Adat Mandi Tian Mandaring

 

Urang Banjar dalam upacara daur hidupnya sangat memuliakan para calon ibu yang akan melahirkan. Proses penyambutan kepada anak calon penerus keturunan ini bermacam-macam, diantaranya adalah adat mandi tian mandaring. Maksud dari mandi ini adalah untuk seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil.

 

Kesultanan Banjar dalam upaya melestarikan adat Banjar telah melaksanakan Upacara Adat Mandi Tian Mandaring pada Sabtu 5 Desember 2015 tadi. Adat mandi ini langsung diikuti oleh Puteri Halida Rahmawati yang merupakan menantu YM Sultan Haji Khairul Saleh. Sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan akan keselamatan untuk calon ibu dan bayi dalam kandungannya, Ibunda Ratu Raudatul Jannah langsung memimpin dalam persiapan upacara adat ini.

 

Acara dimulai dengan membaca ayat suci Alquran di dalam rumah. Ayat suci surah Yusuf dan surah Maryam pertama dibaca oleh Putri Halida kemudian dilanjutkan oleh Qoriah sampai selesai. Prosesi ini dimaksudkan agar selama kehamilan calon ibu memperbanyak bacaan Alquran serta nantinya diharapkan akan menurunkan kecerdasan dan ketaqwaannya kepada anaknya kelak.

 

Puteri Halida dalam prosesi pertama ini memakai baju berwarna kuning. Menurut adat Banjar warna kuning melambangkan keagungan kedudukan, kesehatan dan keamanan serta kegembiraan. Warna kuning ini juga melambangkan kehidupan Urang Banjar yang penuh arti dan tujuan serta berlimpah ilmu pengetahuan.

 

Waktu yang dianggap paling baik saat melaksanakan Mandi Tian Mandaring ini adalah siang hari setelah matahari turun. Makna yang terkandung adalah agar calon ibu mendapat kemudahan dalam proses melahirkan. Ibarat tenangnya matahari turun menyambut sejuknya malam. Anak yang dilahirkan pun diharapkan mendapat ketenangan dan kesejukan, murah rejeki dan berbakti kepada keluarga serta berguna kepada masyarakat banyak.

 

turun ke balai

 

Prosesi selanjutnya Puteri Halida turun ke balai pemandian didampingi oleh Ratu Raudatul Jannah dan Ibu Shofia L Rachman diiringi dua Galuh sebagai dayang dan rombongan undangan. Diantara para Tetuha yang hadir terlihat Datu Mangku Adat  Ibu Yurliani Djohansyah, yang akan ikut bertugas menyiramkan air kepada Puteri Halida di dalam balai pemandian.

 

Balai pemandian ini dinamakan pagar mayang, karena sekeliling balai dihias dengan mayang atau bunga pinang dan kembang barenteng. Hiasan lainnya adalah anyaman pucuk terutama berbentuk rantai dan halilipan dibatasi dengan tingkat lawai kuning pada ketiga sisi balai untuk menggantungkan pisang, kue cincin, cucur dan lainnya. pada bagian depan balai dihias dengan batang manisan, anyaman daun pucuk, daun penolak bala serta setandan atau sesisir pisang. Anyaman daun pucuk antara lain berbentuk payung, kambang sarai, keris, burung, buah pinang, sindad atau lainnya, sedikitnya tujuh macam. daun tolak bala linjuang dan macam-macam daun kambat.

 

siram tetuha

 

Prosesi penyiraman saat mandi dilakukan oleh para tetuha perempuan, hal ini dianggap sebagai orang yang telah banyak makan asam garam kehidupan sehingga diharapkan calon ibu akan mendapat ilmu dari pengalaman hidup mereka.

 

Urutan penyiraman ini dimulai dari keramas, berlulur, kemudian dibilas. Semua gerakan dimulai dari bagian tubuh sebelah kanan kemudian ke sebelah kiri secara berurutan oleh para tetuha. Calon ibu yang dimandikan duduk di atas sebuah gong besar, kiasan duduk di atas gong ini adalah berasal dari cerita Pangeran Suryanata yang keluar dari dalam laut duduk di atas gong seolah terlahir kembali dengan bentuk tubuh yang sempurna.

 

siram ibu

 

Prosesi penyiraman ini akan diakhiri dengan memukul mayang yang sebelumnya dipakai menyiram, apabila mayang yang dipukul telah terbuka maka diharapkan calon ibu yang akan melahirkan mendapat kemudahan dalam prosesnya.

 

Puteri Halida yang telah menjalani semua prosesi penyiraman akan mengakhiri rangkaian acara di balai pemandian dengan berganti pakaian kering kemudian keluar sambil menginjak kuantan sampai pecah. Sebelumnya telah disematkan dua batang mayang ke kedua telinganya dan meminum air kelapa muda. Ibu tetuha akan mencelupkan sekali lagi mayang yang terurai kemudian memercikkan ke seluruh penjuru atau undangan yang hadir dengan harapan semuanya mendapat berkah.

 

Prosesi selanjutnya adalah kembali ke dalam rumah. Puteri Halida diiringi oleh kedua Ibunda dan dayang beserta para undangan memasuki rumah dengan disambut solawat Nabi. Setelah Putri Halida memasuki rumah akan langsung menuju kamar untuk berganti pakaian yang lain.

 

Selanjutnya akan kita lihat calon ibu berganti pakaian menjadi pakaian muslim berwarna hijau. warna ini dalam adat banjar sebagai lambang kehidupan karena dianggap mewakili warna bumi yang penuh dengan keajaiban, kesuburan dan pertumbuhan, kesuksesan materi, pembaharuan dan daya tahan, keseimbangan dan persahabatan. Segala perlambang ini mengisyaratkan suasana hati keluarga yang penuh rasa syukur dan suka cita telah siap menyambut kedatangan hamba Allah sebagai anggota baru keluarga.

 

Setelah Puteri Halida kembali duduk di pelaminan dalam rumah maka prosesi dilanjutkan dengan membaca surah Yasin oleh seluruh hadirin. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi berhias yang dilakukan oleh kedua Ibunda kepada Puteri Halida. Prosesi bahias ini biasanya dilakukan para tetuha kepada calon ibu dengan tujuan untuk mempercantik calon ibu. bahias dilakukan dengan memberikan pupur atau bedak dan menghias mata dengan celak kepada calon ibu. Seorang ibu yang sedang menghias anaknya akan berupaya memberikan hasil yang terbaik, setiap belaian hiasan diberikan kasih sayang yang tulus dan doa. perlakuan ini dengan harapan anak yang akan dilahirkan kelak mewarisi sifat baik hati dan rupawan.

 

suapan

 

Setelah berhias selesai Puteri Halida akan melakukan prosesi bersujud kepada kedua Ibunda sebagai lambang bakti dan dilanjutkan dengan acara saling menyuapkan makanan. Prosesi bersujud ini mengandung pelajaran akan wujud bakti anak kepada ibu dan pembelajaran sejak usia kandungan kepada jabang bayi agar kelak mengikuti jejak orang-orang yang berbakti kepada orang tua dan menjadi anak yang saleh atau salehah.

 

Rangkaian proses ini diakhiri dengan penyerah piduduk kepada bidan yang hadir kemudian ditutup doa untuk keselamatan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.