Kesultanan Banjar Hadiri Acara Manyanggar Banua

 

 

Manyanggar Banua atau yang bisa juga disebut Babunga Tahun adalah ritual ada yang dilakukan keturunan Datu Taruna dari Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Acara adat ini bertujuan sebagai ritual permohonan keselamatan desa dari berbagai bencana.

Datu Taruna dikenal sebagai salah satu Astaprana atau seniman ahli musik yang ada di zaman Kerajaan Negara Daha. Kerajaan Negara Daha merupakan kerajaan turunan dari Negara Dipa, kerajaan pertama yang ada di bagian selatan Kalimantan. Kerajaan Negara Daha ini kemudian melalui sebuah fase perang saudara sehingga menjadi Kerajaan Banjar dan akhirnya sebagai Kesultanan Banjar setelah rajanya Pangeran Samudera masuk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.

Pada sekitar abad ke-14, Datu Taruna membuka sebuah perkampungan bernama Barikin. Di desa ini seringkali menjadi persinggahan para abdi kerajaan sebelum melanjutkan ke tujuan lain. Di Desa Barikin ini memiliki keunikan yaitu hampir seluruh warganya bisa memainkan kesenian tradisional Banjar berupa alat musik, tarian, atau kesenian Wayang.

Salah satu keturunan Datu Taruna adalah AW Syarbaini (alm) yang bergelar Datu Astaprana Hikmadiraja (DAH) Kesultanan Banjar. Anak keturunan dari almarhum DAH AW Syarbaini sampai saat ini terus berjuang melanjutkan tradisi kesenian asli Banjar.

Kesultanan Banjar pada acara Manyanggar Banua tahun ini mendapat undangan khusus dari keturunan Datu Syarbai di Desa Barikin yaitu Masdulhak yang juga merupakan ketua panitia acara Manyanggar Banua. Berdasarkan titah YM Sultan Haji Khairul Saleh maka yang bertugas menghadiri Kesultanan Banjar adalah Pangeran Nooryakin dan Datu Mangku Adat Sirajul Huda, Pangeran Muhammad Natsir (Adipati Barabai) dan Gusti Rohaimi (Adipati Kandangan).

Pangeran Nooryakin dalam sambutannya mewakili Sultan Banjar berharap acara adat yang dilakukan tiap tahun ini bisa terus berlanjut dengan bersinergi antara juriat Datu Taruna, Kesultanan Banjar dan Pemkab HST sehingga bisa menjadi event wisata yang menarik minat banyak wisatawan.

Acara hari pertama dibuka dengan persembahan 41 macam kue tradisional Banjar dan hidangan lainnya yang dikawal oleh pembawa Keris Nagarunting dan Tombak Ambulung, diiringi oleh sebagian besar juriat Datu Taruna membawa dupa harum-haruman yang diiringi bunyi gamelan khas Banjar. Pada prosesi ini banyak keturunan Datu Taruna yang kesurupan sambil menari-nari dan berteriak. Sesampainya di kolam kuno milik Datu Taruna, seluruh persembahan tadi diberikan kepada masyarakat yang telah lama menunggu kemudian diakhiri dengan acara Tapung Tawar dan mencuci muka memakai air dari kolam. Setelah wajah seluruh juriat dicuci dengan air kolam maka yang kesurupan tadi berangsur-angsur pulih.

Pada malam harinya diadakan acara Wayang Sampir dan keesokan harinya diadakan Baayun Wayang dan Tari Topeng. Setelah itu seluruh rangkaian acara Manyanggar Banua diakhir dengan memulangkan seluruh makhluk gaib yang sebelumnya telah diundang untuk menghadiri Manyanggar Banua.

Leave a Reply

Your email address will not be published.