Sejarah Banjar, Tulisan Budaya

Pengembangan Kawasan Candi Agung Amuntai

96

Kawasan Candi Agung berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya kota Amuntai. Pada saat ditemukan telah mengalami degradasi fisik, fungsi peranan dan kualitas visual kawasannya. Hulu Sungai Utara memiliki 10 Kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 222.314 jiwa (data tahun 2015) dan jumlah desa sebanyak 216 desa.

Kawasan bersejarah Candi Agung di kota Amuntai sempat mengalami kerusakan karena dimakan usia dan kehilangan identitasnya. Berbagai usaha sudah dilakukan pemerintah Kabupaten HSU untuk mengembalikan fungsi dan kondisi fisik kawasan. Apabila pemerintah kabupaten mampu mencermati lebih jauh maka pengembangan kawasan ini akan bisa diintegrasikan dengan pembangunan di sektorĀ  lainnya seperti transportasi, kebersihan, pertamanan serta penataan bangunan untuk lebih mendukung sektor pariwisata budaya di kawasan ini.

Situs Candi Agung adalah peninggalan dari sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Negaradipa yang dibangun oleh Empu Jatmika sekitar abad 14 Masehi. Dari Kerajaan Negaradipa ini inilah yang berlanjut kepada lahirnya Kerajaan Negaradaha sampai kepada Kesultanan Banjar yang berpusat pertama kali di Banjarmasin.

Sejak dilakukan penggalian oleh Dirjen Kepurbakalaan pada tahun 1967 dengan menemukan benda-benda situs Kepurbakalaan yang bernilai sejarah dari reruntuhan Kerajaan Negaradipa dan Monumen Candi Agung, maka kepercayaan masyarakat semakin kuat bahwa cerita Kerajaan Negaradipa beserta tokoh legendarisnya memang pernah ada.

Dengan luas area Candi Agung kurang lebih 3,6 Ha dilakukan pemugaran dan pembenahan, maka sejak saat itu komplek Situs Candi Agung tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Kedatangan pengunjung ini terutama meyakini mereka adalah bagian dari keturunan orang-orang Negaradipa atau yang sering disebut dengan istilah tutus. Selain pengunjung atau wisatawan domestik sering tercatat yang berkunjung dari luar daerah Kalimantan bahkan sampai dari mancanegara. Dengan cerita legenda Putri Junjung Buih dan Lambung Mangkurat sebagai daya tarik utama, kawasan ini bisa lebih dikembangkan sebagai objek wisata andalan dari Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Potensi Kawasan

  • Kawasan memiliki keterkaitan terhadap sistem pembangunan perkotaan dari segi fungsi, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, wisata dan pemukiman.
  • Kawasan Candi Agung terintegrasi terhadap sistem pembangunan kota dari aspek sarana, prasarana, utilitas, transportasi dan permeabilitas ruang baik di darat maupun air.
  • Kawasan perencanaan mempunyai potensi untuk pengembangan ekonomi lokal yang dapat dilakukan melalui kegiatan perencanaan penataan dan revitalisasi kawasan dengan cara mengemas potensi-potensi ekonomi yang ada di Amuntai sebagai pendukung kegiatan pariwisata seperti, kerajinan rotan yang berupa lampit, anyaman, alat produksi pertanian dan rumah tangga, furniture. Disamping itu kawasan Candi Agung bisa dijadikan pusat event kegiatan budaya setempat.

Masalah Kawasan

  • Pemanfaatan dan penataan lahan kurang optimal
  • Pembangunan bersifat spontan (spontaneous grow) karena tidak memiliki skenario perencanaan dan penataan kawasan.
  • Tourism path belum terstruktur.
  • Sistem transportasi belum dikelola menyeluruh.
  • Penataan PKL belum terkelola dengan baik.
  • Kurang jelas pengarah jalan menuju kawasan wisata dan kurang memberi kenyamanan bagi wisatawan dari luar daerah.

Konsep Pengembangan Kawasan

  • Penciptaan ruang publik melalui perencaaan dan penataan beberapa ruang kawasan terbuka seperti pelataran dan taman.
  • Ruang terbuka dirancang sebagai background dari bangunan-bangunan yang berperan sebagai objek dari ruang kawasan.
  • Pengembangan river front area.
  • Penciptaan natural mall untuk pengelolaan PKL di kawasan Candi Agung.
  • Penghancuran pagar yang membatasi bangunan.
  • Tipologi rumah panggung tradisional di tepi sungai digunakan sebagai contoh untuk penataan dan perencaan bangunan di dalam kawasan.

Manfaat yang bisa dicapai

  • Meningkatnya kualitas lingkungan yang dapat mengembalikan fungsi ekologis dan memberikan peluang bagi berkembangnya kegiatan sosial ekonomi masyarakat, melalui penyediaan sarana dan prasarana lingkungan, perangkat jalan dan ruang-ruang usaha dan publik yang nyaman dan memadai.
  • Meningkatnya kegiatan ekonomi kawasan dengan penyediaan ruang-ruang aman, nyaman, dan berkualitas dan sebagai tempat rekreasi di sekitar kawasan.
  • Melestarikan peninggalan sejarah yang mempunyai arti penting bagi kelestarian budaya Bangsa.