Kegiatan Sultan, Kesultanan Banjar

Sultan Khairul Saleh Merajut Zuriat di Nagari Padang, Sumatera Barat

5 19

Gunung Pangilun yang terletak di Nagari Padang, Sumatera Barat ternyata juga menyimpan sejarah kesultanan Banjar karena di puncak gunung Pangilun tersebut Pangeran Syahabuddin di makamkan. Pangeran Syahabuddin anak dari Pangeran Hasir/Hasim (saudara Sultan Adam al-Watsiq Billah) jadi beliau adalah keponakan Sultan Adam al-Watsiq Billah, beliau seorang bangsawan Kesultanan Banjar dan juga seorang yang alim, serta pejuang anti penjajah dimasa penjajahan Belanda.

Karena melawan Belanda dan tidak mau bekerjasama, beIiau meninggalkan Banjar menuju Kota Padang di perkirakan tahun 1860-an pasca dibubarkannya Kesultanan Banjar oleh Penjajah Belanda.

Zuriat Pangeran Syahabuddin sampai sekarang masih ada baik di Banjar maupun di Padang dan lainnya.

SUMBER AWAL KEBERADAAN
Mufti Tuan Guru Besar H. Djazoely Seman atau dipanggil dengan sebutan Abah Anang sebelum meninggal beberapa kali menyampaikan kepada Sultan H. Khairul Saleh agar menziarahi makam Pangeran Syahabudin di Padang.

Cicit dari Pangeran Syahabuddin yaitu Prof. DR. Fihr Syahabuddin, Guru Besar di Universitas Ultrech Belanda, Ahli dalam Study Keislaman Timur Tengah dan Pernah jadi Penasehat Pemerintah Belanda, mengatakan kepada keluarga bahwa Pangeran Syahabuddin di makamkan di atas Gunung Pangilun.

Tuan Guru H. M.Irsyad Zein atau dipanggil Abu Daudi yang mana karya beliau salah satunya menyusun Silsilah keturunan Syeh Arsyad Al Banjari, juga mengatakan bahwa Pangeran Syahabudin dimakamkan di Padang, dan zuriat beliau masih banyak di Padang (di Ranah Minang).

PENCARIAN FAKTA KE PADANG
Tanggal 8 April 2013 Sultan Khairul Saleh bersama Tuan Guru H. M.Irsyad Zein, H. Ahmad Zaini Zein, H. Wildan Amin, H. Syahrialludin, H. Boyke Wahyu T. dan Dwi Aprianto berangkat Ke Padang, Sumatera Barat.

PertamaTim menuju ke Gunung Pangilun, dan berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa pada lokasi Instalasi Pengolahan Air PDAM Kota Padang, ada kuburan tua yang usiannya ratusan tahun. Kemudian Tim menuju lokasi PDAM dan oleh Satpam Tim harus menghadap dengan Manager Produksi untuk mendapat izin berhubung lokasi tersebut tertutup untuk umum. Alhamdulillah berkat niat baik, Tim tidak terlalu lama menunggu dan diterima oleh Manager Produksi Bpk Darwin Z, dan pada kesempatan tersebut Sultan H. Khairul Saleh menyampaikan maksud dan tujuan, kemudian Bpk Darwin Z menginformasikan sbb:

Dilokasi PDAM memang ada tetapi makam Cina dan Turki. Untuk makam Muslimin di Gunung Pangilun, sambil beliau menunjuk gunung yang nampak jelas.

kemudian beliau bercerita yang kebetulan beliau asli Orang Gunung Pengilun, bahwa memang ada makam yang ukurannya cukup panjang satu buah dan ada pohon Pulai yang besar dan tinggi. Berhubung tempat tersebut merupakan lintasan penerbangan maka pohon Pulai tersebut ditebang.

Makam tersebut sampai sekarang tidak ada yang tahu dan tidak ada mengakui baik dari kaum Tanjung, Melayu, Jambak, Caniago, dan Sikumbang. Kelima kaum tersebut masing-masing sudah mempunyai wilayah pemakamam yang terletak dilereng Gunung Pangilun. Diceriterakan juga oleh masyarakat bahwa makam di puncak Gunung Pangilun tersebut dikeramatkan oleh masyarakat dan sering diziarahi.
Berhubung waktu telah menunjukkan jam 16.35 WIB maka tim langsung meluncur menuju lokasi pemukiman warga sekitar gunung Pangilun, untuk mendapatkan informasi kami mampir kewarung  dan disarankan agar, melapor ke RW. Karena keterbatasan tenaga dan waktu maka diputuskan Tim istirahat di hotel. Dan untuk pemanfaatan waktu maka sdr Werdy selaku supir dimintakan untuk mencari rumah RW.
Setelah makan malam, sdr Werdy menyarankan agar Bpk Sultan Khairul Saleh dan Tim berkenan untuk bertemu dengan tokoh masyarakat yaitu Bpk Bakri dengan gelar “Tujuh Rajo Mage” , maka dengan spontan Bpk Sultan Khairul Saleh menyetujui.

Berhubung tugas mulia walaupun waktu menunjukan jam 21.00 WIB dengan semangat tim langsung menuju rumah Bpk Bakri dan ternyata beliau sudah menunggu. Dalam pembicaraan dengan Bpk Bakri, beliau siap membantu naik ke gunung Pangilun beserta anaknya Boy sebagai perintis jalan yang sering naik ke puncak gunung Pangilun di sekitar makam yang tidak dikenal. Dan disarankannya agar perlu di bantu orang pandai, kami setuju dibantu orang pandai yaitu Buyung  Enek dengan gelar Melintang Bumi.

Pada keesokan harinya Bpk Sultan Khairul Saleh dan Tim (H. Wildan Amin, H. Ahmad Zaini Zein, H. Syahrialludin dan H. Boyke Wahyu) serta didampingi oleh Buyung Enek yang dipanggil Engku, Bpk Bakri (selaku Tokoh Masyarakat) dan sdr Boy (selaku perintis jalan) menuju ke Gunung Pangilun dan mulai pendakian pada jam  10.20 WIB.

Gunung Pangilunsecara administrasi pemerintahan berada di wilayah Kelurahan Gunung Pangilun Kecamatan Padang Utara Provinsi Sumatera Barat.

HASIL PENINJAUAN LAPANGAN
Gunung Pangilun mempunyai 3 (tiga) puncak dengan posisi arah Timur-Barat, pada puncak pertama yang menurut cerita ada pohon Pulai tapi sdh ditebang, berhubung lokasi tersebut telah di dozer yang akan dipersiapkan untuk evakuasi perlindungan masyarakat dari bencana Tsunami dan sudah ada sarana tangga dari semen. Dan di lerengnya terdapat makam yang terdiri dari kaum Tanjung, Melayu, Jambak, Caniago, dan Sikumbang, juga ditemui berapa Benteng buatan Jepang yang cukup kokoh.

Puncak kedua dengan vegetasi blukar dan tanaman Pakis, juga terdapat parit yang dibuat oleh Jepang dan tidak ada ditemukan makam sebagaimana pada puncak pertama, tetapi ada tangga dari semen.

Pada puncak ketiga dengan vegetasi berhutan dan kelerengan cukup terjal, dimana salah satu anggota tim (Bpk Boyke Wahyu) kelelahan dan sempat muntah, sehingga diambil keputusan beliau tidak diperkenankan untuk melanjutkan dan ditemani oleh sdr Dwi (Ajudan Bpk Sultan Khairul Saleh). Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menyelusuri kelerengan yang terjal dan cukup panjang sehingga Tim sering berhenti sejenak untuk beristirahat.

Ahirnya dengan perjuangan yang cukup berat tetapi dilaksanakan secara senang hati, Alhamdulillah kami sampai juga di puncak pada jam  11.36 WIB yang cukup datar dan luas serta rindang, disana terdapat 4 makam yaitu 1 makam dengan ukuran lebih kurang 3 (tiga) meter dan ditandai dengan batu (Kepala dan kaki). Bagian Timurnya dari makam tsb terdapat 3 (tiga) makam dengan ukuran biasa juga ditandai dengan  batu.

Masing-masing setelah sampai di makam, kami semua tawajjuh dan berdoa serta meyakini bahwa makam ini adalah yang kami cari yaitu Makam Pangeran Syahabuddin sebagaimana yang disampaikan oleh cicit beliau Prof. DR Fihr Shahabuddin. Serta didukung mayoritas para kaum adat yang keluarganya bermakam di gunung Pangilun tersebut tidak ada yang mengclaim sebagai makam kaum mereka.
Diantara Keistemewaan makam Pangeran Syahabuddin tersebut tidak ditumbuhi oleh semak belukar maupun rerumputan, padahal diluar area sekitar makam tersebut juga jalan yang kami lalui menuju kepuncak makam adalah semak belukar yang berduri. Tim yang mendaki melalui 3 puncak gunung sebelum sampai ke makam tidak merasa lelah.

Setelah kami selesai ziarah , kami beranjak untuk turun ke bawah melalui jalan pintas yang sebelumnya tidak kami lewati, pada jam 12.22 WIB kami sampai di bawah.

Posisi makam tersebut dengan koordinat  0 54′ 50” S    100  22′  8″ T  / 0  54,8403 S  100  22,1355 T / 0,91401  S  100′ 36893    T. Gambar satelit yang akses dari Google Earth (terlampir).

5 Comments

  1. yusda April 19, 2013 at 9:36 am - 

    Terima kasih

  2. uth harang May 20, 2013 at 11:03 am - 

    terima kasih sultan atas perjuangan utk temukan makam. moga berkah,

  3. Yusuf July 11, 2013 at 11:53 pm - 

    Tolong juga dilestarikan, dihidupkan kembali, dibiasakan kembali agar anak cucu rakyat Banjar utk bisa lg menulis dan membaca dgn huruf Hijaiyah. Itulah yg pertama dihancurkan oleh Belanda, diganti dgn ejaan Masehi.

  4. Yahyaponsel July 19, 2013 at 6:49 pm - 

    Subhanallah… Sungguh napak tilas yang gigih… Uln sabagai pamadaman dari kalua, marasa himung di pamadaman ranah minang,, rupanya bubuhan datu juriat pagustian urang Banjar sudah lama ada bagana di ranah Minang. Mudah2an uln bajodoh untuk manjiarahi makam Beliau itu.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *