Bupati Banjar Sultan H Khairul saleh di sambut ramah Panitia Konferensi Internasional Kesusatraan di Gedung Rektorat Unlam Banjarmasin
Bupati Banjar Sultan H Khairul saleh di sambut ramah Panitia Konferensi Internasional Kesusatraan di Gedung Rektorat Unlam Banjarmasin

Ratusan mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan, Kaltim dan Kalbar menyimak serius penyajian karya ilmiah Bupati Banjar Sultan H khairul Saleh berjudul Kesultanan Banjar, Sastra dan Pendidikan  Karakter, di Acara Konfrensi Internasional Kesusastraan, di Gedung  Rektorat Unlam Banjarmasin, Rabu (6/11).

Tampil sebagai keynote speaker, Khairul Saleh memaparkan dengan tutur bahasa  ringan, mulai dari historis kesusatraan Banjar, sastra di era Kesultanan Banjar dan era kesusastraan sekarang.

“Ulun sangat sangat berterima kasih kepada panitia yang mempercayakan sebagai keynote speaker untuk menyampaikan pikiran berkaitan dengan konferensi  internasional dengan tema sastra, budaya dan karakter bangsa,” ucapnya mengawali penyajian seminar.

Menurut Sultan Banjar ini, ada pesan menarik atas kegiatan ini. Pertama tema sangat relevan dalam rangka menjawab tantangan zaman dan globalisasi yang sedemikian dahsyat, di antara masih kuatnya pandangan masyarakat mengenai persoalan sastra seakan persoalan masa lalu, terlebih dikaitkan dengan budaya adat dan tradisi serta pendidikan karakter.

Kedua, kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak sekadar mengumpulkan ragam karya sastra anak bangsa nusantara tetapi lebih jauh ada pesan untuk mendalami apakah sastra mampu menjawab zamannya dalam membangun karakter bangsa.

Dalam seminar yang dihadiri pembicara dari Malaysia dan Brunai Darussalam, Walikota Banjarmasin H Muhidin dan pejabat di lingkungan Unlam, Ketua IKA unlam, H pangeran Rusdi Effendi AR, H Khairul Saleh juga memaparkan karya sastra yang mampu bertahan dan menembus zaman adalah karya sastra yang mengandung nilai-nilai peradaban pandangan hidup untuk membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.

“Lebih-lebih lagi karya sastra itu berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan yang dianut suatu bangsa sebagai penopang esistensinya,” tandasnya.

Sementara sastra di masa Kesultanan Banjar menurut Khairul Saleh, harus diakui masih sedikit karya sastra baik lisan maupun tulisan yang terdokementasi dengan baik. Kesultanan banjar melewati fase kebangkitan ditandai dengan fase transformasi peradaban baru yang diikuti dengan hadirnya pengenalan aksara arab melayu (arab gundul)

“Perpindahan Fase Hindu Budha menuju Fase Islam memberikan perkembangan baru peradaban bangsa Banjar, termasuk interaksinya dengan karya sastra.  Pengenalan arab melayu sebagai penopang adanya interaksi dan penyokong perkembangan karya sastra  melayu di Selatan Borneo saat itu,” ungkapnya.

Dikatakan Khairul Saleh, semarak dakwah Islam berupa seni hadrah, shalawat nabi yang difasilitasi oleh Sultan Hidayatullah I (1579-1595/Sultan 3) bagian dari dinamika perkembangan sastra lisan yang memberikan ruang pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk  berserah diri menjadi Banjar muslim.

Dalam Konfrensi Internasional Kesusatraan bertema Leterature and Nation Character Building, juga dihadirikan nara sumber dari negara tetangga antar lain Prof Dr Nurani Yusoff dari Malaysia, Dr Hj Morsidi HJ Muhammad dari Brunei Darussalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.