PERINGATAN WAFATNYA PANGERAN ANTASARI

Pangeran Antasari menjadi sadar dan tak terasa mengucap:

” . . . la haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim, dengan seluruh perasaan kerendahan hati sesungguhnya tidak ada yang kuasa kecuali Allah Yang Maha Tinggi Maha Besar. Mengapa aku lalu menjadi hirau akan hal-hal yang semacam ini ? menyesali kelemahan diri”

“Tidak..” bantahnya sendiri.

“Pada saat-saat semacam ini kecemasan tidak seharusnya bermukim dalam hati.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang harus terjadi atas diri hambaNya” ucapnya tawakkal.

Sementara itu sayup-sayup terdengar suara azan lambat-lambat, makin lama makin jelas karena keheningan ruangan. Kelimanya mengikuti dengan khusuk sampai akhir.

“kukira sudah waktunya magrib” kata Pangeran Antasari.

“Marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah Subhanahu wataala bagi keselamatan perjuangan, Agama dan Rakyat kita. Dan semoga arwah para syuhada diberiNya kelapangan di alam barzah…Mari !” ia bangkit dan berdiri dibantu Gusti Mat Said.

Yang lain ikut berdiri. Ketika Gusti Mat Seman meminta ayahnya untuk dipapah, ia ditolak dengan gelengan halus. Pangeran Antasari menguatkan dirinya berjalan, pelan tetapi anggun-agung. Keempatnya mengikuti; Kiai Demang Lehman membawa pula serta tombaknya.

Pada tanggal 11 Oktober 1862 terdengar kabar Pangeran Antasari wafat di Bayan Begok, Hulu Teweh. Seorang Pahlawan telah berlalu. Namun api semangatnya, perjuangannya, jihadnya terus tetap diwarisi dan dilanjutkan anak cucunya, pengikut-pengikutnya.

– – – adegan terakhir Pangeran Antasari sebelum kabar kematian beliau, dikutip dari novel Antasari (Balai Pustaka,1971) dikarang oleh Datu Cendikia Hikmadiraja Kesultanan Banjar, Prof Helius Sjamsudin – – –

pangeran antasari

Pangeran Antasari bernama asli Gusti Inu Kertapati. Dia adalah anak Pangeran Masuhud, cucu Pangeran Amir, Gusti Inu yang diperkirakan lahir awal tahun 1800 adalah saudara semisan dengan Pangeran Hidayatullah. Ibunya Gusti Khadijah adalah Putri Sultan Sulaiman. (Sultan Sulaiman mempunyai putra bernama Pangeran Singosari yang kemudian mempunyai anak Pangeran Abubakar. Dari Pangeran Abubakar memiliki anak Pangeran Umar yang kemudian mempunyai anak Pangeran Jumri. Dari Pangeran Jumri ini kemudian memiliki anak bernama Pangeran Khairul Saleh yang dinobatkan menjadi Sultan Banjar pada tahun 2010).

 

Kepahlawanan Pangeran Antasari dapat dilihat dari banyak hal. Dia adalah satu dari sejumlah pejuang Perang Banjar yang tidak kenal menyerah dan berkompromi dengan penjajah. Semboyannya yang terkenal adalah “Haram manyarah, waja sampai ka puting“. Semboyan ini sangat monumental hingga sekarang. Semboyan ini tercetus pertama kali bersama Pangeran Hidayatullah saat pertemuan para pejuang di Kandangan diantaranya disaksikan oleh Demang Lehman.

 

Semboyan lainnya ” jangan bacakut papadaan ” mencerminkan Pangeran Antasari ingin sekali agar bangsa Banjar bersatu. Pangeran Antasari memimpin peperangan tanggal 28 April 1859 yang menandai meletusnya Perang Banjar. Saat itu Pangeran Antasari mengerahkan 3000-an pasukan bersama Datu Aling, Pembakal Ali Akbar, Mantri Taming Yudha, Punakawan Sultan Kuning dan lain-lain menyerbu Benteng Belanda Oranye Nassau Pengaron.

 

Karena kemampuan beliau memimpin peperangan, para ulama dan rakyat tidak ragu mengangkat Antasari sebagai Sultan dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Di situ diikrarkan prinsip teguh yaitu ” Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah “. Menurut Datu Mangku Adat Syamsiar Seman penobatan Pangeran Antasari dengan gelar di atas dilakukan pada tanggal 13 Ramadhan 1278 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1862. Rakyat yang memberikan kepercayaan kepadanya adalah di daerah Barito, Sihong, Murung,Teweh, Kapuas, Kahayan dan Dusun Hulu.

 

Pangeran Antasari pemimpin perang yang kharismatik, beliau mampu mengkonsolidasikan perjuangan, baik di kawasan Martapura, kemudian Banua Lima dan Hulu Sungai, hingga ke hulu Sungai Barito. Tentara yang digunakan oleh Pangeran Antasari untuk penyerbuan Benteng Oranye Nassau itu berhasil dihimpun oleh Datu Aling yang sangat disegani di masyarakat sebagai tokoh dan jawara di daerah Muning, Tapin. Datu Aling yang terkenal sakti di masyarakat, kagum terhadap pribadi dan kharisma Pangeran Antasari sehingga bersedia menjadi pengikut Antasari yang setia.

 

Pangeran Antasari juga berhasil melakukan pendekatan kepada sejumlah pimpinan dan masyarakat Dayak, sehingga mereka ikut terlibat dalam Perang Banjar Barito dan sangat besar jasa mereka dalam memerangi penjajah Belanda. Tokoh Dayak Bakumpai yang mendukung perjuangan Pangeran Antasari diantaranya Demang Kendet, Panglima Wangkang, Panglima Bantaur, Panglima Odi dan Samauddin (Ronggo Niti Negara). Seiring dengan perjuangan Pangeran Antasari terjadi akulturasi dan asimilasi melalui perkawinan antara anak/cucu keturunannya dengan etnis Dayak, sehingga antara Banjar dan Dayak menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

 

Pangeran Antasari tidak dapat dibujuk dengan cara apapun, dan beliau juga tidak mau menyerah. Karena itu Belanda akhirnya juga putus asa dan menegaskan orang semacam Antasari yang dinilai keras kepala itu tidak lagi diampuni. Orang-orang yang tidak mendapat pengampunan dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda meliputi Pangeran Antasari dengan anak-anaknya, Demang Lehman, Aminullah (Amin Oellah), Tumenggung Surapati dengan anak-anaknya, Kiai Djaya Lalana, Gusti Kassan dengan anak-anaknya.

 

Setelah sekian lama aktif berperang secara fisik dalam berbagai medan pertempuran, kalah dan menang silih berganti kondisi Pangeran Antasari sudah tidak lagi prima. Apalagi saat perang meletus usia beliau relatif tua, hampir 60 tahun. Beliau sering sakit-sakitan tetapi tidak pernah mau berunding atau pun menyerah kepada Belanda. Beliau akhirnya wafat karena sakit pada tanggal 11 Oktober 1862, dimakamkan di Kampung Sampirang Bayan Begak, Puruk Cahu.

 

Jenazahnya kemudian dibongkar dan dimakamkan kembali di Banjarmasin pada tanggal 11 November 1958. Masyarakat Dayak yang menyaksikan penggalian kembali makam itu menangis sedih, karena mereka menganggap Pangeran Antasari sebagai Sultan dan pemimpin Dayak juga.

 

Sepuluh tahun kemudian, atas jasa-jasanya dalam Perang Banjar tersebut Pangeran Antasari dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 95/TK/1968 tertanggal 27 Maret 1968. Beliau merupakan Pahlawan Nasional pertama yang berasal dari Banjar. Namanya diabadikan antara lain sebagai nama Korem 101 Antasari, IAIN Antasari, Jalan Antasari, Laskar Antasari, Pasar Antasari, Wisma Antasari dan sebagainya. Bahkan wilayah Kalimantan Selatan juga sering disebut sebagai Bumi Antasari.

Sumber: Ahmad Barjie B (penulis buku Perang Banjar Barito 1859 – 1906)

Leave a Reply

Your email address will not be published.