Kesultanan Banjar, Sejarah Banjar

Lambang Kesultanan Banjar

342

Historis Lambang Kesultanan Banjar

Sebuah lambang kesultanan, kerajaan maupun negara-negara modern saat ini memiliki nilai historis dan filosofis yang berangkat dari nilai-nilai kultural dan nilai-nilai perjuangan masyarakatnya. Hal ini mencerminkan bahwa sebuah lambang kerajaan atau negara memiliki ikatan emosional dan politis bagi kepentingan kerajaan, negara dan masyarakatnya.

Kesultanan Banjar yang dibangkitkan pada abad sekarang tepatnya 6 Desember 2010 miladiah atau 10 Muharam 1432 H sejak dihapuskan secara sepihak oleh kolonialis Belanda tahun 1860 adalah sebuah kerajaan besar di kawasan Kalimantan memiliki simbol kerajaan, panji-panji dan perangkat pemerintahan yang lengkap pada zamannya. Simbol dan panji kerajaan mengalami perubahan sesuai dengan Sultan yang berkuasa pada periode tertentu tanpa memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini bisa dilihat pada cap-cap Kesultanan Banjar maupun simbol pada panji-panji perang Kesultanan Banjar.

Demikian pula simbol atau lambang Kesultanan Banjar di era Sultan Khairul Saleh sekarang. Simbol atau Lambang Kesultanan Banjar berangkat dari nilai-nilai masyarakat Banjar yang diidentifikasi sebagai bagian dari rumpun Melayu dengan melihat aspek bahasa, mengamalkan adat istiada Melayu dan berkeyakinan Islam telah menjustifikasi penerimaan masyarakatnya mengidentifikasikan sebagai rumpun dengan sebutan Melayu Banjar sehingga ciri-ciri penting pada Kesultanan Banjar hampir sama dengan Kesultanan Melayu Nusantara lainnya. Sebagaimana simbol dan panji-panji, hukum-hukum Kesultanan serta persuratan-persuratan yang mencirikan aspek-aspek bahasa, adat istiadat dan Islam pada masa lalu.

Itulah sebabnya warna kuning sebagai warna keagungan, keramat yang memiliki nilai kharismatik bagi masyarakat Melayu Banjar menjadi dominan menghiasi pewarnaan kerajaan. Warna kuning juga diambil karena memiliki nilai bagi masyarakat Banjar dalam mengadaptasi dan menginterpretasi kehidupannya khususnya simbol keramat dan keagungan. Demikian pula dengan teks-teks pada simbol menggunakan aksara Arab Melayu, ungkapan dan pituah yang beranjak dari nilai adat istiadat masyarakat, termasuk simbol-simbol yang berhubungan dengan flora dan fauna alam sekitar serta tafsir-tafsir ajaran Islam adalah kesatuan yang integral dalam pemaknaan lambang Kesultanan Banjar.

Makna Warna

  • Warna Kuning merupakan warna yang mendominasi sebagai identitas Melayu Banjar yang dilambangkan sebagai keagungan dan keramat yang juga mencerminkan kedudukan pemakai dan penggunanya. Warna kuning ini mengarah kepada kuning keemasan sebagaimana kemuliaan dan kejayaan.
  • Warna Cokelat yang melintas diantara goresan pola lambang menunjukkan kedamaian dan kebijaksanaan Sultan dan para pembesar serta rakyatnya dalam setiap perbuatan dan perkataan.
  • Warna Merah menunjukkan ketegasan dan keberanian kesultanan dalam menegakkan hukum amar ma’ruf nahi munkar.
  • Warna Hijau dimaknai kehidupan alam yang lestari, sejahtera dambaan masyarakat Banjar sepanjang masa.

Makna Simbol

Bintang dan Bulan Sabit diartikan sebagai keislaman yakni Allah semata-mata Tuhan semesta alam yang disembah oleh Sultan dan Rakyatnya, dimana segala hukum syara dan adat berpijak pada firmanNya. Inilah yang menjadikan dasar/asas ideologi Kesultanan Banjar yaitu Melayu Islam.

Telabang diartikan sebagai perisai Kesultanan Banjar yang berpedoman pada Rukun Islam dan Rukun Iman dimana perisai menunjukkan di bagian atas runcing lima dan digabung dengan bagian bawah menjadi runcing 6.

Pita Merah Putih bermakna Kesultanan Banjar merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berada dalam lindungan Undang-Undang atau Peraturan yang berlaku di dalamnya.

Payung bermakna Kesultanan Banjar sebagai pelindung dan pelestari budaya dan adat istiadat Banjar serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Payung juga bisa bermakna menaungi yang berada di bawahnya dari berbagai unsur luar yang bisa mengganggu.

Keris dan Tombak mempunyai makna Kesultanan Banjar yang bertuah dan melindungi segala kedaulatan dan rakyatnya. Tuah berarti memberikan manfaat yang luas bagi orang yang memakainya sehingga tuah dari Kesultanan Banjar diharapkan selalu memberi manfaat bagi rakyatnya.

Ular Naga merupakan simbol kebijaksanaan Sultan, dimana simbol ini kegemaran Sultan Adam Al Watsikbillah hingga dijadikan tatahan ukiran pada gagang keris kesayangannya. Ular Naga merupakan makhluk mitologi yang terkuat karena memiliki kemampuan hidup di air, darat dan terbang di udara.

Padi merupakan pencapaian kesejahteraan masyarakat Kesultanan Banjar. Bahan makanan pokok yang selalu tercukupi bisa diartikan sebagai simbol kesejahteraan bersama. Selain lambang makanan pokok, padi yang terhampar luas dan menguning bisa diartikan sebagai hasil kerja keras rakyat.

Macan pada posisi kanan dan kiri adalah simbol penjaga dan pengawal budaya dan adat istiadat Banjar. Macan adalah salah satu makhluk mitologi yang ada di sekitar pegunungan Meratus. Macan ini akan muncul apabila ada hal pamali atau pantangan yang dilanggar oleh masyarakat sekitar.

Kembang Melati adalah bunga putih yang melambangkan kesucian, keanggunan yang sederhana dan ketulusan. Dalam konteks Kesultanan Banjar yang kental budaya Melayu dan Islam, Bunga Melati ini merupakan simbol ketawadduwan bagi Sultan kepada rakyatnya sehingga bisa membangun bersama-sama.

Teks tahun 1431 H merupakan penegasan tahun dibangkitkannya kembali Kesultanan Banjar dalam hitungan penanggalan Islam tahun hijriah setelah pada tahun 1860 dihapuskan sepihak oleh pemerintah kolonial Belanda. Kebangkitan kembali ini dipimpin oleh Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah.

Teks Arab Melayu: Baiman, Bauntung, Batuah. Sebuah ungkapan masyarakat Banjar dalam impian pencapaian hidup selalu dalam naungan iman, mendapatkan keberuntungan atau kesejahteraan bagi diri sendiri dan bertuah bagi agama, keluarga dan kesultanan.