Kesultanan Banjar, Sejarah Banjar

Kesultanan Adalah Simbol Pemersatu

8

Pangeran Rusdi Effendi AR
Ketua Dewan Mahkota
Kesultanan Banjar

Sebuah bangsa akan dikenal dan dihormati pada saat bangsa tersebut mempunyai karakter dan identitas sebagai bagian dari konstruksi integritas. Karakter atau identitas bangsa satu dengan lainnya dibangun sejak awal, bukan mengada secara tiba-tiba atau dipaksakan untuk diadakan. Sejarah, budaya, adat dan tradisi merupakan hulu dari karakter sebuah bangsa. “Saya yakin Banua Banjar memiliki karakter yang kuat dan luhur dengan adanya peran Kesultanan Banjar,” yakin Pangeran Rusdi Effendi, Ketua Dewan Mahkota Kesultanan Banjar ini.

Globalisasi dan modernisasi membawa paham keseragaman, di mana semua bangsa diseret meninggalkan ciri khas untuk kemudian menyatu dalam sebuah irama umum atau global. Dari sisi silaturrahmi antar bangsa hal ini bagus, terang Pangeran Rusdi. Sambil kemudian merinci bahwa tidak sedikit dampak negatif yang dibawa globalisasi. Utamanya hilangnya identitas dan karakter bangsa. Disinilah pentingnya benteng budaya, adat dan tradisi. “Runtuhnya Kesultanan Banjar, menyebabkan kesantunan dan bagian-bagian kearifan lokal hilang dari keseharian Urang Banjar,” terang Pangeran Rusdi menyayangkan.

Untuk itulah semangat dan gerakan kebangkitan Kesultanan Banjar harus mendapatkan dukungan penuh dari seluruh komponen. Menurut Pangeran Rusdi, Sultan Khairul Saleh tidak akan dengan mudah membangkitkan kesultanan kalau tidak didukung semua pihak terutama kalangan zuriat Kesultanan Banjar. Tidak mudah menemukan sosok yang berani all out menanggung amanah mempertahankan budaya, adat dan tradisi sebagai modal dasar karakter dan identitas bangsa. Termasuk juga tidak akan ringan langkah seseorang yang berani mengambil tugas ini. Sebagai Sultan Banjar, Khairul Saleh harus menarik dan menegakkan sejarah, adat dan tradisi.

Di sisi waktu, perjalanan ini akan sangat panjang dan melelahkan. “Bahkan mungkin ketika kami sudah bukan
lagi bagian dari dunia fana ini, kami tidak akan sempat menikmati hasilnya,” ujarnya. Apalagi dari sisi materi, langkah membangkitkan kesultanan memerlukan sumber daya yang luar biasa besar. Kalau dihitung dari materi langkah ini tidaklah menguntungkan. “Namun seorang Sultan harus membuang jauh-jauh orientasi materi, karena langkah ini adalah langkah menegakkan budaya, adat dan tradisi,” pesan Pangeran Rusdi.

Kesultanan adalah pelindung, pengayom dan mengangkat harkat martabat masyarakat Banjar. Hal ini juga mimpi dan keinginan warga Banjar di perantauan. Belum genap satu tahun Kesultanan Banjar dibentuk, Raja Muda dan LAKKB sudah banyak melakukan kerja budaya seperti diamanatkan Musyawarah Tinggi Adat 24 Juli 2010 yang lalu. Pangeran Rusdi pun menceritakan hingga kini banyak undangan dari Urang Banjar di perantauan kepada kesultanan, seperti Malaysia, Belanda, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan banyak lagi. “Kesultanan tidak saja sebagai simbol budaya tetapi juga simbol pemersatu masyarakat Banjar di mana saja berada,” kata Pangeran Rusdi bersemangat.