Upaya Sultan Haji Khairul Saleh merangkai kembali rekam jejak berbagai peninggalan Kesultanan Banjar, khususnya budaya Banjar patut diacungi jempol.

Sultan Khairul Saleh bahkan harus melakukan napak tilas hingga ke Belanda guna menautkan kembali berbagai peninggalan leluhurnya yang banyak tersimpan di negara bekas penjajah tersebut.

Sebenarnya, tidak hanya Kesultanan Banjar. Banyak peninggalan bekas kerajaan-kerajaan di Nusantara yang tersimpan di Belanda. Benda-benda maupun surat-surat berhaga bernilai sejarah tinggi itu berada di sana karena dibawa oleh orang-orang Belanda ketika mereka menjadi penguasa di Bumi Pertiwi. Tidak heran kalau kemudian banyak mahasiswa atau peneliti sejarah kita yang terpaksa ‘belajar’ dan mencari referensi berbagai dokumen penting maupun artefak tentang Indonesia masa silam ke negara yang luasnya hampir sama dengan Pulau Jawa itu.

Berbagai peninggalan Kesultanan Banjar yang memiliki nilai sejarah tinggi, tersimpan rapi di berbagai museum milik pemerintah Belanda. Tidak salah memang, Sultan Khairul Saleh, akhir Mei lalu melakukan napak tilas sejarah Banjar ke sana. Dia sengaja membawa rombongan dari Banjar di antaranya mantan Gubernur Kalsel HM Said, Hakim Agung Dr. Abdurrahman, Ketua Yayasan Sultan Adam Pangeran H. Rusdi Effendi AR, dan akademisi Hadin Muhjad serta Taufik Arbain menemui berbagai pihak berkompeten terkait kesejarahan Banjar. Di antaranya Dr. Jan Donner, Direktur Royal Tropical Institute. Dalam pertemuan di Troppen Museum, Rotterdam, Belanda, Dr. Donner memberikan apresiasi tinggi atas upaya Khairul Saleh mengumpulkan data dan dokumen serta benda-benda bersejarah Kesultanan Banjar tempo dulu. Donner yang juga Presiden Troppen Museum sangat terkesan terhadap kerabat kesultanan yang memiliki atensi tinggi melestarikan nilai-nilai luhur budaya leluhurnya.

Keceriaan menyaput wajah Sultan Khairul Saleh dan rombongan. Pasalnya, dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban selama 2,5 jam itu Donner menyatakan kesiapannya membantu mengomunikasikan dengan museum bersejarah Belanda lainnya. “Alhamdulillah Dr. Donner siap membantu kita mengomunikasikan dengan museum bersejarah Belanda lainnya,” ujar Khairul Saleh usai pertemuan. Yang menarik, Sultan Khairul Saleh dan rombongan dibuat terkesan karena bisa melihat langsung dokumen berupa benda-benda dan foto-foto bersejarah Kesultanan Banjar. Tidak sampai di situ, rombongan dari Kalimantan Selatan itu juga dibuat takjub dan terharu menyaksikan tayangan film tentang Kota Martapura masa silam yang dipandu Pim Westerkam dari Curator Cultur and History of Southeast Asia Royal Tropical Institute.

Benda-benda bersejarah yang ditampilkan lewat film itu selama ini tidak pernah diketahui oleh masyarakat di Kalimantan Selatan. Khususnya foto-foto yang mengisahkan Martapura tempo dulu. “Kita semua terkejut bercampur haru karena foto-foto dan benda bersejarah yang ditampilkan banyak yang belum diketahui masyarakat di Banua, terutama foto-foto bersejarah Martapura Tempo dulu, ucap Sultan Khairul Saleh.

 

Sebagai wujud penghargaan atas kunjungan tersebut, pihak Tropen Museum memberikan sebuah flashdisk berisi foto-foto bersejarah di Martapura. Sultan Khairul Saleh tak mau ketinggalan memberikan dua buah keris dari Kesultanan Banjar sebagai bentuk tali ikatan emosional kepada Presiden Troppen Museum Dr. Jann Donner dan Pim Westerkamp. Ada banyak kesan menarik dan nilai-nilai positif yang diperoleh Khairul Saleh dalam lawatannya ke Negara Kincir Angin tersebut. Selain melakukan napak tilas sejarah, juga membawa misi budaya dan dagang dalam acara Tong Tong Fair yang mendapat sambutan positif dari masyarakat Belanda.

Minister Counsellor econom/HOC Kedutaan Besar Repulik Indonesia di Belanda Henk E Saroinson tak menduga misi Sultan Khairul Saleh mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Belanda. Terlebih secara pribadi mengaku kagum terhadap keuletan Sultan Khairul Saleh dalam usahanya melestarikan nilai-nilai budaya leluhur keraton. Terang-terangan tanpa basabasi Saroingsong mengatakan, “Kami sangat bahagia bisa bertemu langsung seorang Raja Muda bernama Pangeran H. Khairul Saleh. Keteguhan melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat leluhur seperti ini patut mendapat dukungan luas masyarakat.”

“Kita berharap dari lawatan itu, semakin memperat tali silaturahmi kekerabatan antara kerabat kesultanan di Banjar dengan mereka yang ada di seberang lautan,” tutur Sultan Khairul Saleh yang mengaku gembira karena misi budaya dan dagangnya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Undangan dari Kedubes RI dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan itu merupakan sebuah kehormatan bagi Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar. Pasalnya, sepanjang sejarah sejak Kesultanan Banjar dihapuskan pemerintah Belanda 9 Juni 1860, tidak pernah ada undangan seperti ini. “Kesultanan Banjar secara yuridis dihapus oleh Belanda. Alhamdulillah melalui Peraturan Pemerintah No 39 Tahun 2007. Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar diberi kesempatan bangkit untuk terus melestarikan budaya leluhur Kesultanan Banjar,” kata Sultan Khairul Saleh.

Dia berharap pemerintah akan terus berpartisipasi membantu program-program pelestarian budaya adat keraton. “Bagaimanapun, sejarah bangsa tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para raja/sultan tempo dulu dalam membantu perjuangan kemerdekaan RI,” imbuh dia.

Lawatan historis Sultan Haji Khairul Saleh didampingi sejumlah tokoh Kalsel ke Belanda, 25 Mei 2011, antara lain mengunjungi Royal Tropical Institute mendapat apresiasi pihak museum sejarah Belanda. Royal Tropical Insitute menyerahkan dokumen foto sejarah Martapura Tempo Dulu dalam bentuk sebuah flasdisk.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.