cipta)/Pangeran Surya Diwangsa, Carang Lalelan, Pangeran Sekar Sungsang, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung (yang terkenal dengan sejarah Perang Bungur) di sepanjang sungai Barito, Daha (Negara), Kahuripan (Amuntai) Hulu Sungai Utara; maka Sultan Adam ini termasuk raja yang ke 18. Tetapi kalau ditinjau dari sejak Kerajaan Banjar ini dipegang oleh Pangeran Samudera (raja pertama yang menganut agama Islam) dengan gelar Sultan Suriansyah, maka Sultan Adam ini adalah Sultan yang ke 12 dari silsilah Kesultanan Banjar.

Hanya lebih kurang 25 tahun pemerintahan Sultan Adam berjalan damai dan tenteram, namun selanjutnya kerajaan mulai diusik oleh pemerintahan Belanda, sehingga Sultan Adam harus benar-benar mewaspadainya dan mempersiapkan pertahanan di segenap bidang.

Hadirin yang berbahagia !

Meskipun belum dapat data bahwa Sultan Adam pernah belajar langsung dengan Syekh Muhammad Arsyad, namun data yang pasti dan ada bahwa beliau banyak belajar dengan putera-putera dan cucu-cucu Syekh Muhammad Arsyad. Diantara guru-guru Sultan Adam adalah:

  1. ‘Alimul ‘allamah Qadhi H Abu Na’am bin Syekh Muhammad Arsyad
  2. ‘Alimul ‘allamah Khalifah Syahabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad
  3. ‘Alimul ‘allamah Mufti H Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad
  4. ‘Alimul ‘allamah Pangeran Ahmad Mufti bin Syekh Muhammad Arsyad
  5. ‘Alimul ‘allamah Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad
  6. ‘Alimul ‘allamah Mufti H M Arsyad Lamak (Pagatan) bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H M As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad
  7. ‘Alimul ‘allamah Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad

Karena itu tidaklah mengherankan pemikiran-pemikiran Syekh Muhammad Arsyad yang disampaikan melalui anak cucu beliau dalam menegakkan ajaran agama dan ajaran ahlussunnah wal jama’ah sangat dominan pemerintahan Sultan Adam, sehingga hal ini dapat dilihat dalam pasal 1 Undang-Undang Sultan Adam (1835) yang berbunyi:

Adapun perkara yang pertama aku surahkan sekalian rakyatku laki-laki dan bini-bini beri i’tikad ahlussunnah wal jama’ah, dan jangan seorang juapun yang beri’tikad ahlul bid’ah, maka barangsiapa yang beri’tikad lain daripada ahlussunnah wal-jama’ah kusuruh bapadah kepada Hakim-nya, dan Hakim itu menobatkan dan mengajari i’tikad yang betul. Lamun enggan inya daripada tobat, bapadah Hakim itu lawan diaku

Disamping itu pula bahwa Sultan Adam sangat cinta dan hormat serta patuh kepada guru-guru beliau, dimana hal ini terlihat pula dalam Undang-Undang Sultan Adam pada akhir pasal 31 yang berbunyi:

“. . . . . . . Sekalian kepada kepala jangan ada menyalahi pitua Haji Jamaluddin ini, lamun orang lain yang menyalahi apabila ikam kada kawa manangat lakas-lakas bapadah kayah diaku

Begitu besar cintanya dan hormat serta patuhnya Sultan terhadap guru-guru beliau, sehingga rakyat disuruh untuk mematuhi pitua-pitua guru beliau. Maka terjalinlah hubungan yang erat dan harmonis antara ulama dan umara, dimana Sultan selalu meminta pitua kepada ulamanya; dan rakyatpun hidup tenteram dan sejahtera dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena selalu diarahkan oleh Sultan dalam pemerintahannya berdasarkan petunjuk ulama atau guru yang berada disampingnya. Dan menjadilah sebuha negeri atau kota yang dikenal dengan kota Martapura yang penuh barakah dan mendapat julukan “Serambi Mekkah”. Sehingga ramailah kegiatan belajar mengajar ilmu agama di kota tersebut yang diikuti oleh segenap lapisan masyarakat, baik dari lapisan masyarakat petani, pengusaha maupun pejabat, dimana Sultan merupakan murid utama dari guru-guru yang mengajar pada masa itu. Maka mendapatlah Sultan julukan seorang raja yang digelar Sultan Adam Al-Watsiq Billah.

Sultan Adam Al-Watsiq Billah adalah seorang Sultan yang kuat ibadah dan berhasil menerapkan hukum Islam di Kerajaan Banjar Benua Lima yang beliau wujudkan dalam suatu Undang-Undang supaya rakyatnya benar-benar menjalankan ajaran ahlussunnah waljama’ah, dan memasukkan lembaga keagamaan dalam struktur pemerintahannya yang langsung pelaksanaannya dipimpin oleh Hakim Tinggi yang terdiri dari Mufti, Qadhi, dan Khalifah.

Majelis Haul yang berbahagia !

Sistem pemerintahan di zaman Sultan Adam mengalami beberapa perubahan meliputi:
Mufti : Hakim yang tertinggi, merupakan pengawas pengadilan umum
Qadhi : Kepala urusan hukum agama Islam
Pengulu : Hakim rendah, yang mendapat piagam (cap) dari Panambahan
Lalawangan : Kepala di dalam sebuah daerah
Lurah : Langsung sebagai pembantu Lalawangan, dan mengamati pekerjaan beberapa orang Pembakal (Kepala Kampung) yang dibantu oleh Khalifah, Bilal dan Kaum.
Pembakal : Kepala dari sebuah kampung, yang kebanyakannya terdiri dari dua anak kampung
Mantri : Pangkat kehormatan untuk orang-orang yang terkemuka dan berjasa. Diantaranya ada juga yang menjadi Kepala dalam sebuah daerah, dan mempunyai kekuasaan sama dengan Lalawangan.
Tatuha Kampung : Orang yang terkemuka di dalam kampong, karena mendapat penghargaan dari anak buah kampung.
Panakawan : Orang yang menjadi suruhan Raja atau Kepala. Mereka ini dibebaskan dari segala pekerjaan negeri dan membayar pajak.

Disamping dari golongan tersebut di atas ada pula golongan yang turut membantu dalam urusan pelaksanaan undang-undang dan hukum adat, seperti: Kadang raja, Pangeran, Gusti, Raden, Kiai, Demang dan Nanang. Yang kedudukan mereka di dalam pemerintahan ada dua macam: pertama ada yang sebagai pembantu kehormatan, dan kedua ada sebagai penyelenggara yang tetap dalam suatu cabang pekerjaan, misalnya pelaksanaan pemerintahan di kampong-kampung, dalam urusan kepolisian, perguruan, pemungutan cukai, urusan social, kehutanan dan lain-lain.

Pusat Pemerintahan dan Istana Kerajaan Sultan Adam Al Watsiq Billah

Sejak Kerajaan Banjar pertama dan Kesultanan pertama di Kesultanan Kesultanan Kerajaan Banjar, maka pusat pemerintahan selalu berpindah-pindah, mulai di Negara Dipa (Margasari), Kahuripan (Amuntai), Daha (Nagara) dan Bandarmasih (Banjarmasin) sebagai pusat Kerajaan Banjar pertama yang dipimpin oleh seorang Sultan, kemudian pindah lagi ke Pemakuan (Sei Tabuk), kemudian ke Muara Tambangan, lalu ke Batang Banyu dan akhirnya ke Kayu Tangi Martapura. Dan pada pemerintahan Sultan Sulaiman pusat pemerintahan berkedudukan di Karang Intan. Dan akhirnya sewaktu Sultan Adam pemerintahan berpusat kembali Martapura, dengan istana yang terletak di Keraton, Sasaran dan Pasayangan Jalan Demang Lehman.

Bekas-bekas Istana, Sitilohor (pendopo), Benteng dan balai pengamanan yang dikelilingi ribuan tonggak balok kayu ulin, halaman tempat terpancangnya tiang bendera kerajaan, kini telah ditempati lokasi Penginapan Abadi, Asrama Kaltim dan Kantor Radio Al-Karomah, bekas kantor posm Pasar Thaibah, Pasar Batuah, dan Lapangan Bumi Selamat (Pusat Pertokoan Permata sekarang).

Hadirin yang berbahagia !

Sultan Adam Al-Watsiq Billah adalah putera tertua dari Sultan Sulaiman Rahmatullah, dan mempunyai saudara yang seibu sebapa sebanyak 5 orang dan saudara sebapa 17 orang, sehingga jumlah saudara Sultan Adam sebanyak 22 orang; dengan demikian anak Sultan Sulaiman Rahmatullah berjumlah 23 orang.
Saudara-saudara Sultan Adam Al-Watsiq Billah:

I. Yang seibu sebapa:

  1. Pangeran Husin Mangkubumi Nata
  2. Ratu Haji Musa
  3. Pangeran Perbata Sari
  4. Pangeran Hashir
  5. Pangeran Sungging Anom

II. Yang sebapa:

  1. Pangeran Berahim (Kesuma Wijaya)
  2. Pangeran Ahmad
  3. Pangeran Hamim
  4. Pangeran Singasari
  5. Pangeran Dipati
  6. Pangeran Ahmad
  7. Pangeran Thosin
  8. Pangeran Tahmid
  9. Pangeran Muhammad
  10. Ratu Marta
  11. Pangeran Kusairi
  12. Ratu Salamah
  13. Pangeran Hasan
  14. G. Umi
  15. R. Mashud
  16. R. Karta Sari

Sultan Adam adalah seorang yang adil lagi bijaksana, sehingga beliau sanggup menyatukan isteri-isteri beliau sebanyak empat orang di dalam sebuah atap atau satu rumah, namun apabila ada yang mati diantara isteri beliau itu, maka beliau kawin lagi sehingga tetap berjumlah empat orang sampai akhir hayat beliau. Maka jumlah isteri beliau kesemuanya sebanyak lima orang. Dan mendapat anak sebanyak 11 orang yang masing-masing:

Dari isteri yang pertama bernama Nyai Ratu Kumala Sari melahirkan:

  1. Ratu Serip Husin Darmakesuma
  2. Ratu Serip Kesuma Negara
  3. Sultan Abdurrahman
  4. Ratu Serip Abdullah Natakesuma
  5. Pangeran Asmail
  6. Pangeran Nuh Ratu Anom Mangkubumi Kencana
  7. Pangeran Prabu Anom

Dari Isteri kedua bernama Nyai Endah, melahirkan:

1. Pangeran Surya Mataram

Dari Isteri ketiga bernama Nyai Pe-ah, melahirkan:

1. Ratu Jantera Kesuma

Isteri keempat bernama Nyai Peles, melahirkan:

1. Pangeran Surya Nasaruddin

Isteri kelima bernama Nyai Sa’amah, melahirkan:

1. Ratu Ijah

 

Hadirin yang berbahagia !

Setelah lebih kurang sepuluh tahun Sultan Adam memerintah, maka situasi politik, kehidupan bernegara dan bermasyarakat, dan beragama mulai terancam, karena Belanda sudah mulai terang-terangan menguasai Kerajaan Banjar, ditambah pula dengan kedatangan Rijnsche Zending, dan beberapa pendeta yang dipimpin oleh pendeta Barnstein, dalam rangka misinya menyebarkan agama Kristen di bumi Banjar Benua Lima, yang dimulainya di daerah udik dan pedalaman.

Melihat hal ini Sultan Adam yang mempunyai pendidikan agama yang kuat dan seorang yang arif lagi peka terhadap situasi yang terjadi, maka untuk menangkis dan menepis budaya asing sertas situasi mengancam kesatuan dan keutuhan kerajaan, maka Sultan merasa perlu untuk membuat undang-undang, yang maksudnya untuk memperkuat kepercayaan rakyat dalam beragama (Islam), serta mencegah perpecahan dan pertentangan di kalangan rakyat dan mendudukkan posisi Hakim untuk dapat bertindak secara professional agar kehidupan rakyat lebih sejahtera.

Maka dalam hal ini beliau bentuklah suatu tim untuk pembuat undang-undang tersebut yang langsung beliau pimpin sendiri dan dibantu oleh beberapa orang tenaga ahli yang terdiri antara lain: Pangeran Syarif Husin (menantu Sultan Adam sendiri) dan Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad dan lainnya. Dan terkenal dengan nama Undang-Undang Sultan Adam, yang terdiri dari 31 pasal, dan materinya dapat dikelompokkan terdiri dari:

  1. Masalah agama, dan peribadatan
  2. Masalah hukum perkawinan
  3. Masalah hukum dan tata pemerintahan
  4. Masalah hukum tanah
  5. Masalah peradilan
  6. Masalah peralihan yang tercantum pada Pasal 16

Undang-undang ini ditetapkan pada hari Kamis 15 Muharam 1251 H (11 Juni 1835 M) jam 09.00 pagi oleh Sultan Adam sendiri.

Majelis Haul yang berbahagia !

Dalam pelantikan Sultan Adam pada tahun 1825 sebagai raja, maka putera tertua beliau bernama Pangeran Abdul Rahman dilantik sebagai Raja Muda, dan dikenal dengan nama Sultan Abdul Rahman Muda

Sultan Abdul Rahman Muda ini kawin dengan Nyai Aminah (orang Tionghoa), melahirkan Pangeran Tamjid. Kemudian kawin lagi dengan Ratu Sitti, melahirkan Pangeran Hidayat dalam tahun 1852 Sultan Abdul Rahman mangkat, maka sebagai gantinya Sultan Adam menunjuk Pangeran Hidayat bin Sultan Abdul Rahman Muda penggantinya Raja Muda, dan sebagai Mangkubumi beliau angkat putera beliau Prabu Anom. Maka kedua keputusan tersebut ditantang oleh Residen van Hengst, sebagai Kepala Daerah Kalimantan Selatan dari pemerintahan Belanda yang sudah mulai mengembangkan sayapnya di bumi Banjar ini, dimana van Hengst menghendaki Pangeran Tamjid sebagai raja, sehingga dengan kedua peristiwa tersebut menjadi cikal bakal peperangan antara Kerajaan Banjar dengan pemerintahan Belanda, sehingga pecahlah perang Banjar hingga 5 Oktober 1905.

Lebih kurang 32 tahun Sultan Adam Al-Watsiq Billah memerintah di negeri Banjar, membawa rakyatnya hidup sejahtera, menegakkan ajaran ahlussunnah wal-jamaah, meningkat perekonomian, serta pertanian dan mempelopori kegiatan belajar mengajar dalam bidang ilmu agama, serta mempertahankan kerajaan dari serangan penjajah baik dari pemerintahan Kerajaan Belanda maupun dari Kerajaan Inggris, akhirnya lesulah jasmani dan lemahlah tenaga beliau dan pergilah beliau menghadap panggilan Ilahi Rabbi, pada tanggal 13 Rabiul Awal 1274 H dan dimakamkan di pemakaman kerajaan di Martapura, pada hari Ahad 14 Rabiul Awal 1274 atau 1 November 1857 M.

Beliau pusakai kepada anak cucu dan zuriat atau keturunannya dengan semangat perjuangan dalam mempertahankan kerajaan, dan suatu undang-undang sebagai pegangan atau landasan untuk berpijak dalam menentukan segala kebijakan, memegang teguh agama, memperkokoh persaudaraan, persatuan dalam menciptakan masyarakat yang agamis untuk kemajuan bangsa dan Negara.

Nama Sultan Adam selalu diingat oleh segenap lapisan masyarakat, sehingga untuk mengabadikan nama beliau, maka jalan tempat makam beliau di Martapura dinamai Sultan Adam; dan untuk mengenang jasa beliau mencetuskan undang-undang, maka diabadikan menjadi sebuah nama Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam Banjarmasin.

Majelis Haul yang berbahagia !

Sepeninggal Sultan Adam Al-Watsiq Billah, awan kelabu selalu menyelimuti kota Martapura khususnya, dan Kerajaan Banjar pada umumnya; dimana setelah beberapa hari wafatnya Sultan Adam, Pangeran Prabu putera Sultan Adam ditangkap oleh Belanda; maka peristiwa ini menjadi muara pecahnya perang Banjar yang dipimpin oleh Sultan Hidayatullah bin Sultan Abdul Rahman Muda, Mangkubumi, Pangeran Antasari dan Panglima Demang Lehman; dan bermunculanlah gerakan-gerakan di berbagai daerah menentang Belanda, yang antara lain Ki Saat Rata (dari Banjar), H. Buyasin (dari Tala), Antaluddin dan Neneng Fatimah (dari HSS), Datu Aling, Tagap Kandi, Tagap Damun (dari Tapin), Abdul Jalil Dinding Raja (dari HST), Panglima Rasyid (dari HSU) Tumenggung Gamar (dari Batu Mandi Kelua Tabalong), Surapati (dari Barito Kalteng) dan lain-lainnya.

Gagalnya perundingan antara Belanda dan Sultan Hidayatullah, sehingga Belanda berupaya menangkap Sultan, namun atas usaha Panglima Demang Lehman dapat menggagalkan rencana Belanda tersebut dengan melarikan Sultan Hidayatullah, yang akibatnya Panglima Demang Lehman ditangkap dan dihukum gantung di pohon beringin Martapura, dan yang sangat menyedihkan bagi kaum muslimin adalah tindakan Belanda membakar Mesjid Martapura dan Istana Kerajaan Banjar.

Penguasa Belanda masih belum puas karena belum tertangkapnya Sultan Hidayatullah, meskipun Panglima Demang Lehman sudah dihukum gantung, Mesjid kesayangan kaum muslimin di Martapura sudah dibakar, dan istana kerajaan pun sudah dimusnahkan, maka mereka mulai mengatur taktik licik, dengan cara membuat surat palsu atas nama ibu Sultan Hidayatullah yang ingin bertemu dengan Sultan karena dalam keadaan sakit. Maka dalam perjalanan Sultan untuk menemui orang tua, ternyata Sultan dihadang di tengah jalan yang kemudian ditangkap langsung dibawa ke Jawa sekeluarga dan diasingkan di Cianjur Jawa Barat, hingga wafat beliau di Cianjur.

Atas keberhasilan Belanda menangkap Sultan Hidayatullah ini, lalu penguasa Belanda mengumumkan hapusnya Kerajaan Banjar dan berkuasanya Pemerintahan Belanda mengumumkan hapusnya Kerajaan Banjar dan berkuasanya Pemerintahan Belanda di negeri Banjar namun perlawanan terus dilanjutkan oleh anak cucu dan zuriat Sultan Adam, dimana Pangeran Antasari yang mengemban wasiat Sultan Hidayatullah agar melanjutkan perjuangan, maka beliau memimpin perlawanan terhadap Belanda bersama-sama Gusti Madseman, Gsuti Arsyad, Ratu Zalekha dan lainnya, dengan semboyan “haram menyarah” meskipun istana mereka sudah tiada. Mereka kesemuanya dianggap oleh penguasa Belanda pemberontak dan rampok, sejarah dari silsilah dikelirukan, benda-benda kerajaan diangkut ke Jakarta dan Museum Negeri Belanda.

Perang Banjar yang berlangsung selama 48 tahun yang tepatnya berakhir pada 5 Oktober 1905 merupakan bibit semangat perjuangan yang tumbuh subur di jiwa anak cucu dan zuriat Sultan Adam Al-Watsiq Billah, sehingga tidak sedikit mereka yang turut berjuang dalam perang kemerdekaan RI menumpas penjajah Belanda, dengan penuh tanggung jawab dan menyatu dengan pejuang-pejuang lainnya.

Akhirnya semoga semangat juang Sultan Adam dalam menegakkan syiar Islam dan memakmurkan kehidupan rakyat baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi dapat kita teladani sehingga sebutan Martapura Serambi Mekkah dapat benar-benar kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.